Menu

Mode Gelap
Komisi I DPRD KBB Tinjau Lokasi Bencana di Desa Kertawangi, Sandi Supyandi: “Negara Tidak Boleh Absen di Tengah Derita Warga” EMPIRISME: KETIKA AKAL TURUN KE TANAH Doa Solidaritas dan Rakerancab GP Ansor Cipeundeuy Teguhkan Kepedulian Kemanusiaan dan Konsolidasi Organisasi Ketika Dunia Mengutuk, Langit Mencatat Ketika Akal Menggugat Takhta Langit: Rasionalisme dan Awal Modernitas Cahaya yang Tak Pernah Padam: Haul Pendiri dan Masyayikh Al-Masthuriyah 2026

Daerah

Peran Komunitas Global dan Climate Skills dalam Mitigasi Deforestasi Indonesia

badge-check

Oleh: Fardan Abdul Basith, M.Pd (Fasillitator Program Climate Skills, HSBC & British Cpuncil, Increase Indonesia)

LATAR BELAKANG

Isu deforestasi di Indonesia itu bukan cuma soal pohon ditebang terus hutan jadi gundul ini udah masuk level “alarm merah” buat iklim, lingkungan, bahkan masa depan generasi kita. Nah, di era yang semuanya serba terhubung, komunitas global dan kemampuan climate skills jadi combo penting buat nge-rem kerusakan ini.

Permasalahan iklim itu nggak kenal batas negara. Makanya, kolaborasi sama komunitas internasional mulai dari NGO, lembaga riset, sampai gerakan anak muda dunia itu penting banget. Mereka bantu Indonesia lewat: pendanaan buat restorasi hutan, transfer teknologi hijau, kampanye global yang bikin isu deforestasi makin disorot. Intinya, ini teamwork. Kalau cuma Indonesia yang kerja, hasilnya bakal lama. Tapi kalau bareng-bareng? Impact-nya bisa skala dunia.

Anak muda sekarang butuh climate skills yakni kemampuan untuk ngerti isu iklim, ambil keputusan ramah lingkungan, dan bisa bikin aksi nyata. Contohnya:  Ngerti cara cek jejak karbon,  paham dampak deforestasi ke banjir, cuaca ekstrem, dan laut,  bisa bikin konten edukatif yang ngasih awareness ke publik. Dengan skill ini, generasi muda bisa jadi game changer yang ngedorong perubahan dari bawah.

Dampaknya ke Deforestasi Indonesia. Gabungan komunitas global + kapasitas anak muda = tekanan positif ke pemerintah dan industri buat lebih serius ngejaga hutan. Selain itu, publik makin “melek iklim” dan nggak gampang dibodohin sama narasi pembangunan yang abaikan ekosistem.

Goal Akhir: Ekosistem Tetap Aman, Bumi Tetap Nyaman. Kalau kolaborasi jalan dan climate skills makin kuat, Indonesia bisa lebih siap nge-handle deforestasi, ngejaga hutan tetap berdiri, dan bikin ekosistem dari gunung sampai laut tetap waras. Win-win buat lingkungan dan masa depan kita sendiri.

Sedikit serius penulis coba elaborasi soal yang terjadi akibat dari penebangan pohon (deforestasi) di Indonesia terus meningkat akibat ekspansi perkebunan, pertambangan, dan pembangunan yang tidak terkendali. Kondisi ini berkontribusi langsung terhadap krisis iklim dan pemanasan global, karena hutan berfungsi sebagai penyerap karbon (carbon sink). Ketika pohon hilang, jumlah karbon di atmosfer meningkat dan suhu bumi ikut naik.

