Menu

Mode Gelap
Komisi I DPRD KBB Tinjau Lokasi Bencana di Desa Kertawangi, Sandi Supyandi: “Negara Tidak Boleh Absen di Tengah Derita Warga” EMPIRISME: KETIKA AKAL TURUN KE TANAH Doa Solidaritas dan Rakerancab GP Ansor Cipeundeuy Teguhkan Kepedulian Kemanusiaan dan Konsolidasi Organisasi Ketika Dunia Mengutuk, Langit Mencatat Ketika Akal Menggugat Takhta Langit: Rasionalisme dan Awal Modernitas Cahaya yang Tak Pernah Padam: Haul Pendiri dan Masyayikh Al-Masthuriyah 2026

Artikel

Tauhid Cinta dan Dekonstruksi Berhala Ekspektasi: Manifesto Membangun Rumah Jiwa

badge-check


					Tauhid Cinta dan Dekonstruksi Berhala Ekspektasi: Manifesto Membangun Rumah Jiwa Perbesar

Penulis : Moch Fahmi Amiruddin

Tulisan ini bukanlah sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah refleksi utuh, kumpulan kepingan kegelisahan yang saya susun menjadi sebuah peta. Ia hadir untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selama ini bertebaran di luar sana, menggugat ketidakpastian yang lahir dari dikte lingkungan, dan menjadi kompas bagi mereka yang lelah menjadi budak persepsi.

Dalam hiruk-pikuk peradaban yang semakin dangkal, kita seringkali kehilangan kompas dalam mendefinisikan apa itu “hubungan”. Kita hidup di era di mana citra dianggap lebih nyata daripada fakta, dan persepsi publik dianggap lebih sakral daripada kebenaran batin. Dalam konteks relasi antarmanusia, fenomena ini melahirkan sebuah tragedi yang saya sebut sebagai Alienasi Cinta sebuah kondisi di mana dua manusia saling memiliki secara hukum atau status, namun saling asing secara substansi karena keduanya terlalu sibuk menghamba pada entitas di luar diri mereka.

Gugatan Terhadap Syirik Sosial dan Feodalisme Rasa

Dalam perspektif Islam, tauhid bukan sekadar pengakuan lisan akan keesaan Tuhan, melainkan sebuah aksi perlawanan terhadap segala bentuk penghambaan kepada makhluk. Namun, dalam praktek hubungan hari ini, kita justru terjebak dalam “syirik sosial”. Kita menyekutukan kebahagiaan kita dengan opini orang tua, bayang-bayang mantan kekasih, hingga standar kesopanan borjuis yang dipaksakan oleh lingkungan.

Banyak orang yang secara sadar maupun tidak, lebih takut dianggap “tidak santun” oleh calon mertua daripada dianggap “palsu” oleh pasangannya sendiri. Kita bersolek, memoles diksi, dan memalsukan gestur demi terlihat bijaksana di hadapan struktur kekuasaan (keluarga atau masyarakat). Ini adalah sisa-sisa mentalitas feodal yang masih bersarang di dalam dada. Kita memperlakukan pasangan bukan sebagai subjek merdeka untuk bertumbuh, melainkan sebagai alat untuk meraih validasi sosial. Padahal, ketika badai eksistensial menerjang, yang akan berdiri di garis depan bersamamu adalah pasanganmu, bukan barisan orang-orang yang kamu usahakan “kesannya” hari ini.

Kritik Arsitektur: Rumah Sebagai Hunian, Bukan Etalase

Mari kita gunakan metafora arsitektur. Membangun hubungan adalah membangun sebuah bait (rumah). Secara filosofis, rumah adalah ruang perlindungan, tempat di mana manusia menanggalkan seluruh topeng sosialnya dan kembali menjadi diri yang telanjang dan jujur.

Namun, logika masyarakat hari ini telah mengubah rumah menjadi etalase. Kita lebih mencemaskan bagaimana warna cat tembok kita di mata orang yang sekadar lewat di jalanan. Kita sibuk mempercantik fasad, memasang pilar-pilar megah agar terlihat kokoh dari kejauhan, namun kita lupa membangun sistem sirkulasi udara yang sehat di dalamnya. Kita membiarkan ruang tamu batin kita pengap dengan rahasia dan kepalsuan, asalkan dari luar kita tampak sebagai “pasangan ideal”.

