
Fazar Rifqi As Sidik, M.Pd.
Di era ketika ruang kelas tak lagi terbatas pada empat dinding dan papan tulis, pengetahuan kini berdesir lewat layar kecil di genggaman tangan. Pergulatan antara “serius” dan “receh” bukan lagi dikotomi, melainkan strategi komunikasi. Dari ruang kuliah hingga ruang virtual, dosen muda kini bertransformasi menjadi kreator—bukan sekadar pengajar, melainkan penutur yang masuk ke semesta mahasiswa dengan bahasa mereka sendiri.
Generasi hari ini hidup dalam ekosistem scroll dan swipe. Mereka lebih banyak menyerap informasi dari TikTok, Instagram, YouTube Shorts, atau sekadar status WhatsApp, daripada dari diktat kuliah yang tebal. Jika dosen hanya mengandalkan metode konvensional, maka jembatan komunikasi akan patah. Di sinilah lahir peran baru: dosen konten—pendidik yang berani masuk ke ruang digital dengan wajah segar, bahasa populer, namun tetap mengusung nilai edukasi.

Dari Ruang Kuliah ke Ruang Virtual
Saya sendiri sering melakukan eksperimen ini. Saat perkuliahan berlangsung, saya kadang mendokumentasikan sejenak aktivitas pembelajaran. Tidak panjang, tidak penuh editing, cukup potongan sederhana yang kemudian saya kemas menjadi video singkat untuk TikTok, Instagram Reels, atau YouTube Shorts. Bagi sebagian orang, mungkin itu terlihat “receh”. Namun, bagi mahasiswa, rekaman sederhana itu bisa menjadi ulang dengar yang efektif.
Seorang mahasiswa saya, Faisal, pernah berkata: “Ketika di kelas saya belum sepenuhnya paham, tapi saat rebahan lalu menonton ulang video penjelasan, barulah ilmu itu terasa utuh.” Kalimat itu menohok. Ia mengingatkan bahwa pengulangan adalah bagian penting dari proses belajar. Apa yang tadinya hanya sekilas didengar di kelas, bisa melekat lebih dalam ketika diputar ulang dalam suasana santai.
Hasyim Asy’ari dalam Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim (1939) menekankan bahwa ilmu harus diikat agar tidak hilang. Dahulu ikatan itu berupa catatan tangan di buku tulis. Kini, ikatan itu bisa berupa potongan video pendek yang berulang kali bisa ditonton mahasiswa. Maka, “dosen konten” sejatinya sedang melanjutkan tradisi klasik mengikat ilmu, tetapi dengan tafsir baru sesuai zamannya.
Islam dan Dakwah Melalui Media
Islam sejak awal menekankan pentingnya tabligh—menyampaikan pesan dengan cara yang mudah diterima umat. Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Sampaikanlah dariku walau satu ayat” (HR. Bukhari). Dalam tafsir kontemporer, menyampaikan ayat tidak terbatas pada mimbar masjid atau forum resmi, melainkan juga melalui medium komunikasi yang akrab dengan masyarakat.
Nurcholish Madjid (1992) pernah menegaskan bahwa Islam harus selalu hadir dalam denyut zaman. Gagasan “Islam yes, partai Islam no” menjadi bukti bahwa ajaran Islam dapat fleksibel hadir di ruang publik tanpa kehilangan substansinya. Maka, dosen yang aktif di media sosial bukan sekadar mencari eksistensi, tetapi menghadirkan Islam yang kontekstual: serius tapi tidak kaku, mendidik tapi tetap bersahabat.
Begitu pula dengan Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ia sering menekankan pentingnya humor dalam berdakwah. Menurutnya, humor adalah cara membumikan pesan serius agar tidak menakutkan. Konten “receh” tapi edukatif yang dibuat dosen bisa dibaca dalam semangat itu: pesan akademik dan moral yang dibungkus dengan cara cair, sehingga lebih mudah diterima oleh generasi muda.
Bahasa Mahasiswa, Bahasa Media Sosial
Saya sadar bahwa bahasa akademik sering kali tidak sepenuhnya menyentuh mahasiswa. Maka, saya memanfaatkan ruang yang mereka akrabi. Status WhatsApp, misalnya, saya isi dengan opini singkat dari Kemenag, NU Online, Mojok, Diskursus.id, Kumparan, hingga Nuqtoh. Sekilas mungkin tampak sepele, tetapi ternyata cukup efektif membuka percakapan intelektual.
