Menu ✖

Mode Gelap
Dr. (C) Moch Fahmi Amiruddin, M.Pd. Menautkan Tradisi Pesantren, Intelektualitas, dan Transformasi Digital Di Antara Kalam dan Zaman: Menyemai Nalar Kritis, Menumbuhkan Generasi yang Tak Kehilangan Arah Cermin yang Dikirim Langit di Tengah Ragu—Saat Semesta Memberi Tanda dan Menggenapkan Kehendak-Nya “Habib Syarief: 4 Pilar Bukan Sekadar Materi, Tapi Jalan Menyelamatkan Anak Indonesia” “Saat Polarisasi Menguat, 4 Pilar Didorong Jadi Kompas Moral Bangsa” Di Antara Nafas dan Langkah: Mencari Arah Hidup dalam Cermin Kebermanfaatan

Artikel

Di Antara Kalam dan Zaman: Menyemai Nalar Kritis, Menumbuhkan Generasi yang Tak Kehilangan Arah

badge-check


					Di Antara Kalam dan Zaman: Menyemai Nalar Kritis, Menumbuhkan Generasi yang Tak Kehilangan Arah Perbesar

Penulis : Moch. Fahmi Amiruddin

Merawat sanad keilmuan, menajamkan nalar, dan membangun generasi yang tidak hanya fasih membaca teks, tetapi juga cakap menafsirkan realitas.

Ada kebahagiaan yang tidak selalu dapat diukur oleh tepuk tangan, popularitas, atau gemerlap pencapaian duniawi. Salah satunya adalah duduk bersama para pencinta ilmu, membuka lembar demi lembar kitab kuning, menelaah tafsir Al-Qur’an, dan mempertemukan beragam pikiran dalam satu ruang percakapan yang beradab. Di tempat semacam itu, waktu tidak sekadar berjalan, ia menjadi saksi bagaimana manusia menempuh perjalanan dari ketidaktahuan menuju pemahaman, dari keyakinan yang belum teruji menuju kesadaran yang semakin matang.

Mengaji dan berpikir bukanlah dua jalan yang mesti dipertentangkan. Keduanya justru perlu dirawat sebagai satu kesatuan dalam membangun peradaban ilmu. Wahyu memberikan orientasi nilai, tradisi keilmuan menyediakan warisan metodologis, sedangkan akal membantu manusia membaca persoalan yang terus berubah. Ketiganya bertemu dalam ikhtiar melahirkan generasi yang kokoh akar spiritualnya, luas cakrawala pengetahuannya, dan tajam kepekaannya terhadap persoalan kemanusiaan.

Di hadapan kitab tafsir, kita tidak hanya belajar memahami makna ayat, tetapi juga belajar tentang kedisiplinan berpikir, bagaimana sebuah pendapat dibangun, bagaimana perbedaan penafsiran dijelaskan, bagaimana argumentasi diuji, dan bagaimana seorang pencari ilmu menahan diri agar tidak tergesa-gesa mengklaim kebenaran.

Kitab kuning bukanlah artefak masa silam yang hanya pantas disimpan di rak-rak pesantren. Ia merupakan bagian dari khazanah intelektual yang terus dapat didialogkan dengan perkembangan zaman. Namun, tradisi itu akan kehilangan daya hidupnya apabila hanya diperlakukan sebagai simbol kesalehan tanpa pendalaman metodologi, tanpa pembacaan kontekstual, dan tanpa keberanian menghubungkan ilmu dengan kenyataan.

Sebab, menjaga tradisi bukan berarti membekukan masa lalu, sebagaimana menjadi modern bukan berarti memutus akar sejarah. Tradisi yang hidup ialah tradisi yang mampu mempertahankan prinsip sekaligus menjawab perubahan.

Membaca dunia dengan mata seorang pencari ilmu

Dunia hari ini menghadirkan paradoks yang tidak sederhana. Manusia memiliki akses pengetahuan yang semakin luas, tetapi kelimpahan informasi tidak otomatis melahirkan kedalaman pemahaman. Teknologi memudahkan pencarian jawaban, tetapi tidak selalu mendidik manusia untuk mengajukan pertanyaan yang tepat. Kecerdasan buatan dapat membantu mengolah informasi, tetapi keputusan tentang kebenaran, keadilan, dan tanggung jawab tetap membutuhkan pertimbangan manusia.

