Bandung — Program beasiswa kerap dipahami semata sebagai instrumen bantuan finansial bagi pelajar dan mahasiswa. Namun, dalam kegiatan resesnya di Kota Bandung, Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Habib Syarief Muhammad, menegaskan bahwa beasiswa sejatinya memiliki peran strategis yang jauh melampaui aspek ekonomi.
Menurut Habib, beasiswa harus diposisikan sebagai bagian integral dari kebijakan pembangunan sumber daya manusia, terutama dalam membentuk karakter, integritas, dan kepemimpinan generasi muda. “Beasiswa bukan hanya soal membiayai pendidikan, tetapi juga tentang menanamkan nilai, etika, dan tanggung jawab sosial kepada penerimanya,” ujar Habib dalam dialog bersama pelajar, mahasiswa, dan pemangku kepentingan pendidikan setempat.

Ia menilai, pendekatan beasiswa yang hanya berorientasi pada angka dan administrasi berisiko menghilangkan dimensi strategis pendidikan nasional. Padahal, di tengah tantangan degradasi nilai, disrupsi digital, dan ketimpangan sosial, pendidikan karakter justru menjadi fondasi utama dalam mencetak sumber daya manusia unggul.
Habib juga menyoroti masih adanya ketimpangan akses terhadap informasi beasiswa, khususnya bagi kelompok masyarakat kurang mampu dan wilayah pinggiran. Kondisi ini, menurutnya, menunjukkan perlunya peran negara yang lebih aktif, tidak hanya sebagai penyedia anggaran, tetapi juga sebagai penjamin keadilan akses dan kualitas pembinaan.
“Negara tidak boleh berhenti pada pemberian bantuan. Harus ada sistem pendampingan, penguatan karakter, dan evaluasi berkelanjutan agar penerima beasiswa tumbuh sebagai insan berilmu sekaligus berakhlak,” kata dia.
Dalam konteks legislasi dan pengawasan, Habib menegaskan Komisi X DPR RI mendorong agar kebijakan beasiswa nasional selaras dengan tujuan pendidikan sebagaimana diamanatkan konstitusi, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa secara utuh intelektual, moral, dan sosial.
Reses tersebut menjadi ruang serap aspirasi sekaligus refleksi atas arah kebijakan pendidikan nasional. Bagi Habib, keberhasilan beasiswa tidak diukur semata dari jumlah penerima, melainkan dari sejauh mana program tersebut mampu melahirkan generasi yang berkarakter, berdaya saing, dan berkomitmen pada kepentingan publik.