Faisal, mahasiswa saya, mengaku kerap membaca status-status itu. Bahkan, dari sekadar membaca status WhatsApp, ia terdorong menulis opini di beberapa web dan membuat konten edukatif sendiri. Ruang percakapan pun meluas: dari status WhatsApp berlanjut ke obrolan santai di kafe ala anak Bandung, hingga diskusi serius di ruang dosen.
Di titik ini, mahasiswa tidak hanya menjadi konsumen konten orang lain, tetapi ikut aktif menjadi produsen pengetahuan. Mereka belajar menulis, mengunggah, dan mendiskusikan gagasan. Inilah praktik tut wuri handayani yang diajarkan Ki Hajar Dewantara (1930): mendampingi dari belakang, memberi dorongan agar murid berani mengekspresikan diri dan menemukan jalan keilmuannya.
Ilmu yang Diulang dan Melekat
Dalam perjalanan pendidikan, saya menemukan sebuah pola: mahasiswa sering kali paham setelah mendengar atau melihat penjelasan berulang kali. Teori psikologi belajar menyebutnya reinforcement—penguatan yang membuat informasi terserap lebih dalam. Video pendek di media sosial, meski sederhana, bisa menjadi bentuk reinforcement itu.
Seorang mahasiswa pernah berkata kepada saya: “Pak, penjelasan Bapak di kelas masih terasa mengambang. Tapi setelah saya lihat ulang di TikTok, ternyata saya baru paham maksudnya.” Kalimat itu seolah mengafirmasi pepatah Arab: “Al-‘ilmu fil shighar ka naqsyin ‘ala al-hajar”—ilmu yang diajarkan sejak dini, atau diulang dengan cara mengesankan, akan melekat seperti ukiran di batu.
Maka, peran dosen konten adalah memastikan bahwa ilmu tidak berhenti di ruang kelas. Ia harus beresonansi di ruang digital, menemani mahasiswa di sela rebahan, di perjalanan, bahkan di tengah hiruk pikuk timeline mereka.
Ajakan untuk Dosen Muda
Dosen konten bukanlah sekadar tren, melainkan strategi dakwah keilmuan di era digital. Ia adalah ikhtiar agar ilmu tidak sekadar mampir, tetapi berdiam dalam ingatan mahasiswa lewat pengulangan dan visualisasi. Jika dulu ulama Nusantara menulis kitab, membuat catatan, atau menyampaikan pengajian berulang kali, maka dosen hari ini bisa melanjutkannya lewat video pendek, reels, atau status WhatsApp.
Karena itu, saya ingin mengajak dosen muda, khususnya di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), untuk tidak ragu bersuara di media sosial. Jangan takut terlihat receh, selama konten yang kita buat menyemai pengetahuan. Justru di sanalah letak keberkahan ilmu: ketika ia diulang, dibagikan, dan ditafsir ulang oleh generasi penerus.
Sebagaimana ungkapan klasik: “Al-‘ilmu bila ‘amalin kassyajari bila tsamarin”—ilmu tanpa amal laksana pohon tanpa buah. Maka ilmu yang tidak dibagikan di era digital ini, akan mudah terlupakan. Sebaliknya, ilmu yang disuarakan, didiskusikan, dan dibagikan kembali, akan berbuah luas bagi umat.
Dunia digital memang penuh distraksi. Namun, di dalamnya juga terbuka peluang untuk mendiseminasikan ilmu dengan cara baru. Ketika dosen berani hadir di sana, ia sedang menegaskan bahwa ilmu tidak boleh terkurung di ruang akademik semata.
Dosen konten adalah wajah baru pendidik: puitis sekaligus praktis, serius sekaligus cair. Ia hadir bukan untuk mengejar viralitas, melainkan untuk memastikan ilmu tetap hidup—dari ruang kelas hingga layar kecil di genggaman mahasiswa.
Penulis: Fazar Rifqi As Sidik, M.Pd. (Dosen Muda UIN Sunan Gunung Djati Bandung & STIT Az Zahra Tasikmalaya)














1 Komentar
Sangat setuju pak mantap, terimakasih🙏