Menu

Mode Gelap
Komisi I DPRD KBB Tinjau Lokasi Bencana di Desa Kertawangi, Sandi Supyandi: “Negara Tidak Boleh Absen di Tengah Derita Warga” EMPIRISME: KETIKA AKAL TURUN KE TANAH Doa Solidaritas dan Rakerancab GP Ansor Cipeundeuy Teguhkan Kepedulian Kemanusiaan dan Konsolidasi Organisasi Ketika Dunia Mengutuk, Langit Mencatat Ketika Akal Menggugat Takhta Langit: Rasionalisme dan Awal Modernitas Cahaya yang Tak Pernah Padam: Haul Pendiri dan Masyayikh Al-Masthuriyah 2026

Artikel

Iman Tak Pernah Netral: Banser di Antara Ketakutan dan Harapan

badge-check


					Iman Tak Pernah Netral: Banser di Antara Ketakutan dan Harapan Perbesar

Penulis : Moch Fahmi Amiruddin

Ada seseorang bertanya kepadaku, dengan nada yang tampak polos tapi menyimpan cara pandang, pertanyaan itu datang bukan sebagai tanya biasa, melainkan sebagai gema dari cara berpikir lama:

“Mengapa Ansor–Banser menjaga gereja di Hari Natal, tetapi pada Idul Fitri dan Idul Adha tidak pernah terlihat mengawal?”
Pertanyaan ini seperti melihat laut dari gelas, sempit, tapi merasa sudah paham ombak.

Ansor dan Banser tidak berjalan dengan kompas balas-jasa. Mereka berjalan dengan ingatan sejarah. Ingatan bahwa iman, ketika berhadapan dengan kekuasaan dan ketakutan, harus memilih posisi: berdiri bersama yang aman, atau menjaga yang terancam. Banser sejak lahir memilih pilihan kedua.

Gereja di Hari Natal adalah pelita yang sering menyala di tengah angin kencang. Sejarah Indonesia mencatat, dengan tinta luka, bahwa Natal berkali-kali dikepung ancaman: teror, intimidasi, kebencian yang menyamar sebagai kesalehan. Di titik itulah Banser berdiri seperti tembok hidup. Bukan karena gereja itu lemah, tetapi karena sejarah belum sepenuhnya adil. Banser hadir bukan untuk membela iman lain, melainkan untuk menjaga agar manusia tidak tumbang oleh tafsir agama yang kehilangan nurani.

Sementara Idul Fitri dan Idul Adha adalah matahari di siang bolong. Umat Islam berdiri sebagai mayoritas, sebagai arus besar sejarah. Masjid dan lapangan dipenuhi manusia, negara hadir berlapis, keamanan menyatu dengan ritual. Dalam situasi itu, Banser tidak perlu berdiri sebagai pagar, karena pagar sudah menjadi tembok. Banser tidak absen, Banser melebur. Ia menjadi jamaah, menjadi warga, menjadi bagian dari denyut umat itu sendiri. Ketika sungai sedang tenang, penjaga tidak perlu meniup peluit.

Di sinilah filsafat militansi Banser bekerja:

Hadir bukan karena ingin terlihat, tetapi karena ada yang perlu dilindungi.

Banser bukan barisan yang menjaga yang sudah kuat, melainkan pasukan yang menutup celah ketidakadilan sebelum berubah menjadi tragedi.

Dalam pandangan Islam, iman bukan soal siapa yang paling sering dikawal, tetapi siapa yang paling membutuhkan perlindungan. Tauhid sosial mengajarkan bahwa Tuhan tidak tinggal di simbol, melainkan bersemayam dalam keselamatan manusia. Maka menjaga gereja di Hari Natal adalah bentuk paling konkret dari keberpihakan ideologis: berpihak pada yang rentan, pada yang sering sendirian menghadapi ketakutan.

Jika ada yang bertanya dengan nada menuntut simetri,
“Mengapa tidak seimbang?”
Jawabannya tegas dan dingin seperti baja:

karena keadilan bukan soal kesamaan perlakuan, tetapi ketepatan keberpihakan.

Banser tidak mengawal Idul Fitri karena Idul Fitri tidak terancam. Banser mengawal Natal karena sejarah belum selesai berdamai dengan perbedaan. Banser berdiri bukan di antara agama, melainkan di antara kekerasan dan kehidupan.

Ansor dan Banser adalah barisan yang meyakini satu hal: Islam tidak kehilangan apa pun ketika menjaga yang berbeda. Justru di situlah Islam menemukan wajahnya yang paling radikal, iman yang berani turun ke jalan, menolak ketakutan, dan memilih melindungi manusia sebelum memperdebatkan identitas.

Maka ketika Banser menjaga gereja di Hari Natal dan larut dalam shalat Id di Hari Raya Islam, itu bukan kontradiksi. Itu satu garis lurus sejarah.

Sejarah iman yang menolak diam, menolak netral, dan menolak membiarkan satu pun manusia beribadah dalam rasa takut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Komisi I DPRD KBB Tinjau Lokasi Bencana di Desa Kertawangi, Sandi Supyandi: “Negara Tidak Boleh Absen di Tengah Derita Warga”

30 Januari 2026 - 16:03 WIB

EMPIRISME: KETIKA AKAL TURUN KE TANAH

28 Januari 2026 - 18:35 WIB

Doa Solidaritas dan Rakerancab GP Ansor Cipeundeuy Teguhkan Kepedulian Kemanusiaan dan Konsolidasi Organisasi

25 Januari 2026 - 15:34 WIB

Ketika Dunia Mengutuk, Langit Mencatat

25 Januari 2026 - 08:45 WIB

Ketika Akal Menggugat Takhta Langit: Rasionalisme dan Awal Modernitas

22 Januari 2026 - 08:41 WIB

Trending di Artikel