Penulis : Moch Fahmi Amiruddin
Abad ke-17 Eropa adalah panggung besar pergulatan akal. Di satu sisi berdiri Rasionalisme—Descartes, Spinoza, Leibniz—dengan keyakinan bahwa kebenaran lahir dari rasio murni, ide bawaan (innate ideas), dan kepastian matematis. Di sisi lain, sejarah bergolak: revolusi sains, runtuhnya otoritas gereja, bangkitnya borjuasi, dan luka panjang feodalisme.

Rasionalisme membangun istana di awang-awang: indah, logis, tapi jauh dari tanah tempat manusia bekerja, lapar, dan berjuang. Di titik inilah Empirisme lahir—bukan sebagai sekadar aliran filsafat, tetapi sebagai pemberontakan epistemologis.
Jika rasionalisme berkata:
“Aku berpikir, maka aku ada”
Empirisme menjawab:
“Aku mengalami, maka aku mengerti.”
TRANSISI HISTORIS: DARI RASIO KE PENGALAMAN
(± 1640–1750 M)
Peralihan dari rasionalisme ke empirisme tidak terjadi dalam ruang hampa. Ia adalah produk sejarah material:
- Revolusi Ilmiah
Galileo (1564–1642), Newton (1643–1727) menunjukkan bahwa alam tidak tunduk pada ide bawaan, tapi pada observasi dan eksperimen. - Perubahan Struktur Sosial
Bangkitnya kelas menengah menuntut pengetahuan yang berguna, bukan spekulatif. Pengetahuan harus turun ke pasar, ke bengkel, ke ladang. - Krisis Otoritas Gereja dan Metafisika
Kebenaran tak lagi diterima karena “turun dari langit”, tetapi diuji di dunia.
Di sinilah empirisme berdiri sebagai teologi baru tanpa mimbar:
pengalaman inderawi menjadi wahyu, manusia menjadi subjek pengetahuan.
JOHN LOCKE (1632–1704)
Tabula Rasa: Membebaskan Akal dari Takdir Elitis
Locke adalah pintu gerbang empirisme modern. Dalam An Essay Concerning Human Understanding (1690), ia menggugat fondasi rasionalisme.
Pokok Pemikiran
Locke menolak ide bawaan. Akal manusia saat lahir adalah tabula rasa—lembaran kosong. Segala pengetahuan datang dari:
- Sensation – pengalaman inderawi (melihat, mendengar, meraba)
- Reflection – refleksi batin atas pengalaman tersebut
Jika rasionalisme menganggap manusia lahir membawa “takdir intelektual”, Locke berkata: tak ada manusia yang ditakdirkan bodoh atau mulia sejak lahir. Ini adalah filsafat anti-feodalisme epistemik.
Locke sejalan dengan spirit tauhid sosial:
- Menolak aristokrasi pengetahuan
- Membebaskan manusia dari klaim kebenaran yang diwariskan
- Menegaskan bahwa kesadaran dibentuk oleh realitas hidup
Seperti prinsip Islam pembebasan:
“Manusia tidak dilahirkan sebagai tuan atau budak—tetapi dijadikan demikian oleh sistem.”
GEORGE BERKELEY (1685–1753)
Idealisme Subjektif: Ketika Materi Dipertanyakan
Berkeley melangkah lebih radikal, bahkan mengguncang empirisme dari dalam.
Pokok Pemikiran
Semboyannya terkenal:
Esse est percipi
Ada berarti dipersepsi.
Menurut Berkeley:
- Materi tidak memiliki eksistensi independen
- Yang ada hanyalah persepsi dalam pikiran
Meja, batu, pohon, semuanya ada sejauh dipersepsi. Konsekuensi Radikal Jika tidak ada yang mempersepsi, apakah dunia lenyap?
Berkeley menjawab:
Tidak, karena Tuhan selalu mempersepsi.
Berkeley seperti seorang sufi yang berkata:
“Yang kau kira dunia, hanyalah bayangan dalam kesadaran.”
Namun bedanya:
- Sufi meleburkan diri dalam realitas Ilahi
- Berkeley tetap mempertahankan Tuhan sebagai “penjaga stabilitas persepsi”
Di sinilah Berkeley problematik:
- Ia menyingkirkan materi, padahal penindasan bersifat material
- Dunia kemiskinan, kerja, dan ketimpangan tak bisa diselesaikan dengan persepsi semata
Empirisme Berkeley menjadi terlalu spiritual, nyaris meninggalkan bumi.
DAVID HUME (1711–1776)
Skeptisisme Kausalitas: Runtuhnya Kepastian
Hume adalah ledakan terakhir empirisme, dan sekaligus penguburannya.
Pokok Pemikiran
Hume membagi pengalaman menjadi:
- Impressions – kesan langsung (kuat, hidup)
- Ideas – salinan lemah dari kesan
Lalu ia menggugat konsep paling sakral dalam filsafat: Kausalitas
Masalah Kausalitas Kita percaya:
api → panas
pukulan → sakit
Tapi menurut Hume:
- Kita tidak pernah melihat sebab-akibat
- Yang kita lihat hanya keteraturan berulang
- Kausalitas hanyalah kebiasaan mental
Konsekuensi Dahsyat
- Ilmu pengetahuan kehilangan kepastian mutlak
- Tuhan tidak bisa dibuktikan secara rasional
- Moralitas bukan hukum kosmik, tapi sentimen manusia
Hume adalah tukang palu yang menghancurkan pilar terakhir kepastian:
“Yang kau sebut hukum alam hanyalah ingatan yang terlalu percaya diri.”
Hume membuka ruang:
- Kritik terhadap absolutisme
- Kesadaran bahwa kebenaran bersifat historis
- Pengetahuan harus selalu dikaitkan dengan praksis manusia
Namun skeptisisme Hume juga berbahaya: tanpa arah etis, ia bisa melumpuhkan perjuangan.
PERDEBATAN BESAR: RASIONALISME VS EMPIRISME
| Rasionalisme | Empirisme |
|---|---|
| Ide bawaan | Pikiran kosong |
| Kepastian rasional | Probabilitas pengalaman |
| Metafisika | Observasi |
| Kebenaran universal | Kebenaran historis |
Rasionalisme kuat dalam struktur, lemah dalam realitas. Empirisme kuat dalam pengalaman, rapuh dalam kepastian.
Ketegangan ini akhirnya melahirkan Immanuel Kant (1724–1804):
“Pengalaman tanpa konsep adalah buta,
konsep tanpa pengalaman adalah kosong.”
Epilog
Dalam kacamata Islam, empirisme bukan sekadar teori pengetahuan, tetapi sikap politik:
- Menolak kebenaran yang turun dari menara gading
- Memihak pengalaman manusia tertindas
- Menjadikan realitas sebagai titik tolak tafsir
Seperti wahyu yang pertama turun:
Iqra’
bukan “hafalkan”,
tetapi bacalah realitas.
Empirisme mengajarkan:
bahwa kebenaran tidak lahir dari langit abstrak,
melainkan dari tanah yang diinjak manusia,
dari peluh, luka, dan pengalaman hidup.












