Nuqtoh.or.id, Rabu 14 Januari 2026 – Nasihat ini kami terima bukan dari ruang seminar, bukan pula dari mimbar yang tinggi, melainkan dari sebuah rumah yang teduh oleh doa dan jejak riyadhah. Ia mengalir dalam suasana silaturrahim, saat waktu melambat dan kata-kata ditimbang dengan hikmah. Nasihat ini kami dapatkan dari salah satu Dewan Penasehat PC GP Ansor Kabupaten Sukabumi, Abuya Anom H. Enjen Zaini Dahlan, putera ke-7 dari 12 bersaudara, buah didikan dan darah perjuangan Almaghfurlah Abuya KH. Ruyani Al Muktafa, seorang alim yang hidupnya adalah kitab berjalan, dan diamnya adalah pelajaran.
Beliau menuturkan dengan bahasa sederhana, namun sarat makna, bahwa hidup, termasuk ibadah, usaha, dan perjuangan, harus disinkronkan antara dzohir dan batin. Jangan timpang, jangan berat sebelah. Sebab ketimpangan melahirkan kelelahan, dan kelelahan melahirkan kegelisahan. Dzohir tanpa batin ibarat daging ayam tanpa bumbu: besar, mahal, tampak mengenyangkan, tetapi hambar dan cepat dilupakan. Sedangkan batin yang hidup, meski dalam wadah yang sederhana, laksana teri kecil yang dimasak dengan rasa-murah, bersahaja, namun justru dicari dan dirindukan.

Sinkronisasi dzohiriyah dan batiniyah adalah inti dari kehidupan yang utuh. Ia bukan sekadar soal sah atau tidaknya ibadah, bukan pula hanya tentang besar kecilnya usaha, tetapi tentang hidup atau matinya makna dalam setiap langkah manusia. Keduanya laksana daging ayam dan teri di dapur kehidupan. Ayam adalah simbol kekuatan, modal, struktur, dan bentuk yang sempurna. Teri adalah simbol rasa, keikhlasan, niat, dan sentuhan batin. Ayam tanpa bumbu tetaplah ayam—mahal, besar, dan mengenyangkan secara teori—namun ia hambar, kering, dan cepat dilupakan. Sementara teri yang kecil dan murah, ketika dibumbui dengan tepat, justru dipilih, dicari, dan dirindukan. Bukan karena ia lebih tinggi derajatnya, tetapi karena ia menghadirkan rasa.
Begitulah amal dzohir tanpa batin. Shalat yang tegak tanpa khusyuk, puasa yang panjang tanpa pengendalian nafsu, dzikir yang ramai tanpa kehadiran hati—semuanya sah dalam hukum, tetapi sering tak sampai ke jiwa. Ia seperti daging ayam tanpa rempah: benar bentuknya, namun belum menyentuh rasa. Sebaliknya, batin yang hidup oleh ikhlas, tawadhu’, dan cinta kepada Allah dan Rasulullah ﷺ, meski amalnya sederhana, justru memancarkan kehangatan dan keteduhan. Innamal a‘mālu binniyyāt amal menjadi hidup karena niat, sebagaimana masakan menjadi bermakna karena bumbu.
Dalam pandangan Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah, dzohir dan batin tidak pernah dipertentangkan. Syariat adalah wadah, thariqah adalah jalan, dan hakikat adalah rasa yang tumbuh di dalamnya. Bumbu tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan ayam, tetapi untuk menyempurnakannya. Sebab ayam tanpa bumbu memang tetap ayam, namun ayam berbumbu menjadi hidangan yang layak dihidangkan dan dinikmati. Di situlah agama tidak berhenti sebagai aturan, tetapi menjelma menjadi kehidupan.
