Menu

Mode Gelap
Komisi I DPRD KBB Tinjau Lokasi Bencana di Desa Kertawangi, Sandi Supyandi: “Negara Tidak Boleh Absen di Tengah Derita Warga” EMPIRISME: KETIKA AKAL TURUN KE TANAH Doa Solidaritas dan Rakerancab GP Ansor Cipeundeuy Teguhkan Kepedulian Kemanusiaan dan Konsolidasi Organisasi Ketika Dunia Mengutuk, Langit Mencatat Ketika Akal Menggugat Takhta Langit: Rasionalisme dan Awal Modernitas Cahaya yang Tak Pernah Padam: Haul Pendiri dan Masyayikh Al-Masthuriyah 2026

Artikel

Ketika Waktu Menata Ulang Takdir, dan Semesta Mengembalikan Arah : Refleksi Akhir Tahun 2025 Menuju 2026

badge-check


					Ketika Waktu Menata Ulang Takdir, dan Semesta Mengembalikan Arah : Refleksi Akhir Tahun 2025 Menuju 2026 Perbesar

Penulis : Moch Fahmi Amiruddin

Tahun 2025 menutup dirinya bukan dengan sorak, melainkan dengan keheningan yang penuh makna. Ia hadir sebagai tahun yang menguji, mengoyak, sekaligus membersihkan. Tidak semua yang terjadi di dalamnya mudah untuk diceritakan, namun semuanya nyata untuk dirasakan. Ada fase hidup yang memaksa seseorang berhenti, menoleh ke belakang, lalu bertanya dengan jujur: ke mana sebenarnya arah langkah ini selama ini?

Ada masa di tahun ini ketika hidup terasa seperti bangunan yang harus dibongkar sebagian, bukan untuk diruntuhkan seluruhnya, melainkan untuk diperbaiki fondasinya. Sebuah fase ketika takdir memilih jalannya sendiri, memisahkan yang dulu berjalan berdampingan, agar masing-masing bisa kembali menemukan porosnya. Dari titik itu, aku belajar bahwa tidak semua yang menjauh berarti gagal; sebagian adalah cara Tuhan mengatur ulang keseimbangan, agar hidup tidak berjalan dalam kepalsuan yang dipaksakan.

Apa yang tampak seperti akhir, ternyata hanyalah pergantian bab. Bukan penolakan atas masa lalu, melainkan penyadaran bahwa tidak semua perjalanan ditakdirkan untuk berlangsung selamanya. Ada perjumpaan yang fungsinya memang untuk mengantar kita sampai pada satu titik, lalu mengajarkan bagaimana caranya melanjutkan langkah dengan lebih jujur pada diri sendiri.

Menjelang penghujung 2025, saat banyak hal terasa telah diluruhkan, justru datang anugerah yang nilainya tak dapat diukur dengan angka. Bukan semata kelimpahan materi, tetapi kejernihan pandang. Rezeki mengalir lebih lapang, seiring hati yang tidak lagi sempit oleh beban yang tak perlu. Ada ketenteraman yang tumbuh perlahan, hadir bukan karena segalanya sempurna, tetapi karena segalanya mulai ditempatkan pada porsinya.

Di fase ini, aku kembali belajar memanusiakan manusia, termasuk belajar bersikap adil kepada diri sendiri. Tidak lagi terburu-buru menuntut kesempurnaan, tidak lagi sibuk menyesali hal-hal yang telah berlalu. Hidup mulai terasa lebih sederhana, namun justru di situlah maknanya bertambah. Aku menyadari bahwa iman tidak selalu diuji lewat kekurangan, tetapi sering kali melalui kelapangan: apakah kita tetap rendah hati ketika jalan terasa lebih ringan?.

Lingkar persahabatan yang sempat merenggang kini kembali menghangat. Duduk bersama tanpa topeng, berbincang tanpa agenda tersembunyi, saling menguatkan tanpa merasa paling tahu. Dari kebersamaan itulah aku kembali diingatkan bahwa manusia tidak diciptakan untuk memikul hidup sendirian. Bahwa persaudaraan adalah salah satu bentuk kasih Tuhan yang sering baru kita syukuri setelah ruangnya sempat kosong.

Menutup 2025, aku tidak membawa beban masa lalu sebagai bekuan yang memberatkan langkah. Yang tersisa adalah rasa syukur yang lebih matang, syukur yang tidak lahir dari kemudahan, melainkan dari pemahaman. Tahun ini mengajarkanku bahwa hidup bukan tentang mempertahankan segala yang pernah singgah, melainkan tentang keberanian menata ulang arah ketika jalan lama tak lagi menumbuhkan kebaikan.

Kini, aku menyambut 2026 dengan langkah yang lebih sadar. Bukan dengan euforia berlebihan, tetapi dengan harapan yang matang. Aku tidak lagi menuntut hidup untuk selalu sesuai keinginanku, melainkan berusaha menata diri agar siap menerima apa pun skenario Tuhan, selama aku tetap berada di jalan nilai dan akhlak.

2026 bagiku bukan sekadar tahun baru, tetapi arah baru.
Arah untuk hidup lebih tertib dalam niat, lebih jujur dalam relasi, dan lebih bertanggung jawab dalam setiap peran. Arah untuk menjadikan iman bukan hanya penenang diri, tetapi penuntun sikap. Bukan sekadar penghibur di malam hari, tetapi kompas di siang yang penuh keputusan.

Aku melangkah ke 2026 dengan kesadaran baru: bahwa luka yang telah sembuh akan menjelma kebijaksanaan, dan kehilangan yang diterima dengan ikhlas akan berubah menjadi kekuatan. Hidup kini tidak lagi dikejar-kejar, tetapi diarahkan. Tidak lagi tergesa, tetapi ditata.

Jika 2025 adalah tahun ujian, maka 2026 adalah ruang pengabdian.
Jika kemarin kita banyak belajar menahan diri, maka esok kita belajar memberi makna.

Semoga tahun yang baru menjadi ruang pengabdian, kepada Tuhan, kepada sesama, dan kepada diri sendiri. Karena hidup yang baik bukanlah hidup tanpa gelombang, melainkan hidup yang tahu ke mana harus berlayar setelah samudra kembali tenang.

Semoga di tahun yang baru, iman kita tidak hanya terjaga, tetapi juga berguna.
Tidak hanya tegak di sajadah, tetapi juga hidup di tengah sesama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Komisi I DPRD KBB Tinjau Lokasi Bencana di Desa Kertawangi, Sandi Supyandi: “Negara Tidak Boleh Absen di Tengah Derita Warga”

30 Januari 2026 - 16:03 WIB

EMPIRISME: KETIKA AKAL TURUN KE TANAH

28 Januari 2026 - 18:35 WIB

Doa Solidaritas dan Rakerancab GP Ansor Cipeundeuy Teguhkan Kepedulian Kemanusiaan dan Konsolidasi Organisasi

25 Januari 2026 - 15:34 WIB

Ketika Dunia Mengutuk, Langit Mencatat

25 Januari 2026 - 08:45 WIB

Ketika Akal Menggugat Takhta Langit: Rasionalisme dan Awal Modernitas

22 Januari 2026 - 08:41 WIB

Trending di Artikel