Menu

Mode Gelap
Komisi I DPRD KBB Tinjau Lokasi Bencana di Desa Kertawangi, Sandi Supyandi: “Negara Tidak Boleh Absen di Tengah Derita Warga” EMPIRISME: KETIKA AKAL TURUN KE TANAH Doa Solidaritas dan Rakerancab GP Ansor Cipeundeuy Teguhkan Kepedulian Kemanusiaan dan Konsolidasi Organisasi Ketika Dunia Mengutuk, Langit Mencatat Ketika Akal Menggugat Takhta Langit: Rasionalisme dan Awal Modernitas Cahaya yang Tak Pernah Padam: Haul Pendiri dan Masyayikh Al-Masthuriyah 2026

Artikel

Sakawayana dan Ṣirāṭ al-Mustaqīm: Dialog Kearifan Lokal Sunda dan Tasawuf sebagai Model Kesadaran Spiritual Holistik

badge-check
Gambar Hanya Ilustrasi

Gambar Hanya Ilustrasi

Oleh: Abah Suhendi – (Budayawan Lintas Spiritualisme)

Tradisi spiritual Sunda mengenal konsep jalan karuhun, yakni laku hidup yang diwariskan secara turun-temurun melalui adab, simbol, dan etos keselarasan antara manusia, Tuhan, dan alam. Jalan karuhun tidak semata-mata dipahami sebagai warisan budaya, tetapi sebagai sistem kesadaran yang menata orientasi hidup manusia agar tetap berada dalam koridor kepantasan moral dan keseimbangan kosmik. Dalam Islam, orientasi normatif tersebut memiliki padanan teologis yang kuat melalui konsep ṣirāṭ al-mustaqīm, yaitu jalan lurus yang meniscayakan kesatuan antara iman, akhlak, dan amal. Keduanya bertemu pada satu titik epistemologis: upaya menuntun manusia menuju kehidupan yang tertata secara batin dan lahir.

Konsep sakawayana dalam kosmologi Sunda merepresentasikan kesadaran awal manusia tentang arah hidup, asal-usul, dan tujuan eksistensialnya. Sakawayana bukan sekadar pengetahuan kognitif, melainkan kesadaran reflektif yang mendorong manusia untuk menata diri dan perilaku secara etis. Dalam perspektif tasawuf, tahap ini memiliki korespondensi dengan konsep yaqẓah (kesadaran spiritual awal) dan taubat, sebagaimana dijelaskan dalam literatur tasawuf klasik. Kesadaran ini menjadi fondasi perjalanan spiritual menuju kedekatan dengan Tuhan, baik dalam tradisi Islam maupun kearifan lokal.

Perjalanan spiritual tersebut kemudian bermuara pada pembentukan kesadaran genah, mernah, dan tumaninah. Genah menunjuk pada keteraturan dan kepantasan batin yang tercermin dalam keselarasan antara niat dan tindakan. Mernah mengandung makna kebermanfaatan sosial, bahwa spiritualitas sejati tidak berhenti pada kesalehan individual, melainkan terwujud dalam kontribusi nyata bagi kehidupan bersama. Sementara itu, tumaninah merepresentasikan ketenangan batin yang mendalam, sejalan dengan konsep ṭuma’nīnah dalam Al-Qur’an, yaitu keadaan jiwa yang tenteram karena kedekatannya dengan Allah. Ketiga konsep ini membentuk struktur kesadaran spiritual yang holistik: personal, sosial, dan transendental.

Penelitian ini memposisikan jalan karuhun dan ṣirāṭ al-mustaqīm bukan sebagai dua entitas yang saling bertentangan, melainkan sebagai sistem nilai yang berdialog dan saling menguatkan. Pendekatan ini sejalan dengan teori indigenisasi Islam dan konsep living religion, yang memandang Islam selalu berinteraksi dengan konteks lokal tanpa kehilangan substansi tauhid. Berbeda dari penelitian sebelumnya yang cenderung bersifat deskriptif-kultural atau historis, studi ini menawarkan rekonstruksi konseptual dengan menjadikan genah, mernah, dan tumaninah sebagai model kesadaran spiritual kontekstual di era disrupsi.

Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi sistematis antara konsep spiritual Sunda dan tasawuf Islam dalam kerangka kesadaran manusia kontemporer. Dengan membaca jalan karuhun sebagai ekspresi lokal dari ṣirāṭ al-mustaqīm, penelitian ini memperluas horizon kajian tasawuf dan spiritualitas Nusantara, sekaligus menawarkan paradigma alternatif dalam merespons krisis makna modern. Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan studi keislaman dan budaya, serta kontribusi praktis bagi penguatan pendidikan karakter dan ketahanan spiritual masyarakat di tengah dinamika perubahan zaman.

  1. Latar Belakang Konseptual

Diskursus spiritualitas kontemporer menunjukkan adanya krisis orientasi makna yang disebabkan oleh modernitas lanjut dan era disrupsi. Rasionalitas teknologis dan fragmentasi nilai telah menjauhkan manusia dari kesadaran batin yang utuh. Dalam konteks ini, kajian terhadap kearifan lokal dan tasawuf Islam menjadi penting sebagai sumber alternatif dalam membangun kembali kesadaran spiritual yang integral.