UNESCO, dalam publikasinya mengenai literasi media dan kompetensi digital pada 12 April 2025, menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis, penggunaan kecerdasan buatan secara etis, serta kecakapan membedakan informasi yang dapat dipercaya dari misinformasi.

Sementara itu, laporan UNESCO tentang pendidikan global tahun 2026 mencatat bahwa sekitar 273 juta anak dan kaum muda di dunia masih berada di luar sekolah pada 2024. Fakta ini menunjukkan bahwa di tengah kemajuan teknologi dan perkembangan pengetahuan, persoalan mendasar mengenai akses pendidikan yang adil masih belum selesai.

Di hadapan kenyataan tersebut, pertanyaan bagi dunia pendidikan bukan sekadar bagaimana membuat generasi muda semakin mahir menggunakan teknologi, melainkan bagaimana memastikan mereka memiliki kecakapan intelektual, kedewasaan moral, dan kesanggupan membaca persoalan di balik layar yang mereka tatap setiap hari.

Kita membutuhkan generasi yang tidak mudah menelan informasi hanya karena disampaikan oleh tokoh populer, tidak tergesa-gesa menghakimi hanya karena melihat potongan video, tidak menjadikan viralitas sebagai ukuran kebenaran, serta tidak mengira bahwa banyaknya pengikut identik dengan kedalaman pemikiran.

Dalam ruang digital, setiap orang dapat menjadi penyebar informasi, tetapi tidak setiap orang telah terlatih menjadi pemeriksa kebenaran. Karena itu, literasi digital tidak cukup berhenti pada kemampuan mengoperasikan perangkat. Ia harus berkembang menjadi literasi epistemik, kemampuan menelusuri sumber, menguji bukti, mengenali bias, memahami konteks, dan mengakui keterbatasan pengetahuan sendiri.

Di sinilah tradisi mengaji dan kebiasaan berdiskusi menemukan relevansi strategisnya. Keduanya dapat menjadi ruang latihan untuk membaca secara teliti, mendengar secara utuh, menguji argumen, dan menyampaikan pendapat dengan tanggung jawab.

Dari Ibnu Khaldun hingga Paulo Freire: ilmu sebagai jalan pembebasan

Sejarah pemikiran manusia memperlihatkan bahwa kemajuan peradaban tidak hanya dibangun oleh orang-orang yang menguasai pengetahuan, tetapi juga oleh mereka yang berani memeriksa kembali cara pengetahuan diproduksi, diwariskan, dan digunakan.

Ibnu Khaldun mengajarkan pentingnya memahami masyarakat melalui pengamatan terhadap dinamika sosial, solidaritas kelompok, kekuasaan, ekonomi, dan perubahan peradaban. Pemikirannya mengingatkan generasi muda agar tidak membaca gejala sosial secara dangkal, apalagi menerima sebuah berita sebagai gambaran utuh sebelum memahami latar belakangnya.

Ibnu Rusyd menunjukkan bahwa argumentasi rasional dan pembahasan filosofis mempunyai tempat penting dalam tradisi intelektual Islam. Melalui karya-karyanya, ia membuka ruang pembicaraan mengenai hubungan antara demonstrasi rasional, filsafat, dan syariat. Dari sana, generasi muda dapat belajar bahwa perbedaan antara pendekatan keilmuan harus dihadapi dengan argumentasi, bukan sekadar prasangka.

Imam Al-Ghazali mengingatkan tentang bahaya pengetahuan yang tidak disertai pembenahan diri. Keluasan wawasan tidak dengan sendirinya menjamin kejernihan batin. Seseorang dapat memenangkan perdebatan, tetapi kalah dalam mengendalikan kesombongan; dapat menguasai banyak istilah, tetapi gagal mengamalkan nilai yang dikatakannya.

Dalam dunia modern, Paulo Freire memperluas pembahasan pendidikan melalui gagasan kesadaran kritis. Pendidikan, dalam pemikirannya, tidak seharusnya menjadikan peserta didik sekadar wadah untuk menampung informasi. Pendidikan perlu membantu manusia membaca realitas, mengenali persoalan, dan mengambil bagian secara sadar dalam perubahan sosial.

