Penulis : Moch Fahmi Amiruddin
Filsafat tidak lahir dari singgasana, apalagi dari fatwa kekuasaan. Ia lahir dari keheranan yang menolak tunduk. Pada masa ketika dunia dijelaskan melalui silsilah para dewa dan kehendak langit, sekelompok manusia di pesisir Ionia berani melakukan dosa intelektual: menafsirkan semesta tanpa izin mitos. Inilah titik mula filsafat Pra-Sokratik, sebuah pembelotan kesadaran dari cerita suci yang memelihara ketakutan.

Mereka menyebut pencarian ini dengan satu kata: arkhe (asal-usul segala sesuatu). Tetapi arkhe bukan sekadar soal zat; ia adalah pertarungan tentang siapa yang berhak memberi makna atas realitas. Dalam bahasa Islam, ini adalah momen awal tauhid sosial: pembebasan makna dari berhala-berhala simbolik yang menjustifikasi ketimpangan.
Thales: Ketika Alam Bicara Lebih Jujur daripada Dewa
Di kota pelabuhan Miletus, Thales memulai laku filsafat bukan dari kitab, tetapi dari kehidupan yang dilihat dan disentuh. Ia melihat ladang yang subur karena air, tubuh yang hidup karena cairan, dan kota yang bertahan karena sumber mata air. Maka ia berkata: air adalah asal segala sesuatu.
Pernyataan ini terdengar sederhana, tetapi ia menghantam fondasi ideologis zamannya. Thales tidak bertanya siapa dewa yang mencipta, melainkan apa yang menopang kehidupan. Ini adalah pergeseran radikal: dari teologi mitologis menuju materialitas kehidupan. Air, yang mengalir ke tempat rendah dan menghidupi yang kecil, menjadi simbol keberpihakan.
Dalam pembacaan Islam, Thales mengajarkan bahwa kebenaran lahir dari realitas yang dialami rakyat, bukan dari menara langit kekuasaan. Ia adalah suara awal bahwa Tuhan (jika dibaca secara etis) berpihak pada kehidupan, bukan pada simbol yang membekukan akal.
Thales hidup di Miletus (abad ke-6 SM), sebuah kota pelabuhan di Ionia. Miletus bukan kota suci, melainkan ruang perjumpaan: pedagang, pelaut, astronom, dan budaya Mesir (Babilonia) bertemu. Dari sinilah filsafat lahir, bukan dari istana, tetapi dari pengamatan kehidupan sehari-hari.
Thales memperhatikan satu hal sederhana namun menentukan: semua yang hidup membutuhkan air. Tanah subur karena air, benih tumbuh karena air, tubuh manusia bertahan karena air. Dari pengamatan konkret inilah ia menyimpulkan: air adalah asal-usul (arkhe) segala sesuatu.
Yang revolusioner bukan jawabannya, melainkan caranya berpikir:
-
Ia tidak menyebut dewa
-
Ia tidak mengutip mitos
-
Ia tidak bersandar pada wahyu
Ia berkata: alam dapat dijelaskan oleh alam itu sendiri.
Anaximandros: Ketika Pikiran Menolak Menjadi Dogma
Namun murid Thales, Anaximandros, menolak berhenti pada jawaban yang terasa mapan. Ia bertanya dengan keberanian ideologis: jika air adalah asal segalanya, dari mana air berasal? Dari pertanyaan inilah lahir konsep apeiron, yang tak berbatas, tak terhingga, tak dapat diklaim.
Apeiron adalah kritik terhadap segala bentuk finalitas. Ia menolak kesimpulan yang terlalu cepat dan menentang pengetahuan yang mengeras menjadi dogma. Secara filosofis, Anaximandros sedang mengatakan: realitas lebih luas daripada bahasa kita tentangnya.
Ini adalah lompatan filsafat:
-
Dari konkret ke abstrak
-
Dari zat ke prinsip
-
Dari kepastian ke keterbukaan
Dalam kehidupan sosial, ini adalah kritik terhadap ideologi yang merasa diri paling benar. Islam menemukan resonansinya di sini: iman tidak untuk membekukan nalar, melainkan membebaskannya dari klaim absolut yang menindas. Apeiron adalah pengingat bahwa keadilan selalu menuntut keterbukaan dan koreksi.
Heraclitus: Api, Konflik, dan Etika Perubahan
Jika Thales berbicara tentang dasar kehidupan, dan Anaximandros tentang keterbukaan makna, Heraclitus datang membawa api. Ia hidup di tengah konflik kota Efesus dan menyimpulkan bahwa perubahan adalah hukum semesta. Panta rhei, segala sesuatu mengalir.
Api bukan sekadar unsur, melainkan metafora praksis. Ia menyala karena pertentangan, hidup karena perubahan, dan mati jika dibekukan. Heraclitus menolak stabilitas palsu yang dipelihara oleh elite. Ia mengajarkan bahwa keadilan lahir dari keberanian menghadapi konflik, bukan dari ketertiban semu.
Dalam nuansa Islam, Heraclitus adalah teolog praksis sebelum agama disistematisasi. Ia mengingatkan bahwa iman tanpa gerak adalah kematian moral, dan perubahan sosial adalah sunnatullah yang tak bisa dibungkam oleh status quo.
Parmenides: Keteguhan Prinsip di Tengah Arus
Namun perubahan tanpa pijakan bisa menjadi kekacauan. Di sinilah Parmenides berdiri sebagai penyeimbang. Ia menegaskan bahwa yang ada adalah ada, dan perubahan yang tampak sering menipu indera. Ia memaksa manusia untuk berpikir disiplin, konsisten, dan tidak larut dalam sensasi.
Parmenides datang sebagai penantang Heraclitus. Ia melihat perubahan sebagai ilusi indera. Baginya:
-
Yang ada, ada
-
Yang tidak ada, tidak mungkin ada
Ia menegaskan bahwa keberadaan bersifat satu, tetap, dan niscaya. Dengan ini, Parmenides mengajarkan disiplin rasional: jangan mudah percaya pada apa yang tampak berubah.
Parmenides bukan musuh perubahan, melainkan penjaga prinsip. Ia mengingatkan bahwa di tengah arus sejarah, manusia membutuhkan komitmen etis yang tak mudah digeser. Dalam bahasa Islam, ini adalah amanah nilai: keadilan, keberpihakan, dan kemanusiaan tidak boleh dikorbankan atas nama pragmatisme.
Arkhe sebagai Jalan Pembebasan
Thales, Anaximandros, Heraclitus, dan Parmenides bukan sekadar tahap sejarah. Mereka adalah empat wajah kesadaran:
- keberpihakan pada kehidupan nyata,
- keberanian menolak dogma,
- komitmen pada perubahan,
- dan keteguhan prinsip.
Pencarian arkhe adalah latihan spiritual yang paling awal: mengosongkan mitos, membebaskan akal, dan memihak pada kehidupan. Dalam semangat Islam, inilah tauhid yang turun ke bumi, menolak segala bentuk penyekutuan kebenaran oleh kuasa, dan menegaskan bahwa berpikir adalah ibadah sosial.
Filsafat Pra-Sokratik mengajarkan satu hal penting: dunia tidak diwariskan untuk ditelan, tetapi untuk dibaca dan diperjuangkan. Dan dari keberanian membaca itulah, sejarah pembebasan manusia dimulai.













