Oleh : Fardan Abdul Basith, M.Pd
Pendahuluan

Kabupaten Cianjur memiliki posisi strategis dalam lanskap spiritualitas Sunda-Islam di Jawa Barat. Sejak masa Islamisasi awal hingga periode kolonial dan pascakemerdekaan, Cianjur dikenal sebagai wilayah yang mempertahankan etos religius yang kuat, ditandai oleh tradisi pesantren, tarekat, dan nilai-nilai adab sosial yang berakar pada kearifan lokal. Ungkapan ngaos, mamaos, maenpo bukan sekadar slogan budaya, melainkan representasi integrasi antara spiritualitas, seni, dan etika hidup yang menata hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.
Era disrupsi ditandai oleh percepatan teknologi, fragmentasi nilai, dan tekanan eksistensial yang terus-menerus membentuk cara manusia berpikir, bekerja, dan memaknai hidup. Dalam konteks ini, manusia modern kerap terjebak dalam logika efisiensi, kompetisi, dan pencapaian material, sementara dimensi batiniah ketenangan, makna, dan keterhubungan spiritual mengalami keterpinggiran. Judul “Dari Ridha Menuju Mahabbah” merepresentasikan sebuah proses spiritual yang tidak instan, tetapi bertahap, sunyi, dan mendalam, sebagai respons terhadap kegaduhan zaman disrupsi.
Ridha dalam konteks era disrupsi bukan sekadar sikap pasrah terhadap perubahan yang tidak terelakkan, melainkan kesadaran spiritual untuk menerima realitas dengan kejernihan batin. Ridha menjadi fondasi etik-spiritual yang memungkinkan individu tetap stabil di tengah ketidakpastian (VUCA), tidak reaktif terhadap guncangan sosial, ekonomi, maupun digital. Pada tahap ini, manusia belajar berdamai dengan keterbatasan, kehilangan, dan perubahan cepat tanpa kehilangan orientasi nilai.
Proses spiritual kemudian bergerak menuju mahabbah, yakni cinta yang melampaui kepentingan diri, produktivitas semu, dan pengakuan sosial. Mahabbah menghadirkan spiritualitas yang aktif dan transformatif: cinta kepada Tuhan yang mendorong tanggung jawab sosial, empati, dan integritas moral. Dalam era disrupsi, mahabbah menjadi energi spiritual yang menolak dehumanisasi teknologi dan reduksi manusia menjadi sekadar “sumber daya”.
Konsep Sunda “Saluyu Jeung Gusti” selaras dengan kehendak Gusti Allah menjadi jembatan kultural antara spiritualitas klasik dan tantangan kontemporer. Jalan sunyi yang dimaksud bukan pelarian dari dunia digital dan modernitas, melainkan laku batin yang kritis, reflektif, dan berakar pada kearifan lokal. Ia menawarkan model spiritualitas kontekstual: manusia tetap terlibat dalam perubahan, namun tidak tercerabut dari nilai ilahiah dan kemanusiaan.
Dengan demikian, judul ini menegaskan bahwa di tengah era disrupsi, jalan sunyi saluyu jeung Gusti bukan bentuk keterasingan, tetapi strategi spiritual untuk menjaga keutuhan diri, etika, dan makna hidup. Perjalanan dari ridha menuju mahabbah menjadi narasi perlawanan halus terhadap krisis makna zaman, sekaligus tawaran spiritualitas yang relevan, membumi, dan transenden.
Era disrupsi ditandai oleh percepatan teknologi, instabilitas sosial, dan krisis makna yang berdampak signifikan terhadap kondisi batin manusia. Modernitas yang berorientasi pada efisiensi dan produktivitas sering kali mengabaikan dimensi spiritual sebagai fondasi keseimbangan individu dan sosial. Artikel ini bertujuan mengkaji perjalanan spiritual dari ridha menuju mahabbah dalam perspektif tasawuf, serta mengontekstualisasikannya dengan kearifan lokal Sunda saluyu jeung Gusti, kajian energi manusia, dan keselarasan alam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan (library research) dengan analisis hermeneutik terhadap teks-teks tasawuf klasik, kajian spiritualitas kontemporer, serta literatur interdisipliner tentang psikologi, ekoteologi, dan kosmologi spiritual. Hasil kajian menunjukkan bahwa ridha berfungsi sebagai stabilisator energi batin yang memungkinkan individu bertahan dalam situasi disrupsi, sementara mahabbah berperan sebagai energi transformatif yang melahirkan orientasi hidup berbasis cinta, etika, dan tanggung jawab ekologis. Konsep “Saluyu Jeung Gusti” merepresentasikan bentuk spiritualitas kontekstual Nusantara yang menegaskan keselarasan antara manusia, Tuhan, dan alam. Artikel ini menegaskan bahwa tasawuf bukanlah spiritualitas eskapis, melainkan paradigma solutif untuk merespons krisis kemanusiaan dan ekologis di era kontemporer.
Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan globalisasi telah membawa manusia pada era yang sering disebut sebagai era disrupsi. Perubahan yang cepat dan tidak linear ini bukan hanya berdampak pada sistem ekonomi dan sosial, tetapi juga pada struktur kesadaran manusia. Berbagai penelitian menunjukkan meningkatnya kecemasan, kelelahan mental, dan krisis identitas sebagai dampak dari kehidupan modern yang serba cepat dan kompetitif. Dalam situasi demikian, agama dan spiritualitas sering kali direduksi menjadi ritual formal atau simbol identitas, kehilangan fungsi transformatifnya dalam membentuk ketenangan batin dan etika sosial.
Tasawuf sebagai dimensi esoterik Islam menawarkan pendekatan yang berbeda. Ia menempatkan perjalanan menuju Allah sebagai proses pembentukan jiwa yang gradual, sunyi, dan berkesinambungan. Tidak ditempuh melalui kegaduhan simbolik, melainkan melalui laku batin yang konsisten. Dalam tradisi tasawuf, proses ini dikenal sebagai maqāmāt tahapan-tahapan spiritual yang membentuk karakter, kesadaran, dan orientasi hidup manusia.
Artikel ini berangkat dari asumsi bahwa krisis modern bukan semata krisis struktural, tetapi krisis batin. Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan tidak cukup bersifat teknokratis, melainkan harus menyentuh dimensi spiritual terdalam manusia. Fokus utama artikel ini adalah elaborasi perjalanan spiritual dari ridha menuju mahabbah, serta relevansinya dengan kearifan lokal Sunda saluyu jeung Gusti dalam membangun keselarasan manusia dengan Tuhan dan alam di era disrupsi.
Tasawuf dan Konsep Maqāmāt
Dalam tasawuf, perjalanan spiritual menuju Allah dipahami sebagai proses bertahap yang menuntut kesungguhan, kesabaran, dan ketekunan. Tahapan ini dikenal sebagai maqāmāt, yaitu kedudukan-kedudukan spiritual yang dicapai melalui usaha sadar (mujahadah). Setiap maqām membentuk karakter dan kesadaran baru dalam diri seorang salik.
Urutan maqāmāt yang dikenal luas meliputi taubat, wara‘, zuhud, faqir, sabar, tawakkal, dan ridha. Urutan ini menunjukkan bahwa spiritualitas tidak dimulai dari pengalaman mistik yang tinggi, melainkan dari penataan etika dan disiplin diri. Tasawuf dengan demikian merupakan spiritualitas praksis yang membumi, bukan sekadar pengalaman transenden yang abstrak.
Ridha sebagai Puncak Maqām Dasar
Ridha menempati posisi istimewa dalam struktur maqāmāt. Ia sering dipandang sebagai puncak dari rangkaian penempaan diri. Ridha adalah kerelaan yang matang, penerimaan total terhadap kehendak Allah tanpa konflik batin. Para sufi menegaskan bahwa ridha bukanlah sikap pasrah yang lemah, melainkan kekuatan batin yang telah selesai berdebat dengan takdir.
Dalam perspektif psikologi kontemporer, ridha memiliki kesesuaian dengan konsep acceptance dan resilience. Individu yang mampu menerima realitas secara sadar terbukti memiliki daya tahan mental yang lebih baik dalam menghadapi tekanan hidup. Dengan demikian, ridha dapat dipahami sebagai kondisi stabilitas energi psikis, di mana konflik internal berkurang dan energi batin mengalir secara lebih harmonis.
Ridha juga berimplikasi pada relasi sosial. Individu yang ridha cenderung tidak reaktif, tidak mudah menyalahkan, dan mampu bersikap adil. Dalam konteks era disrupsi yang penuh ketidakpastian, ridha menjadi fondasi etis untuk menjaga kejernihan sikap dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.
