Penulis : Moch Fahmi Amiruddin
Filsafat modern awal tidak lahir dari keheningan, melainkan dari keretakan panjang yang merambat pelan di tubuh Eropa. Ia bukan sekadar bab baru dalam buku filsafat, melainkan pergeseran kosmik cara manusia memahami kebenaran. Abad Pertengahan adalah zaman langit yang penuh makna: Tuhan transenden, Gereja sebagai penafsir tunggal, dan manusia sebagai peziarah pasif di dunia sementara. Pengetahuan tidak dicari, melainkan diwariskan; tidak dipersoalkan, melainkan ditaati.

Namun sejarah, seperti akal, selalu gelisah. Sejak abad ke-15, retakan epistemologis mulai terasa. Jatuhnya Konstantinopel (1453) mengalirkan naskah Yunani ke Barat, Renaisans menghidupkan kembali martabat manusia, Reformasi Protestan (1517) mengguncang otoritas Gereja, dan Revolusi Ilmiah (1543) memaksa manusia menatap langit tanpa tafsir kitab suci. Dunia tidak runtuh, tetapi pusatnya bergeser.
Dalam bahasa Islam, inilah momen ijtihad historis: akal menolak taqlid struktural, bukan demi kesombongan, tetapi demi kebebasan berpikir. Modernitas awal adalah upaya manusia Barat merebut kembali haknya untuk bertanya.
Masalah Pokok: Dari Mana Pengetahuan Harus Berasal?
Pertanyaan ini sederhana, tetapi daya ledaknya revolusioner:
Apakah kebenaran datang dari wahyu, tradisi, dan otoritas, atau dari akal manusia sendiri?
Rasionalisme menjawab dengan keberanian yang nyaris politis: akal adalah sumber pengetahuan yang sah dan otonom. Indera dapat menipu, sejarah dapat bias, otoritas dapat korup. Tetapi akal, jika bekerja secara metodis, mampu mencapai kebenaran yang niscaya.
Rasionalisme bukan penolakan terhadap Tuhan, melainkan penolakan terhadap monopoli penafsiran kebenaran. Dalam bayang-bayang Islam, ia menyerupai sikap Mu‘tazilah: rasio bukan musuh iman, tetapi alat emansipasi dari kuasa dogmatis.
René Descartes (1596–1650): Cogito sebagai Titik Nol Sejarah Modern
Descartes hidup di masa ketidakpastian. Perang agama merobek Eropa, otoritas lama runtuh, dan ilmu baru belum mapan. Dalam situasi ini, ia memilih jalan radikal: meragukan segalanya. Keraguan bukan sikap skeptis pasif, melainkan metode pembebasan.
Ia menyingkirkan indera, tradisi, bahkan matematika—hingga hanya tersisa satu fakta yang tak dapat diruntuhkan:
Cogito, ergo sum — Aku berpikir, maka aku ada.
Cogito adalah syahadat modern: pengakuan eksistensi tanpa perantara. Subjek menjadi fondasi pengetahuan. Tuhan tidak ditolak, tetapi ditempatkan sebagai penjamin rasionalitas, bukan pengganti akal.
Dalam bahasa majaz: Descartes memulai modernitas dengan menyendiri, mengasingkan diri dari dunia, dan menemukan bahwa kesadaran adalah tanah pertama tempat kebenaran bisa berpijak.
Baruch Spinoza (1632–1677): Tuhan yang Tidak Bersemayam di Singgasana
Jika Descartes membangun fondasi subjek, Spinoza membongkar istana langit. Ia hidup dalam pengucilan, dituduh sesat, dan diasingkan dari komunitasnya. Tetapi justru dari pinggiran itulah lahir filsafat yang radikal.
Spinoza menolak dualisme. Baginya, hanya ada satu substansi:
Deus sive Natura — Tuhan atau Alam.
Tuhan tidak berada di luar dunia, tidak memerintah dari kejauhan, tetapi hadir dalam setiap gerak, sebab, dan keberadaan. Segala sesuatu adalah ekspresi dari-Nya.
Spinoza menulis dengan gaya geometris, seakan ingin mengatakan: Tuhan tidak butuh retorika, cukup rasionalitas. Kebebasan bukanlah melawan hukum alam, melainkan memahami keniscayaan.
Dalam tafsir Islam, Spinoza adalah sufi tanpa wirid: ia membumikan ketuhanan, meruntuhkan hierarki sakral, dan membuka jalan etika yang berpihak pada kehidupan konkret.
Gottfried Wilhelm Leibniz (1646–1716): Harmoni Tanpa Tirani
Leibniz mencoba mendamaikan rasio dan iman tanpa mengorbankan keduanya. Ia mengajukan konsep monad: unit realitas spiritual yang tak terbagi dan mandiri.
Setiap monad adalah dunia kecil, cermin semesta, tanpa saling memengaruhi secara kausal. Keselarasan dunia dijamin oleh harmoni pra-estabil yang ditetapkan Tuhan.
Dunia, bagi Leibniz, bukan medan konflik brutal, melainkan orkestra kosmik. Dalam metafora Islam : masyarakat ideal bukanlah penyeragaman, melainkan keberagaman yang diselaraskan tanpa penindasan.
Epilog Panjang: Rasionalisme dan Ambiguitas Pembebasan
Rasionalisme adalah proyek pembebasan akal, tetapi juga benih ambiguitas modernitas. Ia membongkar dogma, namun kelak melahirkan rasio instrumental. Ia memerdekakan subjek, tetapi kemudian dipakai untuk menundukkan alam dan manusia lain.
Dalam kacamata Islam, Rasionalisme Modern Awal adalah ijtihad yang belum selesai. Akal telah dibebaskan dari langit, tetapi belum sepenuhnya turun membela yang tertindas.
Maka tugas filsafat hari ini bukan kembali ke taqlid, tetapi melampaui cogito: menjadikan akal bukan hanya alat mengetahui, melainkan alat pembebasan sosial.
Di sanalah rasionalisme menemukan makna etiknya—bukan sekadar berpikir, tetapi berpihak.