Kerusakan lingkungan di Indonesia telah menjadi keprihatinan banyak pihak karena akibat bencana yang dirasakan seperti bencana banjir, tanah longsor, dan kekeringan yang semakin meningkat. Rusaknya hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai daerah tangkapan air diduga sebagai salah satu penyebab utama terjadinya bencana alam tersebut. Kerusakan DAS dipercepat oleh peningkatan pemanfaatan sumber daya alam sebagai akibat dari pertambahan penduduk dan perkembangan ekonomi, konflik kepentingan, dan kurang keterpaduan antar sektor. Batas DAS sebagai batas natural berbagai aspek sumber daya haruslah menjadi satuan batas pengelolaan lingkungan hidup. Namun seringkali Aspek batas DAS terlupakan Ketika pelaksanaan Pembangunan dipengaruhi oleh batas-batas administrasi wilayah. Neraca SDA terpadu menerapkan konsep analisis komprehensif dari perubahan fungsi ruang selama rentang waktu tertentu yang ditujukan untuk mengetahui laju konversi lahan darisetiap peruntukannya baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Teknologi penginderaan jauh dipandang sebagai metode yang sesuai dengan pemetaan sumberdaya terpadu. Inderaja semakin banyak digunakan untuk inventarisasi sumber daya alam. Hal tersebut dilatar belakangi oleh wilayah yang luas, informasi yang tersedia mutakhir dengan berbagai tingkat kerincian dan keperluan, semakin mudah dan semakin murah memperolehnya. Informasi geospasial SDA terpadu dapat digunakan sebagai analisis penataan ruang dan proyeksi kedepan. Neraca SDA terpadu menerapkan konsep analisis komprehensif dari perubahan fungsi ruang selama rentang waktu tertentu yang ditujukan untuk mengetahui laju konversi lahan dari setiap fungsi/peruntukannya baik secara kualitatif maupun kuantitatifnya. Perubahan fungsi ruang, yang biasanya hanya mencakup satu jenis indikator seperti hutan atau hutan mangrove saja, tidak dapat memberikan implikasi pada pengelolaan WS Terpadu, sehingga perlu dilakukan suatu penilaian (assessment) terhadap perubahan fungsi penggunaan lahan yang meliputi seluruh wilayah WS.

TUJUAN

Maka artikel ini bertujuan untuk mengembangkan wawasan dan pemahaman dari latar belakang diatas kita bisa mengambil skema untuk menganalisis pertama bagaimana hubungan antara penebangan pohon dan krisis iklim sehingga berdampak hilangnya ekosistem di darat dan di udara, juga berpengaruh secara sustainable. Kedua menggambarkan dampak deforestasi terhadap berbagai ekosistem hutan, laut, dan gunung. Ketiga memberi rekomendasi kebijakan yang sesuai dengan standar internasional

Penebangan pohon secara massif baik melalui praktik ilegal maupun kebijakan pengelolaan hutan yang permisif menjadi salah satu pendorong utama krisis iklim global. Dalam teori Earth System Science, hutan adalah komponen kunci dalam menjaga keseimbangan karbon, mengatur siklus hidrologi, serta menopang keanekaragaman hayati. Ketika tutupan hutan menurun, kapasitas bumi menyerap karbon (carbon sequestration) menurun secara signifikan, sehingga akumulasi gas rumah kaca di atmosfer meningkat dan mempercepat pemanasan global.

Di Indonesia, kebijakan pertanahan, perizinan industri ekstraktif, dan tata kelola kehutanan yang tidak konsisten sering kali memperkuat laju deforestasi. Ketidaktegasan pemerintah dalam mengendalikan perluasan perkebunan monokultur, proyek tambang, dan konversi hutan alam turut memperbesar ecological footprint, yang kemudian memicu perubahan ekosistem secara menyeluruh.

Dampaknya bersifat sistemik dan lintas ruang:

  • Ekosistem Hutan

Hilangnya tutupan hutan menyebabkan degradasi tanah, penurunan keanekaragaman hayati, dan meningkatnya frekuensi kebakaran hutan. Semua ini mempercepat pelepasan karbon dalam jumlah besar, memperburuk krisis iklim.

  • Ekosistem Gunung

Deforestasi di daerah pegunungan mengganggu kestabilan lereng, meningkatkan risiko longsor, mengubah aliran air tanah, dan menghilangkan fungsi tangkapan air. Dampaknya adalah ketidakstabilan iklim mikro dan hilangnya spesies endemik yang sensitif terhadap perubahan suhu.

