Menu ✖

Mode Gelap
Cermin yang Dikirim Langit di Tengah Ragu—Saat Semesta Memberi Tanda dan Menggenapkan Kehendak-Nya “Habib Syarief: 4 Pilar Bukan Sekadar Materi, Tapi Jalan Menyelamatkan Anak Indonesia” “Saat Polarisasi Menguat, 4 Pilar Didorong Jadi Kompas Moral Bangsa” Di Antara Nafas dan Langkah: Mencari Arah Hidup dalam Cermin Kebermanfaatan DPR RI Habib Syarief : Menakar Kebijakan PPPK Paruh Waktu: Antara Efektivitas, Keadilan, dan Beban Anggaran Negara ” Ketika Piring Lebih Diutamakan dari Pikiran “

Artikel

Jejak Langkah Muhammad Syauqi: Refleksi Perjalanan di Kampus AL-Azhar Kairo Mesir

badge-check


					Photo Istimewa Muhammad Syaqi di Mesir Perbesar

Photo Istimewa Muhammad Syaqi di Mesir

Menempuh pendidikan di Mesir adalah mimpi banyak anak bangsa yang haus akan ilmu dan pengalaman baru. Negeri yang dijuluki ummud dunya (ibu dunia) ini bukan sekadar tanah peradaban kuno, tetapi juga pusat keilmuan Islam yang telah melahirkan ulama dan cendekiawan besar. Berada di Mesir seakan membuka lembaran sejarah panjang, sekaligus menyadarkan betapa ilmu tidak hanya bersemayam di ruang kelas, tetapi juga dalam denyut kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

Namun, setiap perjalanan selalu memiliki akhir. Bagi sebagian mahasiswa, kenyataan bahwa mereka harus kembali ke Indonesia lebih cepat dari yang direncanakan kadang terasa pahit. Ada rasa belum tuntas, ada mimpi yang seolah belum rampung. Tapi di sisi lain, pulang juga bisa berarti babak baru: kesempatan untuk menanamkan nilai dan ilmu yang telah diserap di negeri orang.

Menjadi mahasiswa di Mesir bukan hanya tentang gelar akademik. Ia adalah tentang keberanian melintasi batas geografis, menyesuaikan diri dengan budaya yang berbeda, dan merasakan kerasnya hidup jauh dari keluarga. Mahasiswa Indonesia di Mesir belajar berdamai dengan keterbatasan, membangun solidaritas dengan sesama perantau, dan berinteraksi dengan beragam bangsa yang sama-sama menimba ilmu. Itu semua membentuk watak kemandirian dan daya tahan yang kelak sangat dibutuhkan ketika pulang ke tanah air.

Photo Istimewa Muhammad Syaqi di Giza Mesir

Photo Istimewa Muhammad Syaqi di Giza Mesir

Meski saya hanya tinggal di mesir beberapa bulan saja, namun sangat bermakna sekalli, dan bagi saya mesir adalah tempat yang penuh arti dalam sanubari dan masih terbayang suasana rasa udara mesir, saya sempat berkunjug ke tempat-tempat bersejarah, seperti Giza/Piramida Mesir, Sungai Nil yang sangat memeiliki Sejarah berharga, dan berziarah ke Makam ulama-ulama dunia, hal tersebutlah yang membuat saya tidak bisa melupakan mesir sampai saat ini.

Kepulangan ke Indonesia memang bisa terasa sebagai “kembali ke titik nol”. Tidak sedikit yang khawatir apakah pengalaman di Mesir bisa dihargai sepenuhnya. Tetapi justru di sinilah letak ujian sebenarnya: mengubah pengalaman akademik dan spiritual di tanah para nabi menjadi kontribusi nyata bagi masyarakat sendiri.

Photo Istimewa Muhammad Syauqi berziarah di Makam Imam Syafi'i di Mesir

Photo Istimewa Muhammad Syauqi berziarah di Makam Imam Syafi’i di Mesir

Ilmu yang didapat di Mesir, sekecil apa pun, tidak akan pernah sia-sia. Ia bisa menjadi cahaya dalam ruang-ruang pengabdian di madrasah, pesantren, kampus, hingga ruang-ruang diskusi masyarakat. Pulang bukan berarti gagal, melainkan menunaikan tanggung jawab untuk menghadirkan manfaat.

Perjalanan menjadi mahasiswa di Mesir, sebelumnya saya sangat optimis untuk dapat melanjutkan perkuliahan saya, akan tetapi pada saat saya berada disana sungguh diluar dari apa yang saya kira dan harapkan sebelumnya, ujian-pun datang pada saat saya sudah berada di mesir selama 2 bulan, saat itu membuat saya bingung, antara keinginan diri atau kondisi alam yang tidak mendukung saya untuk bertahan lebih lama di negeri (Ummudnya), disana saya mengalami kejadian yang aneh karena kondisi kesehatan saya yang tak disangka setelah hasil uji laboratorium  (Tahlil Dam) atau cek darah di (Mustashfa Husaen) rumah sakit husen, setelah cek dua kali, saya dinyatakan positif Hepatitis dan dirujuk ke kementrian Kesehatan mesir, yang dinyatakan positif, dikarenakan saya merasa takut untuk dideportasi dan dikemudian hari takut terjadi masalah yang lebih besar, sehingga pada akhirnya saya memutuskan untuk berkoordinasi dengan pihak-pihak yang memiliki pengalaman di mesir, seperti kaka Tingkat serta pihak pemberi rekomendasi kuliah saya ke mesir yaitu Gurfah Azhariyyah, sebuah lembaga yang memfasilitasi para pelajar yang hendak belajar di Al-Azhar Mesir juga Lembaga yang bergerak sebagai fasilitator bagi calon mahasiswa serta alumni Al-Azhar Kairo di Indonesia.