Antonio Gramsci menawarkan perangkat analisis mengenai hegemoni, yakni bagaimana kepemimpinan dan dominasi dapat berlangsung bukan hanya melalui paksaan, tetapi juga melalui pembentukan persetujuan dan cara pandang dalam masyarakat. Pemikiran ini dapat menjadi bahan bagi generasi muda untuk menguji bagaimana opini publik dibentuk, bagaimana suatu gagasan menjadi dominan, dan bagaimana pendidikan berperan dalam membangun kesadaran masyarakat.

Michel Foucault mengajak pembaca menelaah hubungan antara pengetahuan, wacana, dan kekuasaan. Pemikirannya dapat membantu generasi muda memahami bahwa apa yang dianggap wajar atau benar dalam suatu masyarakat terkadang juga dipengaruhi oleh institusi, praktik sosial, dan relasi kuasa. Namun, pemikirannya harus dibaca secara kritis, bukan dijadikan alasan untuk menganggap semua klaim kebenaran sama-sama tidak dapat dipercaya.

Jürgen Habermas menekankan pentingnya komunikasi rasional dan pertukaran argumentasi yang memungkinkan manusia menguji pendapat dalam ruang publik. Dalam konteks pendidikan, gagasan tersebut memberi landasan bagi diskusi yang tidak bertumpu pada siapa yang paling keras berbicara, melainkan pada siapa yang mampu menyusun alasan, mendengarkan sanggahan, dan memperbaiki pendapatnya.

Noam Chomsky, melalui kritiknya terhadap propaganda dan struktur media, menawarkan bahan refleksi mengenai bagaimana informasi dapat diseleksi, dibingkai, dan disebarluaskan dalam relasi kekuasaan. Pemikirannya dapat menjadi pintu masuk untuk mempelajari literasi media, selama setiap analisis tetap diuji berdasarkan bukti dan tidak berubah menjadi kecurigaan tanpa dasar.

Kita juga dapat berdialog dengan Hannah Arendt, yang mengkaji totalitarianisme, tanggung jawab, dan kehidupan politik, Karl Popper, yang menekankan keterbukaan terhadap pengujian dan kritik, John Dewey, yang memandang pendidikan sebagai proses pengalaman, penyelidikan, dan partisipasi demokratis, serta Pierre Bourdieu yang membantu menjelaskan bagaimana modal budaya dan struktur sosial memengaruhi kesempatan seseorang dalam dunia pendidikan.

Dari ranah pemikiran kontemporer, Martha Nussbaum mengingatkan pentingnya pendidikan humanistik, imajinasi moral, dan kemampuan memahami kehidupan orang lain. Amartya Sen menawarkan perspektif tentang pembangunan sebagai perluasan kapabilitas manusia, sehingga kemajuan tidak cukup diukur melalui pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga melalui kesempatan nyata manusia untuk hidup secara bermartabat.

Sementara itu, Frantz Fanon memberikan bahan refleksi mengenai kolonialisme, identitas, dan dampak penindasan terhadap kehidupan manusia. Edward Said mengkritisi cara representasi tentang masyarakat lain dibentuk melalui wacana dan relasi kekuasaan. Keduanya dapat membantu generasi memahami bahwa pengetahuan juga berkaitan dengan sejarah, identitas, dan cara manusia memandang sesamanya.

Di Indonesia, Soekarno melalui gagasan pembebasan nasional, Mohammad Hatta melalui perhatian terhadap demokrasi dan ekonomi kerakyatan, serta Tan Malaka melalui penekanannya pada pentingnya logika dan cara berpikir rasional, menghadirkan warisan pemikiran yang dapat dipelajari secara kritis dalam konteks sejarahnya masing-masing.

Adapun dalam khazanah Islam, Muhammad Abduh menekankan pentingnya pembaruan pemikiran Islam dan pendidikan, Rashid Rida terlibat dalam perdebatan pembaruan keagamaan, Ali Syariati menghubungkan agama dengan kesadaran sosial dan pembebasan, sedangkan Fazlur Rahman mengembangkan pendekatan pemahaman Al-Qur’an yang memberi perhatian pada konteks historis dan tujuan moralnya.