  • Ekosistem Laut dan Pesisir

Erosi tanah akibat deforestasi meningkatkan sedimen yang mengalir ke sungai dan laut. Peningkatan sedimentasi ini merusak terumbu karang, mengurangi produktivitas perikanan, dan mengganggu rantai makanan laut. Selain itu, pemanasan global mempercepat pemutihan karang (coral bleaching) yang memperburuk kerentanan ekosistem pesisir.

  • Perubahan Pola Iklim Regional

Hilangnya hutan skala besar di Indonesia sebagai bagian dari “paru-paru dunia”—mengubah curah hujan, meningkatkan suhu lokal, dan menciptakan anomali iklim yang dirasakan di seluruh kawasan Asia Tenggara.

KERANGKA TEORI SINGKAT

Menurut teori Earth System Science, ekosistem bumi saling terhubung. Kerusakan satu bagian (misalnya hutan) akan menimbulkan dampak berantai pada iklim, air, tanah, dan laut. Dalam konteks perubahan iklim, hilangnya hutan mempercepat pemanasan global dan memicu perubahan pola cuaca.

Kompleksitas ini menegaskan bahwa deforestasi bukan sekadar persoalan ekologis, tetapi juga persoalan etika dan tata kelola publik. Tanpa integritas pejabat dan konsistensi kebijakan, upaya mitigasi perubahan iklim akan selalu terhambat oleh kepentingan jangka pendek. Oleh karena itu, Indonesia perlu menyesuaikan kebijakannya dengan tren isu internasional, seperti komitmen Paris Agreement, REDD+, dan prinsip Nature-Based Solutions, yang menekankan perlindungan hutan sebagai instrumen utama mitigasi iklim.

Penguatan integritas birokrasi, transparansi perizinan, dan penegakan hukum lingkungan harus menjadi pilar utama dalam mengelola kompleksitas krisis ini. Hanya dengan kebijakan yang berbasis ilmu pengetahuan, berorientasi keberlanjutan, serta selaras dengan standar global, Indonesia dapat menjaga stabilitas ekosistemnya baik hutan, gunung, laut, maupun keanekaragaman hayati yang menopang kehidupan generasi mendatang.

TEMUAN UTAMA

Dampak terhadap Ekosistem Hutan

  • Hilangnya keanekaragaman hayati.
  • Meningkatnya kebakaran hutan dan kabut asap.
  • Tanah menjadi lebih mudah rusak dan kehilangan kesuburan.

Dampak terhadap Ekosistem Gunung

  • Peningkatan risiko longsor.
  • Gangguan pada sumber mata air.
  • Perubahan suhu mikro yang memengaruhi fauna dan flora endemik.

Dampak terhadap Ekosistem Laut

Sedimentasi dari tanah gundul merusak terumbu karang.

Penurunan populasi ikan akibat terganggunya rantai makanan laut.

Pemanasan global mempercepat pemutihan karang (coral bleaching).

Dampak terhadap Iklim Nasional

  • Perubahan pola hujan (lebih ekstrem).
  • Musim kering menjadi lebih panjang.
  • Cuaca tidak stabil dan sulit diprediksi.

PENGARUH KEBIJAKAN PEMERINTAH

Kebijakan perizinan lahan yang tidak konsisten, lemahnya pengawasan, dan tumpang tindih regulasi sering mempercepat deforestasi. Hal ini memperbesar emisi karbon dan menyebabkan perubahan besar pada ekosistem nasional.

KEBUTUHAN PENANGANAN

Untuk mengatasi kompleksitas ini, diperlukan:

Integritas Pejabat Publik

  • Pengambilan keputusan harus bebas dari konflik kepentingan, transparan, dan mengutamakan keberlanjutan.

Kebijakan Lingkungan yang Selaras dengan Tren Internasional

  • Komitmen terhadap Paris Agreement
  • Penguatan program REDD+
  • Penerapan Nature-Based Solutions (restorasi hutan, mangrove, dan hutan pegunungan)

Pendidikan dan Pelibatan Masyarakat

Kesadaran publik sangat penting untuk mendorong pemerintah dan industri lebih bertanggung jawab.