Tradisi Sunda mengenal jalan karuhun, yakni laku hidup yang diwariskan secara kultural dan spiritual melalui adab, simbol, dan etos hidup selaras dengan Tuhan, alam, dan sesama. Jalan ini tidak bertentangan dengan Islam, tetapi dalam banyak konteks justru berkelindan dengan nilai-nilai tauhid dan akhlak. Dalam Islam, konsep keselarasan tersebut secara normatif direpresentasikan oleh ṣirāṭ al-mustaqīm—jalan lurus yang menghubungkan dimensi teologis, etis, dan praksis kehidupan.

  1. Sakawayana sebagai Tahap Awal Kesadaran

Dalam kosmologi Sunda, sakawayana dimaknai sebagai kesadaran awal manusia tentang arah hidupnya kesadaran akan asal-usul, tujuan, dan keterbatasan diri. Sakawayana bukan sekadar pengetahuan, tetapi kesadaran eksistensial yang mendorong manusia untuk menata perilaku dan batin.

Dalam perspektif tasawuf, sakawayana memiliki korespondensi dengan tahap yaqẓah (kesadaran awal spiritual) dan taubat, yaitu momen ketika manusia tersadar dari kelalaian. Literatur tasawuf klasik (al-Ghazali, al-Qushayri) menempatkan kesadaran ini sebagai fondasi perjalanan menuju Allah. Dengan demikian, sakawayana dapat dibaca sebagai bentuk lokal dari kesadaran spiritual universal.

  1. Genah, Mernah, dan Tumaninah sebagai Tahapan Kesadaran

Konsep genah, mernah, dan tumaninah merepresentasikan struktur kesadaran berlapis dalam spiritualitas Sunda:

Genah menunjuk pada keadaan batin yang “pantas” dan tertata; selaras antara niat dan perilaku.

Mernah mengacu pada kebermanfaatan sosial; spiritualitas tidak berhenti pada diri, tetapi berdampak pada lingkungan.

Tumaninah mencerminkan ketenangan batin yang mendalam, sejalan dengan konsep ṭuma’nīnah dalam Al-Qur’an (QS. al-Ra‘d: 28).

Dalam tasawuf, ṭuma’nīnah merupakan kondisi jiwa yang telah stabil karena dzikrullah dan kedekatan dengan Allah. Dengan demikian, genah–mernah–tumaninah dapat dipahami sebagai model kesadaran spiritual holistik: personal, sosial, dan transendental.

  1. Jalan Karuhun dan Ṣirāṭ al-Mustaqīm: Titik Temu Epistemologis

Penelitian ini menempatkan jalan karuhun bukan sebagai tradisi pra-Islam yang bertentangan, melainkan sebagai local wisdom yang mengalami proses Islamisasi kultural. Ṣirāṭ al-mustaqīm berfungsi sebagai kerangka normatif-teologis, sementara jalan karuhun berfungsi sebagai medium praksis-kultural.

Pendekatan ini sejalan dengan teori indigenisasi Islam, living Islam, dan spiritual hybridization, yang menyatakan bahwa nilai-nilai Islam selalu berdialog dengan konteks lokal tanpa kehilangan substansi tauhid.

  1. Kebaruan Penelitian (Novelty)

Penelitian ini memiliki kebaruan pada beberapa aspek:

Integrasi konseptual

Mengintegrasikan konsep Sunda (sakawayana, genah, mernah, tumaninah) dengan konsep tasawuf (ṣirāṭ al-mustaqīm, ṭuma’nīnah) secara sistematis, bukan sekadar deskriptif budaya.

Pendekatan kesadaran spiritual

Berbeda dari studi budaya yang bersifat historis atau antropologis, penelitian ini memosisikan jalan karuhun sebagai model kesadaran spiritual yang relevan dengan krisis makna era disrupsi.

Rekonstruksi spiritualitas kontekstual

Menawarkan kerangka spiritualitas Sunda-Islam yang dapat diaplikasikan dalam pendidikan, pembinaan karakter, dan penguatan ketahanan batin masyarakat modern.

Dialog tasawuf dan kearifan lokal

Memperkaya kajian tasawuf dengan perspektif lokal Nusantara, yang masih relatif terbatas dalam literatur akademik arus utama.

  1. Kontribusi Teoretis dan Praktis

Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian tasawuf kontekstual dan spiritualitas Nusantara. Secara praktis, temuan penelitian ini relevan untuk: pendidikan karakter berbasis budaya, penguatan spiritualitas masyarakat, dan rekonstruksi etika sosial di era disrupsi.

Di tengah hutan sunyi Sakawayana, Malangbong, Garut, jejak karuhun tidak hadir sebagai monumen atau prasasti batu, melainkan sebagai amanah hidup. Ia diwariskan melalui laku, tutur, dan kesadaran tentang bagaimana manusia seharusnya hidup lurus di bumi tanpa kehilangan arah ke langit.

