Menu ✖

Mode Gelap
Ahmad Busyairi, Sang Maestro yang Memainkan Simfoni Pengabdian hingga Takdir Menutup Tirai Kehidupan Singgasana di Atas Bara: Dua Warsa Prabowo-Gibran, Runtuhnya Rupiah, dan Amuk Keadilan yang Menagih Janji Di Antara Kalam dan Zaman: Menyemai Nalar Kritis, Menumbuhkan Generasi yang Tak Kehilangan Arah “Habib Syarief: 4 Pilar Bukan Sekadar Materi, Tapi Jalan Menyelamatkan Anak Indonesia” “Saat Polarisasi Menguat, 4 Pilar Didorong Jadi Kompas Moral Bangsa” Di Antara Nafas dan Langkah: Mencari Arah Hidup dalam Cermin Kebermanfaatan

Artikel

Ahmad Busyairi, Sang Maestro yang Memainkan Simfoni Pengabdian hingga Takdir Menutup Tirai Kehidupan

badge-check


					Ahmad Busyairi, Sang Maestro yang Memainkan Simfoni Pengabdian hingga Takdir Menutup Tirai Kehidupan Perbesar

Tulisan ini saya susun bukan sekadar untuk mengenang, melainkan sebagai ikhtiar kecil untuk mengabadikan seseorang yang pernah mengambil tempat begitu istimewa dalam perjalanan hidup saya: Ahmad Busyairi. Sahabat terbaik, sahabat sejati, yang kepergiannya meninggalkan lubang kehilangan begitu dalam, ruang kosong yang bahkan waktu pun belum mampu mengajarkan bagaimana cara mengisinya kembali. Ada begitu banyak manusia yang pernah singgah dalam perjalanan hidup, tetapi hanya segelintir yang meninggalkan jejak sedemikian rupa hingga kepergiannya mengubah cara kita memandang arti sebuah perjumpaan. Buser adalah salah satunya. Ia bukan sekadar nama dalam daftar pertemanan, bukan pula hanya bagian dari fragmen perjalanan organisasi dan intelektual. Ia adalah bagian dari cerita, saksi dari proses, dan kepingan kehidupan yang kini terasa begitu mahal untuk dikenang.

Terus terang, dalam urusan mengikhlaskan, saya masih seorang amatir. Saya masih belajar mengeja kehilangan, masih terbata-bata memahami bahasa perpisahan, dan masih sering kalah oleh ingatan yang menghadirkan kembali sosoknya seolah-olah ia belum benar-benar pergi. Barangkali pikiran telah memahami bahwa kematian adalah ketetapan, tetapi hati selalu memiliki waktu dan bahasanya sendiri untuk menerima kenyataan.

Saya tahu, setiap yang bernyawa pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pemilik Kehidupan. Namun, mengetahui tentang kepulangan tidak serta-merta membuat seseorang mahir merelakan. Sebab, ada kehilangan yang tidak cukup diselesaikan dengan nasihat, ada kerinduan yang tidak menemukan alamat untuk dikirimkan, dan ada persahabatan yang meskipun telah dipisahkan oleh kematian, tetap hidup dalam ruang-ruang paling sunyi di dalam ingatan.

Maka, biarlah tulisan ini menjadi semacam prasasti kecil bagi seorang sahabat. Sebuah cara sederhana untuk mengatakan bahwa engkau pernah ada, pernah berjuang, pernah tertawa, pernah menebarkan manfaat, dan pernah menjadi bagian yang begitu berarti dalam kehidupan kami. Jika kelak ingatan mulai memudar dan waktu perlahan mengaburkan detail perjumpaan, setidaknya tulisan ini akan menjadi saksi bahwa Ahmad Busyairi pernah berjalan di antara kami, membawa cahaya ilmu, semangat perjuangan, dan ketulusan persahabatan.

Sebab, ada manusia yang tidak cukup hanya dikenang melalui nama, tetapi layak diabadikan melalui seluruh kebaikan yang pernah ditinggalkannya.

Ada manusia yang kehadirannya tidak pernah benar-benar selesai, bahkan ketika kematian telah menutup seluruh pintu perjumpaan. Ia pergi meninggalkan dunia, tetapi jejak langkahnya tetap hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah disentuh oleh kebaikan dan ketulusannya. Bagi sebagian orang, ia mungkin hanya seorang sahabat, seorang aktivis, seorang akademisi, atau seseorang yang pernah duduk bersama dalam satu ruang perjuangan. Namun, bagi kami yang pernah berjalan bersamanya, ia adalah bagian dari perjalanan yang terlalu berharga untuk sekadar disebut sebagai kenangan.