KESIMPULAN

Penebangan pohon tidak hanya merusak hutan, tetapi menciptakan krisis iklim yang memengaruhi gunung, laut, dan kehidupan masyarakat. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan komunitas internasional untuk menghentikan deforestasi dan memulihkan ekosistem secara berkelanjutan.

Maka sosuli alternatif untuk menumbuhkan kesadaran dalam mentransformasikan ilmu pengetahuan dalam bidang iklim perlu adanya lokomotif pemberdayaan melalui pendidikan intensif bagi para pemuda di daerah rawan, penulis yang merupakan Fasilitator pada pelatihan Transisi Iklim kegiatan yang diselenggarakan oleh HSBC dan British Council bertajuk program Climate Skills, bekerjasama dengan Increase Indonesia, untuk di wilayah Kabupaten Cianjur Jawa Barat pada tahun 2024 di mana agenda tersebut menjadi momen penting bagi Indonesia dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Program global ini bertujuan mempersiapkan kaum muda dalam menghadapi tantangan perubahan iklim secara global. Kami memberikan pelatihan kepada 150 kaum muda untuk memastikan penyebaran pengetahuan ini di seluruh Jawa Barat pada saaat itu. Kami berkomitmen membekali kaum muda Indonesia dengan keterampilan praktis berbasis iklim sebagai bagian dari visi kami untuk membangun masa depan yang lebih berkelanjutan, tangguh, dan makmur. Jawa Barat memiliki populasi yang besar, maka sangat alami jika kami memilih Jawa Barat untuk menjadi tempat peluncuran program ini. Jika berhasil, kami berharap dapat memperluas cakupan program ini ke wilayah lain di Indonesia.

Penulis Merupakan Dosen dan Mahasiswa S3 Awardee Beasiswa LPDP BIB Tahun 2025 yang konsen pada issue lingkungan, pemberdayaan kepemudaan, serta issue Pendidikan

Daftar Referensi

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. (2021). Strategi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca. Jakarta: Bappenas.

Food and Agriculture Organization. (2020). Global Forest Resources Assessment 2020. Rome: FAO.

Firdaus, M., & Sari, R. P. (2022). Deforestasi dan Dampaknya terhadap Perubahan Iklim di Indonesia. Jurnal Lingkungan dan Pembangunan, 14(1), 45–60.

Gaveau, D. L., et al. (2021). Deforestation and Industrial Plantation Development in Borneo. Scientific Reports, 11, 6352.

Intergovernmental Panel on Climate Change. (2023). Climate Change 2023: Synthesis Report. Geneva: IPCC.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. (2022). Status Hutan dan Kehutanan Indonesia. Jakarta: KLHK.

Margono, B., Potapov, P., Turubanova, S., Stolle, F., & Hansen, M. C. (2014). Primary Forest Cover Loss in Indonesia Over 2000–2012. Nature Climate Change, 4, 730–735.

NASA Earth Observatory. (2020). Forest Loss and Carbon Emissions. Washington, DC: NASA.

World Bank. (2021). Indonesia: Forests, Climate Change, and Development. Washington, DC: The World Bank Group.

World Resources Institute. (2022). Global Forest Watch Report: Deforestation Trends in Indonesia. Washington, DC: WRI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Komisi I DPRD KBB Tinjau Lokasi Bencana di Desa Kertawangi, Sandi Supyandi: “Negara Tidak Boleh Absen di Tengah Derita Warga”

30 Januari 2026 - 16:03 WIB

EMPIRISME: KETIKA AKAL TURUN KE TANAH

28 Januari 2026 - 18:35 WIB

Doa Solidaritas dan Rakerancab GP Ansor Cipeundeuy Teguhkan Kepedulian Kemanusiaan dan Konsolidasi Organisasi

25 Januari 2026 - 15:34 WIB

Ketika Dunia Mengutuk, Langit Mencatat

25 Januari 2026 - 08:45 WIB

Ketika Akal Menggugat Takhta Langit: Rasionalisme dan Awal Modernitas

22 Januari 2026 - 08:41 WIB

Trending di Artikel