Penulis : Jihan Muhammad
Tahun itu tercatat bukan sebagai angka di kalender, melainkan sebagai musim ketika hidup diperas hingga ampasnya. Seorang lelaki melangkah di antara hari-hari yang kehilangan nama; pagi datang tanpa janji, malam jatuh tanpa pelukan. Rumah yang dulu menjadi kiblat rindu menjelma jarak yang tak bisa ditempuh kaki. Cinta yang dahulu bernama keluarga tercerabut dari akar sejarahnya, terlempar ke lorong waktu yang tak lagi ramah. Permohonan dipanjatkan dengan lutut yang gemetar, usaha ditegakkan dengan tulang yang hampir patah, namun takdir tetap berdiri dingin, seolah menutup telinga dari jeritan paling sunyi.

Hati dipukul seperti tanah jajahan, dibagi, dijarah, dan ditinggalkan. Akal kehilangan kompas, berputar di antara rasa bersalah dan pertanyaan yang tak berjawab. Jiwa seperti kota yang lampunya dipadamkan paksa; hidup berjalan, tetapi tanpa cahaya. Pada titik itu, keberadaan nyaris tak lebih dari bayang-bayang: bernapas tanpa tujuan, bergerak tanpa arah. Seandainya iman tak menyisakan sebutir pasir di dasar dada, barangkali dunia hanya akan mengenang sebagai kisah yang terhenti sebelum sampai pada makna, atau tubuh yang hidup dengan pikiran yang tercerai-berai.
Namun sejarah manusia selalu menyimpan bab tentang solidaritas. Dari kedalaman paling gelap, hadir sahabat-sahabat yang menolak pergi, mereka yang memilih tinggal ketika dunia meminta menyerah. Mereka bukan sekadar teman, melainkan barisan kecil yang memahami bahwa luka personal adalah urusan kolektif. Ibu hadir sebagai madrasah kesabaran; setiap doanya adalah benteng, setiap pelukannya adalah ayat yang hidup. Ayah berdiri sebagai qiyam yang kokoh, mengajarkan bahwa laki-laki boleh runtuh, tetapi tidak boleh menyerah pada kehinaan. Dari mereka, hidup belajar ulang tentang makna umat: bahwa manusia diselamatkan bukan oleh kesendirian, melainkan oleh kebersamaan yang berani.
Di tengah reruntuhan itu, hadir seorang perempuan, tanpa gemuruh, tanpa janji bombastis. perempuan yang senang membaca, menelaah, dan merefleksikan makna skolastik dan nihilis. Ia datang seperti subuh: perlahan, jujur, dan mengusir gelap tanpa memaki malam. Perempuan itu membawa keberanian untuk membuka tabir pikiran, menantang dogma-dogma yang memenjarakan, dan mengajak berdialog dengan luka tanpa menghakimi. Di hadapannya, cinta tidak menjelma pelarian emosional, melainkan ruang tumbuh yang dewasa. Keterbukaan menjadi ibadah, kejujuran menjadi adab, dan keberanian menjadi iman yang bekerja.
Kesembuhan pun tidak turun sebagai keajaiban instan, melainkan sebagai proses panjang: menyusun ulang diri, menegakkan kembali harga diri, dan memaknai penderitaan sebagai kurikulum kehidupan. Dari sanalah bangkit bukan sekadar berdiri, tetapi berbaris. Karier menanjak bukan untuk memuaskan ego, melainkan sebagai alat perjuangan; pekerjaan menemukan kestabilannya bukan untuk menimbun, melainkan untuk mengalirkan. Rezeki datang deras, namun tak disambut dengan rakus, ia dipahami sebagai titipan sejarah, amanah sosial yang di dalamnya bersemayam hak orang lain.
Di titik ini, iman menemukan wajah progresifnya. Tauhid tidak berhenti pada langit, tetapi turun ke bumi sebagai keberpihakan. Islam dibaca sebagai agama pembebasan, membebaskan manusia dari keputusasaan, dari feodalisme nasib, dari tirani luka. Doa berjalan seiring kerja, zikir berdampingan dengan ikhtiar, cinta menyatu dengan keadilan. Tidak ada lagi ruang bagi pasrah yang malas; yang ada hanyalah tawakal yang militan.
Tahun itu pun ditutup bukan dengan euforia, melainkan dengan kesadaran yang matang. Luka tidak dihapus, tetapi ditransformasikan. Air mata tidak disangkal, tetapi dijadikan saksi perjalanan. Seorang lelaki berdiri kembali, bukan sebagai pahlawan tunggal, melainkan sebagai bagian dari arus panjang manusia yang percaya bahwa jatuh adalah bahasa Tuhan, bangkit adalah jawaban manusia, dan hidup adalah jihad sunyi untuk memanusiakan diri dan sesama.













