Menu

Mode Gelap
“Habib Syarief: 4 Pilar Bukan Sekadar Materi, Tapi Jalan Menyelamatkan Anak Indonesia” “Saat Polarisasi Menguat, 4 Pilar Didorong Jadi Kompas Moral Bangsa” Di Antara Nafas dan Langkah: Mencari Arah Hidup dalam Cermin Kebermanfaatan DPR RI Habib Syarief : Menakar Kebijakan PPPK Paruh Waktu: Antara Efektivitas, Keadilan, dan Beban Anggaran Negara ” Ketika Piring Lebih Diutamakan dari Pikiran “ Menguji Keadilan PPPK Paruh Waktu di Bandung Raya

News

Penguatan Genealogi: Membaca Konflik PBNU dalam Perspektif Tradisi dan Transformasi NU

badge-check

Foto Istimewa Forum Kiai NU Jawa

Konflik internal yang terjadi di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) belakangan ini bukan sekadar persoalan struktural atau administratif semata. Lebih dari itu, konflik ini menuntut sikap kedewasaan jam’iyah dalam membaca realitas secara utuh, baik dari perspektif dohiriah (lahiriyah-organisatoris) maupun batiniyah (nilai, ruh, dan maqāṣid ke-NU-an). Tanpa keseimbangan dua perspektif ini, penyelesaian konflik berpotensi hanya bersifat sementara dan tidak menyentuh akar persoalan.

Pertemuan Kiai NU dari berbagai pesantren di Pulau Jawa yang digelar di Hotel Preanger, Kota Bandung, pada Jumat (12/12/2025). Forum ini menjadi ruang musyawarah dan konsolidasi kiai NU Jawa dalam menyikapi situasi organisasi yang dinilai semakin jauh dari nilai-nilai kebijaksanaan, persatuan, dan khidmah jam’iyah.

Koordinator Forum Kiai NU Jawa, Faris Fuad Hasyim, menegaskan bahwa konflik yang terus berlangsung antara kubu Miftahul Akhyar dan Yahya Cholil Staquf telah berdampak serius terhadap ketenangan umat dan soliditas organisasi. Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya mencederai marwah PBNU sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, tetapi juga menimbulkan kebingungan di tingkat akar rumput.

“Konflik di tubuh PBNU telah membuat umat gelisah. Padahal kaum Nahdliyin di berbagai daerah telah menyerukan agar kedua belah pihak melakukan islah dan mengedepankan persatuan. Namun seruan tersebut tidak digubris secara sungguh-sungguh,” ujar Faris dalam rilis resminya.

Atas dasar itu, Forum Kiai NU Jawa menyatakan mosi tidak percaya terhadap seluruh jajaran PBNU dari kedua kubu yang bertikai. Sikap ini, menurut Faris yang akrab disapa Gus Faris bukan ditujukan pada personal semata, melainkan sebagai bentuk keprihatinan mendalam terhadap arah dan tata kelola organisasi.

maka beberapa pandangan dalam menyikapi hal tersebut perlu kita interpretasikan dari berbagai paradigram agar prersfektif para kiai di akar rumput dapat mendiskusikan kembali maksud para pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama agar dapat dikontekstualisasi kembali.

Perspektif Dohiriah: Kembali pada Qānūn Asāsī dan Tata Kelola Jam’iyah

Secara dohiriah, konflik PBNU harus disikapi dengan kembali kepada qānūn asāsī, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), serta mekanisme organisasi yang telah disepakati secara bersama. NU sejak awal berdiri telah menempatkan musyawarah sebagai jalan utama dalam menyelesaikan perbedaan, sebagaimana prinsip al-musāwarah bayna al-ikhwān yang menjadi ciri khas jam’iyah.

Ketegangan internal yang berlarut-larut menunjukkan bahwa tata kelola organisasi belum dijalankan secara proporsional dan berkeadilan. Padahal, dalam tradisi NU, kekuasaan struktural bukanlah tujuan, melainkan wasīlah (sarana) untuk khidmah kepada umat. Oleh karena itu, pengelolaan konflik seharusnya dikembalikan kepada forum-forum konstitusional yang sah, terbuka, dan menjunjung tinggi etika jam’iyah.

KH. Hasyim Asy’ari pernah menegaskan bahwa persatuan dalam jam’iyah tidak boleh dikorbankan oleh kepentingan personal atau kelompok. Dalam konteks ini, penyelesaian konflik secara organisatoris harus diarahkan pada pemulihan marwah NU, bukan sekadar memenangkan satu kubu atas kubu lainnya.

Perspektif Batiniyah: Konflik sebagai Anugerah dan Cermin Muhasabah

Dari perspektif batiniyah, konflik di tubuh NU perlu dibaca sebagai anugerah dari Allah SWT, bukan semata-mata musibah. Konflik adalah isyarat agar jam’iyah melakukan muhāsabah, meninjau kembali arah gerak, niat, serta kesesuaian langkah NU dengan ruh pendiriannya.

Sejarah NU menunjukkan bahwa perbedaan pandangan bukanlah hal baru. Para masyayikh NU sejak awal telah terbiasa dengan ikhtilaf, namun ikhtilaf tersebut selalu dikelola dalam bingkai adab, sanad keilmuan, dan kemaslahatan umat. Di sinilah pentingnya menjaga isnādiyyah, yakni kesinambungan sanad keilmuan, sanad nilai, dan sanad perjuangan NU dari generasi ke generasi.