Dr. Ahmad Busyairi, M.Pd. adalah salah satu manusia yang pernah Tuhan pertemukan dalam lorong panjang perjalanan intelektual dan pengabdian. Putra dari Bapak H. Yahya, seorang putra Karawang yang membawa kesederhanaan tanah kelahirannya ke tengah hiruk-pikuk kehidupan Kota Bandung. Menempuh pendidikan S1 dan S2 pada Jurusan Pendidikan Bahasa Arab UIN Sunan Gunung Djati Bandung, ia tumbuh sebagai pribadi yang tidak hanya mencintai ilmu, tetapi juga menjadikan ilmu sebagai jalan untuk mengangkat martabat dirinya dan memberi arti bagi kehidupan orang lain.

Sejak menjadi mahasiswa, namanya bukanlah nama yang asing dalam ruang-ruang prestasi. Pidato bahasa Arab menjadi salah satu panggung tempat ia menunjukkan kecakapan dan kecerdasannya. Sertifikat penghargaan yang terkumpul bukan sekadar lembaran administratif, melainkan saksi dari ketekunan seseorang yang tidak pernah berhenti mengasah kemampuan. Ia membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bertumbuh, dan kesederhanaan bukan penghalang untuk mencapai sesuatu yang besar.

Namun, ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada seluruh penghargaan yang pernah ia peroleh: cara ia memperlakukan manusia.

Saya masih mengingat bagaimana perjumpaan kami bermula dalam ruang kaderisasi PMII Rayon Tarbiyah UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tahun 2017, ketika saya mendapat amanah sebagai Ketua Organizing Committee (OC) MAPABA, Ahmad Busyairi hadir sebagai salah satu peserta yang kemudian menapaki jalan panjang pengabdian di organisasi. Dari ruang sederhana itulah, sebuah persahabatan mulai menemukan bentuknya.

Waktu kemudian membawa kami pada banyak perjumpaan, diskusi, perdebatan, perjuangan, dan cerita-cerita kecil yang pada akhirnya menjadi begitu mahal ketika seseorang yang terlibat di dalamnya tidak lagi dapat dijumpai.

Ia kemudian dipercaya menjadi Ketua Rayon PMII Tarbiyah UIN Sunan Gunung Djati Bandung, aktif dalam berbagai ruang gerakan, dan terus menumbuhkan dirinya sebagai kader yang tidak pernah kehilangan semangat pengabdian. Kiprahnya tidak berhenti di PMII. Ia juga menjadi bagian dari keluarga besar IPNU, Ansor, hingga menjalankan amanah sebagai Tenaga Ahli Fraksi PKB DPRD Kota Bandung.

Baginya, organisasi bukan sekadar tempat menyematkan jabatan, apalagi ruang untuk membangun kebanggaan personal. Organisasi adalah sekolah kehidupan, tempat seseorang belajar mengabdi, mengasah kepekaan, memperluas persaudaraan, dan memahami bahwa kebermanfaatan jauh lebih abadi daripada popularitas.

Di luar kesibukannya sebagai mahasiswa dan aktivis, Buser juga pernah menapaki jalan pengabdian sebagai seorang pendidik. Ia pernah mengajar di sekolah dan turut mengabdikan diri di lingkungan pesantren. Ia tidak hanya menjadi seseorang yang tekun mencari ilmu, tetapi juga mengambil bagian dalam mewariskan ilmu kepada generasi berikutnya. Ia pernah berdiri di hadapan para siswa, menyampaikan pengetahuan, mendampingi proses belajar, dan menjadi bagian dari perjalanan pendidikan mereka.

Ada sesuatu yang istimewa dari profesi seorang guru. Ia mungkin tidak selalu menyaksikan sejauh mana benih yang ditanamnya akan tumbuh, tetapi ia tetap berkewajiban menaburkan pengetahuan dengan harapan suatu hari benih itu menjadi pohon yang memberikan keteduhan.

Begitu pula dengan pengabdiannya di pesantren. Di tengah tradisi keilmuan yang menjunjung tinggi adab, ia turut menjadi bagian dari mata rantai pewarisan ilmu. Sebab, pendidikan bukan sekadar urusan memindahkan pengetahuan dari satu kepala ke kepala lainnya, melainkan ikhtiar membentuk manusia agar memiliki keluasan berpikir, kedalaman spiritualitas, dan keluhuran akhlak.

Barangkali ia tidak pernah menghitung berapa banyak siswa yang pernah diajarnya, berapa banyak santri yang pernah didampinginya, atau berapa banyak pikiran yang pernah ia buka melalui pengetahuan. Namun, boleh jadi, justru dari ruang-ruang kelas dan pesantren itulah amal kebaikannya akan terus menemukan jalan untuk hidup.

Sebab, seorang pendidik tidak pernah benar-benar selesai mengajar hanya karena lisannya telah terdiam. Ilmu yang pernah disampaikannya masih mungkin berbicara melalui pikiran murid-muridnya, dan nilai-nilai yang pernah ditanamkannya masih mungkin tumbuh dalam kehidupan orang-orang yang pernah dididiknya.

