Ambisi negara membangun prestasi olahraga terus menggema di podium-podium resmi. Janji kejayaan, target medali, dan mimpi kejayaan nasional rutin dilafalkan. Namun, di lapangan—tempat prestasi seharusnya dilahirkan kenyataannya jauh dari gemerlap. Jurang itulah yang disoroti Anggota Komisi X DPR RI Habib Syarief Muhammad saat bertemu atlet-atlet muda Kota Bandung dalam agenda reses di Jalan Sasak Gantung, 17 Desember 2025.
Di antara latihan yang berlangsung di fasilitas seadanya, Habib melihat potret telanjang pembinaan olahraga nasional. Semangat para atlet muda bertahan, tetapi sistem tak kunjung hadir. Negara, katanya, lebih lihai merayakan kemenangan ketimbang membangun ekosistem yang memungkinkan kemenangan itu lahir secara berkelanjutan. “Prestasi tidak lahir dari slogan. Ia tumbuh dari pembinaan yang konsisten dan berpihak,” ujar Habib.

Ia menilai kebijakan olahraga nasional masih terperangkap pada logika hasil instan. Medali dan peringkat dijadikan tujuan akhir, sementara fondasi pembinaan dibiarkan rapuh. Atlet muda dipaksa bertarung dengan dukungan minim, pelatih bekerja dalam keterbatasan, dan komunitas menutup lubang yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara. Dalam situasi semacam itu, banyak bakat gugur sebelum sempat berkembang.
Habib juga menyoroti ketimpangan perhatian negara terhadap atlet usia dini. Program pembinaan kerap terputus, anggaran terpecah-pecah, dan jalur karier atlet tak pernah benar-benar jelas. Akibatnya, atlet muda dipaksa memilih di usia belia: bertahan mengejar prestasi dengan masa depan yang serba tak pasti, atau meninggalkan olahraga demi kepastian hidup yang lebih rasional.
Pertemuan di Sasak Gantung memperlihatkan wajah lain olahraga nasional—sunyi, jauh dari sorotan kamera dan seremoni. Di sanalah, Habib menyaksikan daya juang yang terus menyala meski sistem berulang kali mengecewakan. “Negara seharusnya hadir sejak awal, bukan baru datang saat podium sudah tersedia,” katanya.
Habib menegaskan, tanpa reformasi kebijakan yang menempatkan atlet sebagai subjek pembangunan bukan sekadar alat pencitraan ambisi negara akan terus berhenti sebagai retorika. Sementara itu, di lapangan, atlet-atlet muda akan terus berlari sendirian, memikul mimpi bangsa dengan beban yang tak pernah adil.