Menghadirkan para pemikir tersebut dalam satu ruang percakapan bukan berarti mencampuradukkan seluruh pandangan mereka. Mereka memiliki latar sejarah, asumsi filosofis, dan orientasi yang berbeda. Justru melalui perbedaan itulah generasi dapat belajar membandingkan argumentasi, memeriksa batas suatu teori, dan membangun pendirian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Membaca banyak pemikir tidak harus membuat seseorang kehilangan pendirian. Sebaliknya, perjumpaan dengan beragam pemikiran semestinya membuat pendiriannya lebih sadar, lebih teruji, dan lebih bertanggung jawab.

Ulul Albab: mempertemukan zikir, pikir, dan tanggung jawab sosial

Dalam QS. Ali ‘Imran ayat 190–191, Al-Qur’an menggambarkan Ulul Albab sebagai orang-orang yang mengingat Allah dalam berbagai keadaan dan memikirkan penciptaan langit serta bumi. Ayat tersebut memberikan landasan reflektif tentang kesatuan antara kesadaran spiritual dan kegiatan intelektual.

Dalam konteks penempaan generasi, Ulul Albab tidak cukup dipahami sebagai orang yang memiliki kecerdasan akademik atau banyak menguasai bacaan. Ia menjadi cita-cita pendidikan yang menghubungkan pengetahuan dengan kebijaksanaan, kecerdasan dengan tanggung jawab, serta ibadah dengan kepedulian terhadap kehidupan.

Generasi yang terbiasa mengaji tafsir seharusnya belajar memahami pesan Al-Qur’an dengan perangkat ilmu yang memadai. Generasi yang mempelajari filsafat seharusnya terbiasa menguji asumsi dan menyusun argumentasi. Generasi yang mendalami ilmu sosial seharusnya mampu membaca struktur persoalan masyarakat. Dan generasi yang menguasai teknologi seharusnya mengerti bahwa kecanggihan tanpa etika dapat melahirkan persoalan baru.

Semua itu membutuhkan ekosistem pendidikan yang tidak memisahkan kecakapan berpikir dari pembentukan karakter.

Adab bukanlah larangan untuk bertanya. Adab adalah kesadaran mengenai bagaimana pertanyaan diajukan, bagaimana perbedaan diperlakukan, dan bagaimana ilmu digunakan. Sikap kritis bukanlah kebiasaan mencurigai segala sesuatu. Sikap kritis merupakan kemampuan membedakan klaim yang memiliki dasar kuat dari klaim yang hanya tampak meyakinkan.

Demikian pula, penghormatan terhadap guru tidak harus melahirkan ketergantungan intelektual. Seorang guru yang menempuh jalan keilmuan dengan sungguh-sungguh semestinya membantu murid membangun kemampuan memahami, bukan sekadar meniru; melatih murid menalar, bukan hanya mengulang; serta membimbing murid agar sanggup mempertanggungjawabkan ilmunya di hadapan masyarakat.

Tradisi pesantren memiliki modal penting untuk membangun proses tersebut melalui pengajian kitab, sorogan, bandongan, musyawarah, bahtsul masail, keteladanan guru, dan pembiasaan adab. Berbagai praktik itu dapat terus dikembangkan dengan penguatan literasi digital, penelitian, diskusi lintas disiplin, serta kajian terhadap persoalan nyata masyarakat.

Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi tempat pewarisan khazanah keilmuan, tetapi juga ruang pembentukan manusia yang mampu menghubungkan warisan tersebut dengan kebutuhan zaman.

Menempa generasi di tengah krisis global

Tantangan generasi hari ini tidak berhenti pada persoalan rendahnya minat baca atau maraknya informasi palsu. Mereka juga tumbuh dalam dunia yang dihadapkan pada konflik bersenjata, ketidakpastian ekonomi, krisis iklim, kesenjangan sosial, perubahan pasar kerja, dan perkembangan teknologi yang bergerak cepat.

Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Tujuan Pembangunan Berkelanjutan tahun 2026 mencatat bahwa kemajuan global masih tidak merata dan menghadapi hambatan berupa konflik yang meningkat, perlambatan pertumbuhan ekonomi, perubahan iklim, beban utang, serta penurunan bantuan pembangunan resmi.