Ada satu hal yang selalu saya ingat tentangnya: ia adalah manusia yang paling ceria.

Jarang sekali terdengar keluh kesah dari lisannya. Dalam keadaan sesulit apa pun, ia selalu berusaha menghadirkan senyum. Seolah-olah dunia boleh saja sedang tidak ramah kepadanya, tetapi ia tidak ingin ketidakramahan itu menjadi alasan untuk berhenti berbuat baik kepada orang lain.

Ia adalah pribadi yang pandai bertahan. Jauh dari keluarga, jarang pulang ke Karawang, menempuh kehidupan mahasiswa dengan segala keterbatasan, dan terus berjuang menyelesaikan tanggung jawab akademik maupun sosialnya. Barangkali tidak semua orang mengetahui bagaimana ia menyusun kekuatan ketika sedang lelah, bagaimana ia menyembunyikan kegelisahan di balik tawanya, atau bagaimana ia melewati malam-malam panjang ketika kerinduan kepada keluarga hanya bisa disampaikan melalui doa.

Ia tidak banyak bercerita tentang beratnya perjalanan. Ia lebih sering menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja.

Dan mungkin, justru di situlah letak keistimewaannya. Ia tidak ingin menjadikan kesulitannya sebagai beban bagi orang lain.

Rabu, 30 September 2026, pukul 00.30 WIB.

Sebuah kabar datang, membawa kenyataan yang hingga hari ini masih terasa seperti sesuatu yang sulit diterima.

Di RS Ujung Berung, Kota Bandung, Ahmad Busyairi mengembuskan napas terakhirnya. Perjalanan panjang yang selama ini ia tempuh, segala cita-cita yang sedang ia rajut, serta harapan-harapan yang mungkin masih tersimpan dalam benaknya, seketika berhenti pada batas yang tidak pernah bisa ditawar oleh siapa pun: ajal.

Ia meninggalkan dunia ketika sedang mengenyam pendidikan doktoral (S3) Pendidikan Bahasa Arab di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, melalui Program Beasiswa Unggulan Keagamaan LPDP RI.

Ada sesuatu yang begitu getir dari kepergiannya. Ia sedang berada dalam perjalanan menjemput masa depan, tetapi takdir justru lebih dahulu memanggilnya pulang. Ia sedang menyiapkan babak baru dalam kehidupannya, sementara Tuhan telah menetapkan akhir dari seluruh bab yang dapat kita baca tentang dirinya di dunia.

Betapa banyak hal yang mungkin belum sempat ia selesaikan. Betapa banyak percakapan yang belum sempat dituntaskan. Betapa banyak rencana yang barangkali masih tersimpan dalam kepalanya. Dan betapa banyak orang yang mungkin belum sempat menyampaikan bahwa kehadirannya begitu berarti.

Jenazahnya kemudian dipulangkan ke Karawang, ke kediaman keluarganya, tempat ia akhirnya beristirahat di tanah kelahirannya.

Barangkali selama ini ia terlalu sering menunda kepulangan karena kesibukan menuntut ilmu dan mengabdi. Namun, pada akhirnya, ia benar-benar pulang. Bukan lagi untuk melepas rindu, bukan pula untuk sekadar menikmati waktu bersama keluarga, melainkan untuk beristirahat dalam keabadian. Karawang menjadi tempat ia kembali, sementara Bandung menyimpan begitu banyak jejak perjuangan dan cerita tentang dirinya.

Ahmad Busyairi, sahabatku…

Ada kehilangan yang tidak cukup dijelaskan dengan kata duka. Ada kepergian yang tidak serta-merta dapat diselesaikan hanya dengan kalimat ikhlas. Sebab, ikhlas bukan berarti kita tidak boleh merasa kehilangan. Dan menerima takdir bukan berarti kita harus berpura-pura tidak terluka. Jujur, sampai hari ini, saya masih belum sepenuhnya mampu menerima bahwa seseorang yang dahulu begitu mudah dijumpai, begitu ringan menyapa, begitu riang dalam percakapan, kini hanya dapat saya temui melalui ingatan dan doa.

Rasanya masih ada bagian dari kehidupan yang tertinggal di ruang-ruang tempat kita pernah bersama. Seakan-akan suatu hari nanti kamu akan kembali muncul, menyapa dengan senyum khasmu, lalu kita melanjutkan percakapan yang pernah terhenti oleh kesibukan masing-masing.

Namun, rupanya tidak semua perjumpaan diberi kesempatan untuk memiliki perpisahan yang panjang. Ada yang harus selesai tanpa aba-aba. Ada yang harus pergi ketika kita masih merasa memiliki begitu banyak waktu untuk kembali bertemu.