Mahabbah sebagai Ahwāl dan Energi Transformatif
Di atas ridha terbentang wilayah spiritual yang lebih dalam, yaitu mahabbah. Mahabbah dipahami sebagai cinta Ilahi yang murni, tidak bersyarat, dan tidak berorientasi pada balasan. Dalam tasawuf, mahabbah sering dikategorikan sebagai ahwāl—keadaan batin yang dianugerahkan Allah, bukan hasil langsung dari usaha manusia.
Jika ridha adalah menerima kehendak Tuhan, maka mahabbah adalah mencintai kehendak itu sendiri. Pada tahap ini, ketaatan tidak lagi dirasakan sebagai kewajiban yang berat, melainkan sebagai ekspresi cinta. Ibadah berubah menjadi perjumpaan, doa menjadi dialog rindu, dan hidup menjadi pengabdian yang menyeluruh.
Dalam kajian kontemporer, mahabbah dapat dipahami sebagai bentuk energi spiritual transformatif. Penelitian dalam psikologi positif menunjukkan bahwa pengalaman cinta transenden berkorelasi dengan peningkatan empati, altruisme, dan kesejahteraan subjektif. Mahabbah menggeser orientasi hidup dari ego-sentris menuju kosmik-sentris, di mana individu merasakan keterhubungan dengan sesama dan alam semesta.
Saluyu Jeung Gusti: Keselarasan Spiritual Nusantara
Dalam khazanah spiritual Sunda, kondisi mahabbah dan ridha yang matang dikenal dengan ungkapan saluyu jeung Gusti, yang berarti selaras dengan Tuhan. Keselarasan ini tidak hanya bersifat vertikal (manusia-Tuhan) Habluminallah, tetapi juga horizontal (manusia-manusia) Hablumminannas dan ekologis (manusia-alam) Hablumminalalam.
Konsep ini sejalan dengan kosmologi Islam yang memandang manusia sebagai mikrokosmos yang mencerminkan makrokosmos. Ketika batin manusia tertata, tatanan sosial dan ekologis pun berpotensi menjadi harmonis. Spiritualitas Sunda menegaskan bahwa laku batin tidak boleh tercerabut dari tanah, sejarah, dan tanggung jawab sosial.
Keberadaan situs-situs spiritual di wilayah Cianjur, menunjukkan bahwa spiritualitas Nusantara selalu membumi. Ia hadir dalam simbol, adab, dan tapak sejarah yang mengajarkan bahwa kesadaran Ilahi harus terwujud dalam relasi etis dengan lingkungan dan masyarakat.
Energi, Alam, dan Kosmologi Spiritual
Konsep energi dalam artikel ini tidak dipahami secara fisika kuantum, melainkan sebagai metafora filosofis tentang dinamika kesadaran dan batin manusia. Dalam banyak tradisi spiritual, ketidakseimbangan batin dipandang sebagai sumber disharmoni sosial dan ekologis. Sebaliknya, keseimbangan batin melahirkan resonansi positif dalam relasi manusia dengan alam.
Simbol tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi merepresentasikan perjalanan kesadaran yang berlapis-lapis. Angka satu melambangkan asal ketauhidan, sementara angka sembilan melambangkan puncak kesempurnaan perjalanan. Simbol-simbol ini mengajarkan bahwa perjalanan spiritual bersifat gradual dan integral.
Jihad Batin dan Implikasi Sosial
Tasawuf tidak berhenti pada pengalaman personal. Konsep jihad batin melawan ego dan keserakahan menjadi fondasi bagi perjuangan sosial yang adil. Pasukan lahir dan batin bukan dimaknai sebagai kekuatan koersif, melainkan sebagai kesiapan moral dan spiritual untuk menegakkan nilai ketauhidan, keadilan, dan kemaslahatan.
Dalam era disrupsi, pendekatan ini relevan untuk merespons krisis kepemimpinan dan degradasi etika publik. Spiritualitas ridha dan mahabbah melahirkan energi sosial yang berdaya tahan, bukan agresif; transformatif, bukan destruktif.
Dalam konteks ini, konsep ridha menemukan relevansi praksisnya. Masyarakat Cianjur secara historis hidup dalam lanskap alam yang dinamis daerah agraris, rawan bencana alam seperti gempa dan longsor yang membentuk kesadaran kolektif tentang keterbatasan manusia di hadapan kehendak Tuhan. Ridha tidak dipahami sebagai sikap fatalistik, melainkan sebagai bentuk keteguhan batin untuk menerima kenyataan hidup sambil tetap berikhtiar. Sikap ini tercermin dalam budaya gotong royong, kesabaran sosial, dan ketahanan komunitas menghadapi perubahan zaman.