Lembaga ini berkomitmen untuk menyediakan berbagai layanan yang berkaitan dengan Universitas Al-Azhar, termasuk informasi akademik, tahap penerimaan mahasiswa baru, serta bimbingan dalam proses pendaftaran. Selain itu Lembaga Gurfah Azhariyyah juga memfasilitasi ujian seleksi yang diselenggarakan oleh Markaz Tathwir Al-Azhar ( مركزتطويرتعليم الطلاب الوافدين والأجانب ), menyediakan akses ke materi pembelajaran dan latihan soal ujian, serta memberikan informasi mengenai kajian atau talaqqi dengan masyayikh. meski berakhir lebih cepat, adalah bagian dari mozaik kehidupan itu memiliki yang akan terus membekas. Yang terpenting bukanlah berapa lama waktu yang dihabiskan di sana, melainkan bagaimana bekal itu diolah untuk membangun negeri sendiri. Pada akhirnya, tanah air selalu menanti kepulangan anak-anak terbaiknya bukan sekadar membawa ijazah, tetapi juga membawa semangat, pemikiran, dan ketulusan untuk Indonesia.

Setelah kejadian tersebut saya menyimpulkan bahwa saya harus pulang ke Indonesia dikarenakan atas dasar arahan dan masukan dari pihak Gurfah Azhariyyah, namun perasaan saya terasa bertolak belakang dengan kondisi keluarga saya, yang pada saat itu memberikan masukan untuk tetap berada di mesir terlebih dahulu sampai ada keputusan yang jelas, sebelum memilih Keputusan sendiri saya melakukan istikharah dan berusaha menenangkan diri, serta hasil istikharah dan membaca Al-Quran sebanyak 1 Juz, dan akhirnya saya menemukan jawaban dari masalah yang terjadi pada saya, akhirnya hasil istikharah tersebut menunjukan bahwa saya harus mengikuti arahan dari pihak pemberi rekomendasi atas perjalanan kuliah saya di mesir, dan mematangkan persiapan kepulangan saya ke Indonesia, tepat pada bulan januari tahun 2025 saya berhasil pulang dengan selamat ke Indonesia dan bisa berkumpul Kembali bersama keluarga saya, lalu saya menceritakan secara kronologis dari awal sampai akhir perjalanan saya di mesir kepada pihak Gurfah Azhariyyah dan pihak keluaga, semoga pengalaman say aini dapat menjadi secercah pengetahuan dan wawasan kepada siapapun yang ingin melanjutkan kuliah di mesir.

Saya berpesan kepada sahabat-sahabat dimanapun, Ketika bermaksud untuk melanjutkan belajar di perguruan tinggi Luar Negeri khususnya di Kairo Mesir, harus bisa menjaga Kesehatan pisik, mental, serta betul-betul memiliki bekal pengetahuan yang sangat matang dibidang keilmuan yang akan kita rencanakan untuk belajar disana, khusnya juga bekal secara ekonomi yang cukup, karena itulah yang menjadi penguatan terhadap diri kita saat disana, meski saya sudah mengeluarkan biaya yang tentu tidak sedikit, namun semoga suatu saat menjadi keberkahan ilmu dari pengalaman saya tersebut.

Muhammad Syaqi saat ini menjadi asatidz di lembaga Pondok Pesantren Daar El Falah Al Muchtariyyah Cianjur yaitu tepatnya menjadi staff guru di SD IT Daar El Falah pada mata pelajaran ekstrakulikuler Bahasa Arab, untuk melanjutkan kiprah perjuangan ayahanda, dan sedang bersiap untuk melanjutkan belajarnya di perguruan tinggi yang berada di daerah, semoga apa yang sedang diperjuangkan hari ini untuk menggapai masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Cermin yang Dikirim Langit di Tengah Ragu—Saat Semesta Memberi Tanda dan Menggenapkan Kehendak-Nya

7 April 2026 - 00:52 WIB

“Habib Syarief: 4 Pilar Bukan Sekadar Materi, Tapi Jalan Menyelamatkan Anak Indonesia”

17 Maret 2026 - 15:55 WIB

“Saat Polarisasi Menguat, 4 Pilar Didorong Jadi Kompas Moral Bangsa”

16 Maret 2026 - 13:43 WIB

Di Antara Nafas dan Langkah: Mencari Arah Hidup dalam Cermin Kebermanfaatan

12 Maret 2026 - 22:03 WIB

364 Hari di Singgasana Amanah: Bupati dan Wakil Bupati Sukabumi, Antara Visi dan Jejak Nyata

19 Februari 2026 - 13:55 WIB

Trending di Daerah