Pada saat yang sama, laporan PBB tentang keselamatan anak dan kaum muda di ruang digital menyoroti persoalan perundungan siber, ujaran kebencian, disinformasi, eksploitasi, dan ancaman terhadap privasi. Dalam laporan tersebut, lebih dari sepertiga anak muda di 30 negara yang disurvei melaporkan pernah mengalami perundungan siber. Angka itu merujuk pada kelompok dan negara yang diteliti, bukan keseluruhan pemuda dunia.

Fakta-fakta ini menegaskan bahwa generasi tidak cukup ditempa untuk menjadi cerdas secara individual. Mereka perlu disiapkan agar mampu bekerja sama, menyelesaikan persoalan, menjaga kesehatan sosial dan emosional, serta mengambil keputusan berdasarkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Penempaan generasi karena itu perlu berlangsung dalam beberapa dimensi.

Pertama, ketangguhan spiritual, yakni kemampuan menjaga orientasi hidup, integritas, dan tanggung jawab moral ketika berhadapan dengan tekanan zaman.

Kedua, ketajaman intelektual, yakni kecakapan membaca, menulis, meneliti, menyusun argumentasi, memeriksa sumber, dan mengoreksi kesalahan berpikir sendiri.

Ketiga, kepekaan sosial, yakni kemampuan memahami pengalaman orang lain, membaca ketimpangan, serta menghubungkan pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat.

Keempat, kecakapan digital, yakni kemampuan memanfaatkan teknologi dan kecerdasan buatan secara produktif, kritis, aman, dan etis.

Kelima, keberanian bertindak, yakni kesanggupan menerjemahkan gagasan menjadi kerja nyata, tanpa terjebak pada retorika yang megah tetapi miskin pelaksanaan.

Generasi yang hanya kuat dalam retorika akan mudah kehabisan tenaga ketika berhadapan dengan kenyataan. Generasi yang hanya unggul secara teknis dapat kehilangan orientasi ketika harus memilih antara keuntungan dan kemaslahatan. Sementara generasi yang hanya menghafal warisan pengetahuan tanpa belajar membaca perubahan berisiko menjadikan ilmu sebagai monumen, bukan sebagai kekuatan yang menghidupkan peradaban.

Karena itu, tugas pendidikan bukan sekadar melahirkan orang-orang yang pandai menjawab soal, tetapi juga manusia yang sanggup merumuskan persoalan dengan tepat, menguji berbagai kemungkinan penyelesaian, dan bekerja bersama untuk menghasilkan perubahan yang terukur.

Dari lingkaran pengajian menuju laboratorium peradaban

Duduk bersama para pencinta ilmu semestinya tidak berakhir ketika kitab ditutup dan majelis dibubarkan. Percakapan intelektual perlu berlanjut menjadi tradisi membaca, menulis, meneliti, berdiskusi, dan mengabdi.

Sebuah majelis pengajian dapat menjadi tempat melatih ketelitian dalam membaca teks. Musyawarah dapat menjadi laboratorium argumentasi. Bahtsul masail dapat dikembangkan sebagai latihan menghubungkan metodologi keilmuan dengan persoalan aktual. Diskusi lintas disiplin dapat mempertemukan tafsir dengan sosiologi, filsafat dengan pendidikan, serta etika Islam dengan perkembangan teknologi.

Generasi muda juga perlu diajak menyusun tulisan berbasis referensi, melakukan penelitian lapangan, memeriksa informasi yang beredar, mendokumentasikan persoalan masyarakat, dan merancang program pengabdian. Dengan cara itu, ilmu tidak hanya tinggal dalam catatan, tetapi bergerak memasuki ruang kehidupan.

Ukuran keberhasilan penempaan generasi bukan semata-mata seberapa banyak kitab yang ditamatkan atau seberapa fasih istilah ilmiah diucapkan. Ukurannya juga terletak pada kemampuan mengajukan pertanyaan yang bermutu, kesediaan menerima koreksi, ketekunan menghasilkan karya, serta keberanian memperbaiki keadaan melalui pengetahuan.