Isnādiyyah bukan sekadar hubungan genealogis keilmuan, tetapi juga penanda legitimasi moral dan spiritual. Ketika sanad ini terputus baik karena ego kekuasaan maupun karena pengabaian terhadap tradisi musyawarah—maka NU berisiko kehilangan ruhnya sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah.

Menjaga Genealogi dan Melakukan Transformasi Paradigma

Selain isnādiyyah, NU juga dituntut menjaga genealogi pemikiran agar tetap otentik sekaligus adaptif. Dalam hal ini, transformasi paradigma (al-taḥwīliyyah) menjadi keniscayaan. NU tidak boleh terjebak pada romantisme masa lalu, tetapi juga tidak tercerabut dari akar sejarahnya.

Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) pernah mengingatkan bahwa “NU harus mampu berdialog dengan zamannya tanpa kehilangan jati dirinya.” Pesan ini relevan untuk konteks hari ini. Transformasi paradigma harus dilakukan dengan menjadikan nilai-nilai Aswaja sebagai fondasi, sementara bentuk praksisnya disesuaikan dengan tantangan kontemporer.

Lebih jauh, NU juga dituntut menjalankan al-taṣdīriyyah, yakni kemampuan mengekspor pandangan keislaman NU ke ruang publik nasional maupun global. Dunia hari ini membutuhkan Islam yang moderat, inklusif, dan berakar pada tradisi—dan NU memiliki modal historis serta kultural untuk memainkan peran tersebut.

NU antara Lokalitas, Nasionalitas, dan Globalitas

Konflik internal PBNU sejatinya tidak boleh mengalihkan fokus NU dari peran strategisnya di tingkat nasional dan global. NU harus dipromosikan sebagai representasi Islam rahmatan lil ‘alamin yang relevan dengan zaman, mampu menjawab persoalan modernitas, dan tetap setia pada khazanah turats.

Upaya internasionalisasi NU bukan semata soal ekspansi kelembagaan, melainkan penyebaran nilai: tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal. Namun nilai-nilai tersebut hanya akan memiliki daya tawar global jika NU di dalam negeri mampu menjaga harmoni internal dan keteladanan etis.

Penutup

Menyikapi konflik PBNU tidak cukup dengan pendekatan struktural semata, juga tidak cukup dengan narasi spiritual tanpa langkah konkret. Diperlukan keseimbangan antara perspektif dohiriah yang berlandaskan qānūn asāsī dan mekanisme jam’iyah, serta perspektif batiniyah yang berpijak pada nilai, sanad, dan tujuan luhur NU.

Jika konflik ini disikapi dengan kebijaksanaan, kejujuran, dan kesediaan untuk kembali pada ruh pendirian NU, maka ia justru dapat menjadi momentum pembaruan dan penguatan jam’iyah. Sebaliknya, jika dikelola dengan ego dan kepentingan sempit, konflik ini berpotensi menggerus kepercayaan umat dan melemahkan peran strategis NU di masa depan.

NU telah melewati berbagai ujian sejarah. Tantangannya hari ini adalah memastikan bahwa setiap dinamika internal tetap berada dalam koridor adab, tradisi, dan visi besar khidmah lil ummah.

Penulis adalah Fardan Abdul Basith merupakan Dosen STAINU Cianjur, akademisi dan pemerhati pemikiran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah. Ia aktif menulis dan berdiskusi mengenai isu-isu ke-NU-an, dinamika organisasi keagamaan, serta transformasi dakwah dan pendidikan Islam dalam konteks sosial kontemporer. Fokus kajiannya meliputi genealogi pemikiran NU, Manajemen Pendidikan Islam, serta relasi antara tradisi dan modernitas dalam tubuh Nahdlatul Ulama.

Sebagai dosen di bidang Ilmu Pendidikan Islam, ia kerap menekankan pentingnya keseimbangan antara pendekatan struktural (dohiriah) dan nilai spiritual (batiniyah) dalam menyikapi persoalan umat dan organisasi. Baginya, konflik dalam jam’iyah harus dibaca tidak hanya sebagai problem organisatoris, tetapi juga sebagai momentum muhasabah dan pembaruan nilai.

Tulisan-tulisannya berupaya menghadirkan NU sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah yang tetap setia pada khittah, sekaligus relevan dengan tantangan zaman, baik di tingkat nasional maupun global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. M. Nazhefa Sidqi

    Pemikiran tawasutiyyah tetap berkarya diantara konflik pbnu menjadi ruang bagi kaum intelektual utk menelaah dgn beragam perspektif…mantap

    Balas
semua sudah ditampilkan
Baca Lainnya

“Habib Syarief: 4 Pilar Bukan Sekadar Materi, Tapi Jalan Menyelamatkan Anak Indonesia”

17 Maret 2026 - 15:55 WIB

“Saat Polarisasi Menguat, 4 Pilar Didorong Jadi Kompas Moral Bangsa”

16 Maret 2026 - 13:43 WIB

DPR RI Habib Syarief : Menakar Kebijakan PPPK Paruh Waktu: Antara Efektivitas, Keadilan, dan Beban Anggaran Negara

8 Maret 2026 - 17:25 WIB

” Ketika Piring Lebih Diutamakan dari Pikiran “

1 Maret 2026 - 18:34 WIB

Menguji Keadilan PPPK Paruh Waktu di Bandung Raya

24 Februari 2026 - 10:04 WIB

Trending di News