Amanah itu diturunkan melalui figur yang dikenal dalam tradisi lisan sebagai Eyang Sekarmanapa, Guru Aji Cakrabuana Wong Sakawayana. Ia bukan raja negara sebagaimana tercatat dalam babad istana Pajajaran, melainkan prabu batin pemangku amanah adat dan guru laku hidup masyarakat. Ajarannya sederhana, namun justru di situlah kedalamannya: yang lapar dikasih makan, yang nganggur dikasih pekerjaan, yang jujur dikasih modal kepercayaan, yang adil dikasih jabatan kekuasaan.

Inilah yang oleh para sepuh disebut sebagai jalan sirotol mustaqim jalan lurus yang membumi. Jalan yang tidak berhenti pada ritual atau klaim kesalehan, tetapi menjelma menjadi keadilan sosial, keberpihakan pada yang lemah, dan penghormatan pada kejujuran. Dalam pandangan karuhun, bagaimana mungkin seseorang mengaku berjalan lurus kepada Tuhan, jika ia membiarkan sesamanya lapar, menganggur, dan kehilangan martabat?

Di sinilah ajaran Sunda dan Islam saling meneguhkan. Islam memberi arah langit, karuhun menjaga pijakan bumi. Keduanya bertemu dalam satu tujuan: menghadirkan kehidupan yang genah, mernah, dan tumaninah.

Genah: “setiap orang berada di tempat yang semestinya.
Mernah: hidup dijalani dengan rasa cukup dan bermakna.
Tumaninah: batin tenang karena amanah ditunaikan”.

Karuhun Sakawayana juga mengingatkan satu perkara penting: apa pun yang diambil dari bumi secara salah alokasi, pasti akan berbuah sakit di hati baik bagi yang dirampas maupun yang mengambil. Bumi tidak pernah diam; ia mencatat, dan pada waktunya menagih. Sebaliknya, bila segala sesuatu diberikan tepat sasaran, sesuai dengan ajaran kudroh kepantasan dan kesanggupan yang diridhai maka harmoni akan lahir dengan sendirinya. Pada saat itulah, dalam bahasa batin karuhun, Eyang Sekarmanapa “seuri di hati”: tersenyum melihat manusia hidup selaras dengan amanah.

Keadaan ini sejalan dengan maqam ‘abdullah hamba yang sadar diri. Bukan hamba yang sibuk mengklaim, tetapi hamba yang menunaikan tanggung jawab. Bukan sekadar mengucap doa, tetapi berjalan di dalam doa itu sendiri. Dalam bahasa simbolik para sepuh, inilah hamba yang telah “menerima sertifikat batin” bukan kertas, melainkan kelayakan moral–spiritual untuk dibukakan pintu-pintu kebaikan.

Doa Al-Fatihah menemukan wujud nyatanya di sini: ṣirāṭalladzīna an‘amta ‘alaihim—jalan orang-orang yang diberi nikmat; bukan jalan mereka yang dimurkai; dan bukan pula jalan mereka yang tersesat.

Dalam bahasa karuhun: mampu melanglangbuana tanpa menjadi linglung di buana. Berjalan jauh tanpa kehilangan pusat. Bergerak luas tanpa tercerabut dari orientasi batin. Sebab yang membuat manusia tersesat bukanlah jauhnya perjalanan, melainkan hilangnya arah dan amanah.

Maka, jalan karuhun Sakawayana dan sirotol mustaqim sejatinya bukan dua jalan yang berlawanan. Keduanya adalah satu jalan lurus yang diterjemahkan dengan bahasa yang berbeda. Jalan yang mengajarkan bahwa keadilan sosial adalah ibadah yang hidup, dan ketenangan batin adalah buah dari amanah yang dijaga.

Selama manusia masih mau menata niat, menepatkan peran, dan mengembalikan segala sesuatu pada haknya, selama itu pula Eyang Sekarmanapa tidak akan murka. Ia akan tetap seuri di hati melihat anak-cucunya berjalan lurus: genah hidupnya, mernah maknanya, tumaninah batinnya; melanglangbuana tanpa linglung, dan selalu tahu jalan pulang.

Catatan Redaksi

Tulisan ini merupakan pandangan pribadi penulis sebagai praktisi spiritual Nusantara, disusun dari tradisi lisan dan refleksi etika budaya, serta tidak mewakili lembaga atau organisasi tertentu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Komisi I DPRD KBB Tinjau Lokasi Bencana di Desa Kertawangi, Sandi Supyandi: “Negara Tidak Boleh Absen di Tengah Derita Warga”

30 Januari 2026 - 16:03 WIB

EMPIRISME: KETIKA AKAL TURUN KE TANAH

28 Januari 2026 - 18:35 WIB

Doa Solidaritas dan Rakerancab GP Ansor Cipeundeuy Teguhkan Kepedulian Kemanusiaan dan Konsolidasi Organisasi

25 Januari 2026 - 15:34 WIB

Ketika Dunia Mengutuk, Langit Mencatat

25 Januari 2026 - 08:45 WIB

Ketika Akal Menggugat Takhta Langit: Rasionalisme dan Awal Modernitas

22 Januari 2026 - 08:41 WIB

Trending di Artikel