Menu ✖

Mode Gelap
Cermin yang Dikirim Langit di Tengah Ragu—Saat Semesta Memberi Tanda dan Menggenapkan Kehendak-Nya “Habib Syarief: 4 Pilar Bukan Sekadar Materi, Tapi Jalan Menyelamatkan Anak Indonesia” “Saat Polarisasi Menguat, 4 Pilar Didorong Jadi Kompas Moral Bangsa” Di Antara Nafas dan Langkah: Mencari Arah Hidup dalam Cermin Kebermanfaatan DPR RI Habib Syarief : Menakar Kebijakan PPPK Paruh Waktu: Antara Efektivitas, Keadilan, dan Beban Anggaran Negara ” Ketika Piring Lebih Diutamakan dari Pikiran “

News

Habib Syarief : Perundingan Siswa, Antara Formalitas dan Perjuangan Hak

badge-check


					Habib Syarief : Perundingan Siswa, Antara Formalitas dan Perjuangan Hak Perbesar

Bandung — Forum dialog dalam kegiatan reses Anggota DPR RI Komisi X, Habib Syarief Muhammad, berubah menjadi ruang perundingan sunyi antara harapan dan kenyataan. Bagi para siswa yang hadir, dialog itu bukan sekadar agenda formal, melainkan perjuangan menyuarakan hak atas pendidikan yang selama ini kerap terhalang oleh keterbatasan biaya dan akses kebijakan.

Dalam acara yang dirangkaikan dengan penyerahan beasiswa pendidikan, sejumlah siswa menyampaikan kegelisahan mereka secara langsung. Di balik bahasa yang tertata rapi, tersimpan kecemasan akan masa depan apakah bantuan pendidikan benar-benar menjangkau mereka yang membutuhkan, atau berhenti sebagai formalitas program tahunan.

Habib Syarief Muhammad menegaskan bahwa perundingan semacam ini harus dimaknai sebagai koreksi kebijakan, bukan seremoni politik. “Ketika siswa berbicara soal biaya dan keberlanjutan sekolah, itu bukan keluhan, tetapi tuntutan hak konstitusional,” ujar Habib. Ia menilai, negara tidak boleh memosisikan siswa sebagai penerima pasif, melainkan subjek yang berhak didengar.

Penyerahan beasiswa dalam forum tersebut, menurut Habib, bukanlah garis akhir, melainkan titik awal tanggung jawab negara. Ia mengingatkan bahwa bantuan finansial tanpa sistem pendampingan dan keadilan akses hanya akan melahirkan ketergantungan, bukan kemandirian. “Beasiswa harus melahirkan daya juang dan karakter, bukan sekadar angka laporan,” katanya.

Sejumlah orang tua siswa yang hadir menyambut penyerahan beasiswa dengan rasa syukur, namun tetap menyimpan harapan akan keberlanjutan. “Bantuan ini sangat berarti, tapi kami berharap tidak berhenti di sini. Anak-anak kami butuh kepastian agar bisa terus sekolah,” ujar salah satu orang tua.

Kegiatan reses tersebut menegaskan bahwa dialog pendidikan bukan soal siapa yang berbicara paling lantang, melainkan sejauh mana negara mau mendengar. Di hadapan para siswa penerima beasiswa, Habib menegaskan komitmennya sebagai anggota Komisi X DPR RI untuk terus mengawal kebijakan pendidikan agar berpihak pada keadilan sosial.

Di tengah simbol penyerahan bantuan, terselip pesan kuat: pendidikan bukan kemurahan hati negara, melainkan hak yang harus diperjuangkan dan dijaga bersama. Bagi para siswa, perundingan itu adalah pengingat bahwa masa depan mereka layak diperjuangkan bukan sekadar dihadiri secara formal, tetapi diperjuangkan secara nyata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

“Habib Syarief: 4 Pilar Bukan Sekadar Materi, Tapi Jalan Menyelamatkan Anak Indonesia”

17 Maret 2026 - 15:55 WIB

“Saat Polarisasi Menguat, 4 Pilar Didorong Jadi Kompas Moral Bangsa”

16 Maret 2026 - 13:43 WIB

DPR RI Habib Syarief : Menakar Kebijakan PPPK Paruh Waktu: Antara Efektivitas, Keadilan, dan Beban Anggaran Negara

8 Maret 2026 - 17:25 WIB

” Ketika Piring Lebih Diutamakan dari Pikiran “

1 Maret 2026 - 18:34 WIB

Menguji Keadilan PPPK Paruh Waktu di Bandung Raya

24 Februari 2026 - 10:04 WIB

Trending di News