Saya sering berpikir, mungkin selama ini kita terlalu sibuk mengejar masa depan hingga lupa bahwa waktu tidak pernah menjanjikan perjumpaan berikutnya. Kita mengira masih ada hari esok untuk bercanda, masih ada kesempatan untuk berdiskusi, masih ada waktu untuk sekadar duduk bersama menikmati kopi dan membicarakan banyak hal.

Ternyata, tidak semua yang kita rencanakan diberi kesempatan untuk menjadi kenyataan.

Jika dahulu kita pernah berbagi ruang kaderisasi, ruang intelektual, ruang perjuangan, dan ruang pengabdian, maka hari ini saya hanya bisa melanjutkan persahabatan itu melalui doa. Sebab, ada jarak yang tidak bisa ditempuh oleh langkah kaki, tetapi masih dapat dijembatani oleh ketulusan doa.

Ahmad Busyairi, terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan ini. Terima kasih telah mengajarkan bahwa menjadi manusia tidak harus selalu terlihat hebat, tetapi harus selalu berusaha menghadirkan manfaat. Bahwa kecerdasan tidak cukup hanya diukur dari prestasi akademik, melainkan juga dari seberapa luas kebaikan yang mampu kita tebarkan. Dan bahwa perjuangan tidak selalu tentang seberapa tinggi seseorang berdiri, melainkan tentang seberapa banyak orang yang pernah ia bantu untuk ikut tumbuh.

Semoga seluruh ilmu yang pernah engkau pelajari menjadi cahaya yang tidak pernah padam. Semoga setiap nasihat, kebaikan, senyum, pengabdian, dan manfaat yang pernah engkau tinggalkan menjadi amal jariyah yang terus mengalir. Semoga setiap langkahmu dalam menuntut ilmu dan mengabdi dicatat sebagai perjalanan ibadah di hadapan-Nya.

Kepada keluarga yang engkau tinggalkan, semoga Allah melimpahkan kesabaran, kekuatan, dan ketabahan yang tidak bertepi.

Dan kepada diriku sendiri, izinkan waktu bekerja sebagaimana mestinya. Sebab, hari ini mungkin saya belum sepenuhnya mampu mengikhlaskan kepergianmu, tetapi saya ingin belajar menerima bahwa mencintai seorang sahabat juga berarti merelakannya kembali kepada Pemilik Kehidupan.

Selamat jalan, Ahmad Busyairi.

Engkau telah menyelesaikan perjalananmu di dunia, sementara kami yang masih diberi kesempatan hidup harus melanjutkan perjalanan dengan membawa sebagian nilai yang pernah engkau ajarkan.

Namamu mungkin tidak lagi dipanggil dalam daftar kehadiran, suaramu tidak lagi terdengar di ruang-ruang diskusi, dan tawamu tidak lagi memenuhi perjumpaan kami. Namun, percayalah, ada manusia-manusia yang akan terus mengingatmu bukan karena gelar doktor yang sedang engkau perjuangkan, bukan pula karena panjangnya daftar jabatan dan prestasimu, melainkan karena engkau pernah hadir sebagai manusia yang begitu baik.

Sebab, pada akhirnya, kematian memang dapat mengakhiri perjumpaan, tetapi tidak selalu mampu mengakhiri persahabatan. Ada orang-orang yang telah berpulang, tetapi kebaikannya tetap tinggal; ada raga yang telah kembali menjadi tanah, tetapi namanya terus hidup dalam doa orang-orang yang pernah mencintainya sebagai sahabat.

Al-Fatihah.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ

Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu.

Semoga Allah mengampuni, merahmati, melapangkan kuburnya, menerima seluruh amal ibadahnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Catatan kecil: Ada persahabatan yang tidak membutuhkan banyak kata untuk membuktikan kedalamannya. Cukup satu kepergian, dan kita baru menyadari betapa berharganya seseorang yang dahulu selalu ada dalam keseharian.

Sahabatmu : Moch Fahmi Amiruddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Singgasana di Atas Bara: Dua Warsa Prabowo-Gibran, Runtuhnya Rupiah, dan Amuk Keadilan yang Menagih Janji

30 Oktober 2026 - 07:09 WIB

Di Antara Kalam dan Zaman: Menyemai Nalar Kritis, Menumbuhkan Generasi yang Tak Kehilangan Arah

22 Oktober 2026 - 20:46 WIB

“Habib Syarief: 4 Pilar Bukan Sekadar Materi, Tapi Jalan Menyelamatkan Anak Indonesia”

17 Maret 2026 - 15:55 WIB

“Saat Polarisasi Menguat, 4 Pilar Didorong Jadi Kompas Moral Bangsa”

16 Maret 2026 - 13:43 WIB

Di Antara Nafas dan Langkah: Mencari Arah Hidup dalam Cermin Kebermanfaatan

12 Maret 2026 - 22:03 WIB

Trending di Artikel