Di sinilah para guru, kiai, akademisi, aktivis, dan pemimpin komunitas memiliki tanggung jawab bersama: membangun lingkungan yang menghargai proses berpikir, memberi ruang bagi pertanyaan, menumbuhkan disiplin membaca, serta menyediakan kesempatan bagi generasi muda untuk menguji pengetahuannya melalui praktik nyata.

Generasi tidak lahir matang hanya karena mendengar nasihat. Mereka ditempa melalui keteladanan, kebiasaan, dialog, tantangan, pengalaman, dan kesempatan untuk bertanggung jawab.

Menjadi pewaris tradisi sekaligus pembaca masa depan

Pada akhirnya, mengaji kitab kuning, menelaah tafsir Al-Qur’an, dan duduk bersama para pencinta ilmu merupakan bagian dari ikhtiar membangun manusia yang utuh. Di sana, tradisi tidak dipertentangkan dengan modernitas; agama tidak dijauhkan dari penalaran; dan kritik tidak harus mengorbankan adab.

Kita membutuhkan generasi yang mampu membaca Al-Ghazali tanpa menutup pintu bagi dialog dengan Ibnu Rusyd, mempelajari Ibnu Khaldun sambil memahami perubahan masyarakat kontemporer, mendalami Paulo Freire tanpa kehilangan pijakan tradisi; serta mengkaji Foucault, Habermas, Chomsky, dan pemikir lainnya dengan kemampuan membedakan, membandingkan, dan menguji argumentasi mereka.

Bukan untuk menjadikan generasi sekadar gudang kutipan, melainkan agar mereka memiliki perangkat intelektual untuk menghadapi dunia yang semakin rumit.

Sebab, masa depan tidak cukup diserahkan kepada mereka yang paling lantang berbicara, paling cepat mengikuti tren, atau paling piawai menguasai teknologi. Masa depan membutuhkan manusia yang mampu menjaga nurani ketika berkuasa, mempertahankan kejernihan ketika informasi berlimpah, serta menggunakan pengetahuan untuk membangun kehidupan yang lebih adil dan bermartabat.

Mengaji adalah merawat akar. Berpikir kritis adalah menumbuhkan cabang. Meneliti adalah menguji kekuatan batang. Mengabdi adalah menghadirkan buahnya bagi kehidupan.

Dan penempaan generasi merupakan ikhtiar panjang untuk memastikan bahwa pohon ilmu tidak hanya tumbuh tinggi menjulang, tetapi juga memberikan keteduhan bagi manusia.

Di antara lembar kitab yang terbuka, ayat-ayat yang ditadabburi, pikiran yang dipertukarkan, dan realitas yang terus ditelaah, kita sedang belajar menyiapkan generasi Ulul Albab : generasi yang tidak tercerabut dari akar keimanannya, tidak tertinggal oleh perkembangan zamannya, dan tidak kehilangan kemanusiaannya di tengah perlombaan peradaban.

Sebab, tugas seorang pencinta ilmu bukan sekadar memahami dunia sebagaimana adanya, melainkan mempersiapkan manusia agar mampu memperbaiki dunia tanpa kehilangan arah menuju kebenaran. maka Imani Fikiranmu, Cerdaskan Sahabatmu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dr. (C) Moch Fahmi Amiruddin, M.Pd. Menautkan Tradisi Pesantren, Intelektualitas, dan Transformasi Digital

23 Oktober 2026 - 08:41 WIB

Cermin yang Dikirim Langit di Tengah Ragu—Saat Semesta Memberi Tanda dan Menggenapkan Kehendak-Nya

7 April 2026 - 00:52 WIB

“Habib Syarief: 4 Pilar Bukan Sekadar Materi, Tapi Jalan Menyelamatkan Anak Indonesia”

17 Maret 2026 - 15:55 WIB

Di Antara Nafas dan Langkah: Mencari Arah Hidup dalam Cermin Kebermanfaatan

12 Maret 2026 - 22:03 WIB

Merawat Akar, Menjemput Fajar: Ziarah Ruhani Santri Nurul Huda Menyusuri Jejak Masyayikh Sukabumi dalam Menyambut Ramadhan

15 Februari 2026 - 09:20 WIB

Trending di Daerah