Menu

Mode Gelap
Komisi I DPRD KBB Tinjau Lokasi Bencana di Desa Kertawangi, Sandi Supyandi: “Negara Tidak Boleh Absen di Tengah Derita Warga” EMPIRISME: KETIKA AKAL TURUN KE TANAH Doa Solidaritas dan Rakerancab GP Ansor Cipeundeuy Teguhkan Kepedulian Kemanusiaan dan Konsolidasi Organisasi Ketika Dunia Mengutuk, Langit Mencatat Ketika Akal Menggugat Takhta Langit: Rasionalisme dan Awal Modernitas Cahaya yang Tak Pernah Padam: Haul Pendiri dan Masyayikh Al-Masthuriyah 2026

Artikel

EMPIRISME: KETIKA AKAL TURUN KE TANAH

badge-check


					EMPIRISME: KETIKA AKAL TURUN KE TANAH Perbesar

Penulis : Moch Fahmi Amiruddin

Abad ke-17 Eropa adalah panggung besar pergulatan akal. Di satu sisi berdiri Rasionalisme—Descartes, Spinoza, Leibniz—dengan keyakinan bahwa kebenaran lahir dari rasio murni, ide bawaan (innate ideas), dan kepastian matematis. Di sisi lain, sejarah bergolak: revolusi sains, runtuhnya otoritas gereja, bangkitnya borjuasi, dan luka panjang feodalisme.

Rasionalisme membangun istana di awang-awang: indah, logis, tapi jauh dari tanah tempat manusia bekerja, lapar, dan berjuang. Di titik inilah Empirisme lahir—bukan sebagai sekadar aliran filsafat, tetapi sebagai pemberontakan epistemologis.

Jika rasionalisme berkata:

“Aku berpikir, maka aku ada”

Empirisme menjawab:

“Aku mengalami, maka aku mengerti.”

TRANSISI HISTORIS: DARI RASIO KE PENGALAMAN

(± 1640–1750 M)

Peralihan dari rasionalisme ke empirisme tidak terjadi dalam ruang hampa. Ia adalah produk sejarah material:

  1. Revolusi Ilmiah
    Galileo (1564–1642), Newton (1643–1727) menunjukkan bahwa alam tidak tunduk pada ide bawaan, tapi pada observasi dan eksperimen.
  2. Perubahan Struktur Sosial
    Bangkitnya kelas menengah menuntut pengetahuan yang berguna, bukan spekulatif. Pengetahuan harus turun ke pasar, ke bengkel, ke ladang.
  3. Krisis Otoritas Gereja dan Metafisika
    Kebenaran tak lagi diterima karena “turun dari langit”, tetapi diuji di dunia.

Di sinilah empirisme berdiri sebagai teologi baru tanpa mimbar:
pengalaman inderawi menjadi wahyu, manusia menjadi subjek pengetahuan.

JOHN LOCKE (1632–1704)

Tabula Rasa: Membebaskan Akal dari Takdir Elitis

Locke adalah pintu gerbang empirisme modern. Dalam An Essay Concerning Human Understanding (1690), ia menggugat fondasi rasionalisme.

Pokok Pemikiran

Locke menolak ide bawaan. Akal manusia saat lahir adalah tabula rasa—lembaran kosong. Segala pengetahuan datang dari:

  1. Sensation – pengalaman inderawi (melihat, mendengar, meraba)
  2. Reflection – refleksi batin atas pengalaman tersebut

Jika rasionalisme menganggap manusia lahir membawa “takdir intelektual”, Locke berkata: tak ada manusia yang ditakdirkan bodoh atau mulia sejak lahir. Ini adalah filsafat anti-feodalisme epistemik.

Locke sejalan dengan spirit tauhid sosial:

  • Menolak aristokrasi pengetahuan
  • Membebaskan manusia dari klaim kebenaran yang diwariskan
  • Menegaskan bahwa kesadaran dibentuk oleh realitas hidup

Seperti prinsip Islam pembebasan:

“Manusia tidak dilahirkan sebagai tuan atau budak—tetapi dijadikan demikian oleh sistem.”

GEORGE BERKELEY (1685–1753)

Idealisme Subjektif: Ketika Materi Dipertanyakan

Berkeley melangkah lebih radikal, bahkan mengguncang empirisme dari dalam.

Pokok Pemikiran

Semboyannya terkenal:

Esse est percipi

Ada berarti dipersepsi.

