Menu ✖

Mode Gelap
Cermin yang Dikirim Langit di Tengah Ragu—Saat Semesta Memberi Tanda dan Menggenapkan Kehendak-Nya “Habib Syarief: 4 Pilar Bukan Sekadar Materi, Tapi Jalan Menyelamatkan Anak Indonesia” “Saat Polarisasi Menguat, 4 Pilar Didorong Jadi Kompas Moral Bangsa” Di Antara Nafas dan Langkah: Mencari Arah Hidup dalam Cermin Kebermanfaatan DPR RI Habib Syarief : Menakar Kebijakan PPPK Paruh Waktu: Antara Efektivitas, Keadilan, dan Beban Anggaran Negara ” Ketika Piring Lebih Diutamakan dari Pikiran “

News

Habib Syarief Muhammad ; Literasi sebagai Fondasi yang Terabaikan

badge-check


					Habib Syarief Muhammad ; Literasi sebagai Fondasi yang Terabaikan Perbesar

Sore itu, di Kecamatan Cibeunying Kidul, literasi dibicarakan bukan sebagai slogan. Dalam resesnya pada 15 Desember 2025, Anggota Komisi X DPR RI Habib Syarief Muhammad berbicara dengan nada yang lebih getir: tentang sebuah fondasi pendidikan yang perlahan dilupakan negara.

Di hadapan warga, guru, dan pegiat pendidikan, Habib menyebut literasi sebagai ruh yang kian terpinggirkan oleh kebijakan. Ia bukan sekadar soal kemampuan membaca dan menulis, melainkan soal keberanian berpikir, kemampuan menimbang, dan daya tahan akal sehat. “Ketika literasi diabaikan, yang rapuh bukan hanya pendidikan, tapi nalar publik kita,” katanya.

Habib menyoroti cara negara memperlakukan literasi: dipuji dalam pidato, tetapi disisihkan dalam keputusan. Program datang dan pergi, indikator ditumpuk, laporan disusun rapi—sementara kebiasaan membaca tak pernah benar-benar tumbuh. Literasi, kata dia, kerap hadir sebagai ornamen kebijakan, bukan fondasi yang menopang seluruh bangunan pendidikan.

Nada kritiknya mengeras ketika menyinggung ruang digital. Di tengah banjir informasi, masyarakat dibiarkan berenang tanpa pelampung literasi. Hoaks, provokasi, dan emosi instan lebih cepat menyebar ketimbang pengetahuan. “Kita membiarkan generasi muda hidup di ruang informasi yang bising, tanpa bekal daya kritis yang memadai,” ujarnya. (15/12/2025)

Ia juga menyentuh soal keberpihakan anggaran dan kebijakan yang terasa jauh dari denyut masyarakat. Perpustakaan sepi, taman baca bertahan dengan swadaya, komunitas literasi hidup dari idealisme. Sementara itu, kebijakan nasional berjalan di atas kertas, terputus dari realitas sehari-hari. “Literasi tak bisa tumbuh dari kebijakan yang dingin dan administratif,” kata Habib.

Reses itu tak sekadar serap aspirasi. Ia berubah menjadi peringatan. Selama literasi terus diperlakukan sebagai pelengkap, pendidikan akan kehilangan jiwa, dan negara perlahan kehilangan kemampuan warganya untuk berpikir jernih. Di Cibeunying Kidul, Habib meninggalkan pesan yang sunyi namun mendesak: tanpa literasi, masa depan dibangun di atas fondasi yang rapuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

“Habib Syarief: 4 Pilar Bukan Sekadar Materi, Tapi Jalan Menyelamatkan Anak Indonesia”

17 Maret 2026 - 15:55 WIB

“Saat Polarisasi Menguat, 4 Pilar Didorong Jadi Kompas Moral Bangsa”

16 Maret 2026 - 13:43 WIB

DPR RI Habib Syarief : Menakar Kebijakan PPPK Paruh Waktu: Antara Efektivitas, Keadilan, dan Beban Anggaran Negara

8 Maret 2026 - 17:25 WIB

” Ketika Piring Lebih Diutamakan dari Pikiran “

1 Maret 2026 - 18:34 WIB

Menguji Keadilan PPPK Paruh Waktu di Bandung Raya

24 Februari 2026 - 10:04 WIB

Trending di News