Akibatnya, skema bangunan hubungan kita menjadi acak-acakan. Kita membangun di atas pondasi “kata orang”, bukan di atas tanah “kesepakatan dua jiwa”. Ketika pondasi itu rapuh, bangunan itu akan roboh bukan karena serangan dari luar, melainkan karena ia tidak pernah benar-benar dirancang untuk kenyamanan penghuninya.

Ontologi Kepulangan: Menjadi Rumah yang Diam

Di sinilah kita sampai pada titik perenungan yang paling dalam: Etika Ketidakberdayaan yang Berdaulat. Seringkali kita merasa harus melakukan manuver-manuver hebat, pengorbanan yang teatrikal, atau perubahan karakter yang radikal hanya agar dicintai balik. Kita merasa harus menjadi “lebih” agar dianggap “layak”.

Ini adalah kesalahan berpikir yang fatal. Sebetulnya, tidak perlu ada peluh yang tumpah hanya untuk meminta hak dicintai oleh manusia lain. Di dalam semesta yang adil secara rasa, cinta tidak bekerja seperti pasar bebas yang penuh persaingan harga.

Sederhananya: Di mata yang tepat, kamu tidak perlu berlari ke mana-mana. Kamu berdiam diri di rumah saja pun, rumahnya tetap kamu.

Ini adalah sebuah pernyataan militan. Berdiam diri di sini bukan berarti pasif tanpa usaha, melainkan sebuah bentuk perlawanan terhadap keharusan menjadi “orang lain”. Jika kamu adalah alamat yang benar bagi jiwanya, maka dia tidak akan tersesat pada peta yang lain. Kamu adalah titik tuju, bukan sekadar persinggahan yang harus bersaing dengan iklan-iklan di pinggir jalan. Ketika kamu menyadari bahwa dirimu adalah “rumah”, kamu berhenti mengemis validasi. Kamu mulai fokus pada substansi hubungan, bukan pada hiasan-hiasan yang fana.

Menuju Kedaulatan Cinta yang Radikal

Militansi dalam hubungan berarti berani berkata “tidak” pada intervensi luar yang merusak dialektika kasih. Fokuslah pada manusia yang ada di depanmu. Dia adalah ayat-ayat Tuhan yang nyata yang harus kamu baca dan kamu pahami setiap hari. Jangan biarkan konsentrasi jiwamu terpecah oleh masa lalu yang sudah menjadi debu (mantan) atau ekspektasi keluarga yang seringkali hanya ingin melanggengkan status sosial.

Hancurkan berhala-berhala persepsi itu. Kembalilah pada khittah hubungan: dua manusia merdeka yang saling menguatkan untuk melawan kerasnya dunia. Jika kamu sibuk bersolek demi terlihat baik di depan orang lain namun mengabaikan kejujuran di depan pasangan, kamu sedang melakukan bunuh diri spiritual.

Penutup: Diam Sebagai Perlawanan

Pada akhirnya, hubungan yang merdeka adalah hubungan yang tidak lagi membutuhkan penonton. Jadilah rumah yang tenang, rumah yang hangat, rumah yang tidak peduli apakah dunia memujinya atau tidak. Karena hanya di dalam rumah yang jujur itulah, Tuhan akan menitipkan ketenangan (sakinah) yang sejati.

Berhentilah berlari mencari cinta di luar sana dengan memakai topeng-topeng yang melelahkan. Cukup jadilah diri sendiri yang berdaulat, dan biarkan mereka yang benar-benar mencari “pulang” menemukan alamatnya padamu. Karena bagi orang yang tepat, keberadaanmu saja sudah cukup, tanpa perlu tambahan dekorasi apa pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Komisi I DPRD KBB Tinjau Lokasi Bencana di Desa Kertawangi, Sandi Supyandi: “Negara Tidak Boleh Absen di Tengah Derita Warga”

30 Januari 2026 - 16:03 WIB

EMPIRISME: KETIKA AKAL TURUN KE TANAH

28 Januari 2026 - 18:35 WIB

Doa Solidaritas dan Rakerancab GP Ansor Cipeundeuy Teguhkan Kepedulian Kemanusiaan dan Konsolidasi Organisasi

25 Januari 2026 - 15:34 WIB

Ketika Dunia Mengutuk, Langit Mencatat

25 Januari 2026 - 08:45 WIB

Ketika Akal Menggugat Takhta Langit: Rasionalisme dan Awal Modernitas

22 Januari 2026 - 08:41 WIB

Trending di Artikel