Menurut Berkeley:

  • Materi tidak memiliki eksistensi independen
  • Yang ada hanyalah persepsi dalam pikiran

Meja, batu, pohon, semuanya ada sejauh dipersepsi. Konsekuensi Radikal Jika tidak ada yang mempersepsi, apakah dunia lenyap?

Berkeley menjawab:

Tidak, karena Tuhan selalu mempersepsi.

Berkeley seperti seorang sufi yang berkata:

“Yang kau kira dunia, hanyalah bayangan dalam kesadaran.”

Namun bedanya:

  • Sufi meleburkan diri dalam realitas Ilahi
  • Berkeley tetap mempertahankan Tuhan sebagai “penjaga stabilitas persepsi”

Di sinilah Berkeley problematik:

  • Ia menyingkirkan materi, padahal penindasan bersifat material
  • Dunia kemiskinan, kerja, dan ketimpangan tak bisa diselesaikan dengan persepsi semata

Empirisme Berkeley menjadi terlalu spiritual, nyaris meninggalkan bumi.

DAVID HUME (1711–1776)

Skeptisisme Kausalitas: Runtuhnya Kepastian

Hume adalah ledakan terakhir empirisme, dan sekaligus penguburannya.

Pokok Pemikiran

Hume membagi pengalaman menjadi:

  1. Impressions – kesan langsung (kuat, hidup)
  2. Ideas – salinan lemah dari kesan

Lalu ia menggugat konsep paling sakral dalam filsafat: Kausalitas

Masalah Kausalitas Kita percaya:

api → panas
pukulan → sakit

Tapi menurut Hume:

  • Kita tidak pernah melihat sebab-akibat
  • Yang kita lihat hanya keteraturan berulang
  • Kausalitas hanyalah kebiasaan mental

Konsekuensi Dahsyat

  • Ilmu pengetahuan kehilangan kepastian mutlak
  • Tuhan tidak bisa dibuktikan secara rasional
  • Moralitas bukan hukum kosmik, tapi sentimen manusia

Hume adalah tukang palu yang menghancurkan pilar terakhir kepastian:

“Yang kau sebut hukum alam hanyalah ingatan yang terlalu percaya diri.”

Hume membuka ruang:

  • Kritik terhadap absolutisme
  • Kesadaran bahwa kebenaran bersifat historis
  • Pengetahuan harus selalu dikaitkan dengan praksis manusia

Namun skeptisisme Hume juga berbahaya: tanpa arah etis, ia bisa melumpuhkan perjuangan.

PERDEBATAN BESAR: RASIONALISME VS EMPIRISME

Rasionalisme Empirisme
Ide bawaan Pikiran kosong
Kepastian rasional Probabilitas pengalaman
Metafisika Observasi
Kebenaran universal Kebenaran historis

Rasionalisme kuat dalam struktur, lemah dalam realitas. Empirisme kuat dalam pengalaman, rapuh dalam kepastian.

Ketegangan ini akhirnya melahirkan Immanuel Kant (1724–1804):

“Pengalaman tanpa konsep adalah buta,
konsep tanpa pengalaman adalah kosong.”

Epilog

Dalam kacamata Islam, empirisme bukan sekadar teori pengetahuan, tetapi sikap politik:

  • Menolak kebenaran yang turun dari menara gading
  • Memihak pengalaman manusia tertindas
  • Menjadikan realitas sebagai titik tolak tafsir

Seperti wahyu yang pertama turun:

Iqra’
bukan “hafalkan”,
tetapi bacalah realitas.

Empirisme mengajarkan:
bahwa kebenaran tidak lahir dari langit abstrak,
melainkan dari tanah yang diinjak manusia,
dari peluh, luka, dan pengalaman hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Komisi I DPRD KBB Tinjau Lokasi Bencana di Desa Kertawangi, Sandi Supyandi: “Negara Tidak Boleh Absen di Tengah Derita Warga”

30 Januari 2026 - 16:03 WIB

Doa Solidaritas dan Rakerancab GP Ansor Cipeundeuy Teguhkan Kepedulian Kemanusiaan dan Konsolidasi Organisasi

25 Januari 2026 - 15:34 WIB

Ketika Dunia Mengutuk, Langit Mencatat

25 Januari 2026 - 08:45 WIB

Ketika Akal Menggugat Takhta Langit: Rasionalisme dan Awal Modernitas

22 Januari 2026 - 08:41 WIB

Cahaya yang Tak Pernah Padam: Haul Pendiri dan Masyayikh Al-Masthuriyah 2026

18 Januari 2026 - 03:50 WIB

Trending di Collection