Nuqtoh.or.id, Cibadak, Sukabumi 24/12/2025— Di malam Natal yang hening, ketika lonceng gereja berbaur dengan napas doa, sahabat-sahabat Banser Cibadak berdiri tegak seperti lentera di tepi jalan sejarah. Bukan sekadar pengamanan, melainkan ikhtiar iman yang menjelma sikap: menjaga damai adalah ibadah yang bergerak.
Di halaman Gereja Cibadak, seragam Banser menjadi simbol pagar nurani. Mereka bukan hanya menutup celah keamanan, tetapi membuka ruang kepercayaan. Inilah wajah Islam yang berpenjaga, tegas dalam prinsip, lembut dalam laku; militan dalam nilai, teduh dalam pergaulan.


Ketua PAC GP Ansor Cibadak, Ahmad Pulin, menegaskan bahwa kehadiran Banser adalah amanah sejarah. “Kami hadir sebagai penjaga kehidupan bersama. Damai bukan hadiah, ia diperjuangkan, dengan disiplin, ketulusan, dan kesiapsiagaan,” ujarnya. Dalam bahasa laku, Banser membuktikan bahwa iman tidak hanya diucap, tapi dijaga.
Satkoryon Banser, Tajul Arif, menyampaikan bahwa kesiapsiagaan adalah doa yang dipanjatkan lewat kerja. “Barisan kami adalah dzikir yang bergerak. Setiap langkah pengamanan adalah niat baik agar saudara-saudara kita beribadah dengan khusyuk dan aman,” tuturnya. Militansi Banser bukan pada amarah, melainkan pada konsistensi menjaga kemanusiaan.

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Sukabumi, Ahmad Firdaus, menegaskan posisi ideologis Ansor-Banser sebagai penyangga NKRI dan penafsir hidup Islam rahmatan lil ‘alamin. “Menjaga gereja di malam Natal adalah pelajaran tauhid sosial: mengakui martabat manusia, merawat persaudaraan kebangsaan, dan membuktikan bahwa iman tak pernah takut pada perbedaan,” tegasnya.
Pengamanan ini menjadi narasi besar tentang Indonesia: ketika iman berjumpa kebangsaan, lahirlah keberanian yang menenangkan. Banser Cibadak menunjukkan bahwa keamanan adalah bahasa cinta yang paling konkret, berdiri, berjaga, dan memastikan setiap doa sampai ke langit tanpa rasa cemas.
Di Cibadak, malam Natal berlalu dengan damai. Dan di balik ketenangan itu, ada barisan yang setia menjaga. Karena bagi Banser, menjaga damai adalah jihad kemanusiaan; sebuah pengabdian sunyi yang maknanya bergema panjang.
____
Editor : Moch Fahmi Amiruddin