Seiring memasuki era disrupsi ditandai oleh urbanisasi, digitalisasi, dan pergeseran nilai generasi muda fondasi spiritual tersebut menghadapi tantangan serius. Budaya instan, individualisme, dan fragmentasi sosial berpotensi menggerus nilai ridha sebagai stabilitas batin. Dalam konteks ini, tasawuf menawarkan kerangka rekonstruktif: ridha sebagai inner resilience yang memungkinkan masyarakat Cianjur beradaptasi tanpa kehilangan jati diri spiritual dan kulturalnya.
Lebih jauh, mahabbah sebagai tahap spiritual yang melampaui ridha memberikan orientasi transformatif bagi kehidupan sosial-keagamaan di Cianjur. Mahabbah tidak berhenti pada relasi personal dengan Tuhan, tetapi menjelma menjadi etos kepedulian sosial, penghormatan terhadap kehidupan, dan tanggung jawab ekologis. Dalam masyarakat agraris seperti Cianjur, relasi manusia dengan alam sawah, gunung, Sungai bukan sekadar ekonomi, melainkan spiritual. Alam dipahami sebagai amanah Ilahi yang harus dipelihara, bukan dieksploitasi.
Di sinilah konsep Saluyu Jeung Gusti menemukan konteks empirisnya. Keselarasan dengan Tuhan diwujudkan melalui keselarasan dengan alam dan tatanan sosial. Praktik keagamaan lokal seperti ritual syukuran panen, ziarah makam ulama dan karuhun, serta laku tirakat dapat dibaca sebagai ekspresi kosmologi spiritual yang menegaskan keterhubungan antara dimensi lahir dan batin. Dalam kerangka kajian energi spiritual, praktik-praktik ini berfungsi sebagai mekanisme kolektif untuk menata kesadaran, meredam konflik batin, dan menjaga keseimbangan sosial.
Keberadaan lembaga pendidikan Islam seperti pesantren dan perguruan tinggi keagamaan di Cianjur memperkuat peran tasawuf sebagai medium transmisi nilai. Melalui pengajaran akhlak, zikir, dan laku spiritual, nilai ridha dan mahabbah diwariskan sebagai etos hidup, bukan sekadar pengetahuan normatif. Hal ini relevan dengan teori spiritual capital, yang memandang spiritualitas sebagai sumber daya non-material yang memengaruhi ketahanan sosial dan kualitas kepemimpinan lokal.
Dalam konteks kepemimpinan dan tata sosial di Kabupaten Cianjur, perjalanan dari ridha menuju mahabbah dapat dibaca sebagai model pembangunan batin masyarakat. Ridha menumbuhkan stabilitas psikososial, sementara mahabbah melahirkan orientasi kepemimpinan yang berlandaskan kasih, keadilan, dan pelayanan. Spiritualitas ini menjadi fondasi bagi cita-cita baldatun thayyibatun wa rabbun ghafūr masyarakat yang baik karena warganya jernih jiwanya dan harmonis relasinya dengan Tuhan dan alam.
Dengan demikian, Cianjur bukan sekadar latar geografis, melainkan ruang hidup spiritual yang menunjukkan bahwa tasawuf dan kearifan lokal mampu berdialog dengan tantangan era disrupsi. Jalan sunyi dari ridha menuju mahabbah, yang diwujudkan dalam laku saluyu jeung Gusti, menawarkan paradigma pembangunan manusia yang utuh: berakar pada tradisi, responsif terhadap perubahan, dan berorientasi pada keseimbangan batin, sosial, serta ekologis.
Penutup
Perjalanan dari ridha menuju mahabbah merupakan jalan sunyi yang justru paling relevan di tengah kegaduhan era disrupsi. Ridha menenangkan langkah, mahabbah menghidupkan jiwa, dan saluyu jeung Gusti menyelaraskan manusia dengan Tuhan dan alam. Ketika batin manusia tertata, rahmat Tuhan mengalir ke muka bumi, membentuk tatanan kehidupan yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafūr.
Tasawuf, ketika dibaca dalam dialog dengan kearifan lokal dan kajian kontemporer, menawarkan paradigma spiritual yang solutif dan kontekstual. Ia menegaskan bahwa perubahan dunia bermula dari transformasi batin manusia—dari jiwa yang ridha dan bermahabbah.