Prinsip ini tidak hanya berlaku di sajadah, tetapi juga di pasar, di sawah, di kantor, dan di jalan usaha manusia. Usaha yang dzohirnya besar—gedung megah, sistem rapi, omzet tinggi—namun batinnya kosong dari niat lillāh, kejujuran, dan doa, sering hanya menjadi daging mahal yang mengenyangkan ego, tetapi tidak menenteramkan jiwa. Ia tampak maju, namun mudah rapuh. Sebaliknya, usaha kecil yang dijalankan dengan batin yang terawat—jujur dalam timbangan, santun dalam pelayanan, sabar dalam proses—sering lebih awet, lebih dipercaya, dan lebih berkah. Ia seperti teri berbumbu: sederhana, cepat matang, mudah diterima, dan lama melekat di hati.
Sinkronisasi dzohir dan batin menjadikan usaha bukan hanya besar, tetapi juga cepat bertumbuh. Kerja keras adalah dzohiriyah; doa, ikhlas, dan tawakal adalah batiniyah. Ketika keduanya berjalan seiring, tidak ada energi yang bocor. Hati yang bersih tidak sibuk dengan iri dan takut berlebihan. Jiwa yang tenang melahirkan pikiran jernih, keputusan tepat, dan langkah mantap. Inilah mengapa usaha yang disertai shalawat, adab kepada guru, dan doa orang tua sering terasa dimudahkan—bukan karena jalannya lebih pendek, tetapi karena bebannya lebih ringan.
Banyak orang berlari kencang secara dzohir, tetapi tersandung oleh batinnya sendiri. Ambisi tanpa niat membuat langkah berat dan hasil terasa jauh. Seperti ayam mahal yang dipaksa matang cepat tanpa bumbu, ia mungkin siap saji, tetapi tidak menggugah selera. Sebaliknya, usaha yang disinkronkan antara dzohir dan batin ibarat masakan yang api dan bumbunya seimbang: cepat matang, lezat, dan menyehatkan. Percepatan sejati lahir dari keseimbangan, bukan dari kerakusan.
Hidup manusia pun demikian. Jabatan, gelar, dan pengaruh adalah ayam—besar dan bernilai. Namun adab, akhlak, dan tawadhu’ adalah bumbu. Jabatan tanpa adab melahirkan ketakutan, bukan hormat. Kekuasaan tanpa batin melahirkan kegaduhan, bukan ketenteraman. Sebaliknya, orang yang sederhana namun berakhlak, meski seperti teri, justru menjadi lauk harian kehidupan sosial—selalu dicari, selalu dibutuhkan.
Militansi Islam An-Nahdliyah terletak pada kesetiaan menjaga keseimbangan ini. Setia pada syariat tanpa mengeringkan rasa, setia pada tradisi tanpa kehilangan daya juang. Ngaji jalan terus, usaha jalan terus, jamaah dirawat, akhlak dijaga. Inilah jihad sunyi yang diwariskan para kiai: jihad menata batin di tengah kerasnya dunia, jihad menjaga rasa di tengah bisingnya ambisi.
Ketika dzohir dan batin benar-benar sejalan, kebahagiaan tidak lagi menunggu hasil akhir. Bahagia hadir di proses, tenang menyertai ikhtiar, ridha mendahului kepemilikan. Bekerja terasa sebagai ibadah, ibadah melahirkan akhlak, dan akhlak menjelma jalan hidup. Doa mempercepat yang tak mampu dipercepat oleh logika, ikhlas memendekkan jalan yang panjang, dan tawakal menenangkan hati saat hasil belum tiba.
Seperti dapur pesantren yang sederhana: tak pernah mewah, tetapi tak pernah kehabisan rasa. Asapnya mungkin tipis, namun apinya terus menyala. Di sanalah dzohir dan batin bersatu—usaha tumbuh lebih cepat, hidup terasa lapang, dan bahagia tidak lagi dicari di garis akhir, melainkan hadir dalam setiap langkah perjalanan menuju Allah.
Penulis : Moch Fahmi Amiruddin













