YOGYAKARTA – Kabar membanggakan datang dari keluarga besar Pondok Pesantren Al-Masthuriyah, Sukabumi, Jawa Barat. Salah satu alumninya, M. Diaz Habibie, resmi terpilih sebagai Presiden Mahasiswa (Presma) Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melalui mekanisme Pemilihan Mahasiswa (Pemilwa) 2025. Diaz dijadwalkan akan mengemban amanah tersebut untuk masa khidmat tahun 2026.
Kemenangan ini mencatatkan sejarah bagi putra daerah Sukabumi yang kini menempuh pendidikan di Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) angkatan 2022. Keberhasilan Diaz memimpin organisasi kemahasiswaan tertinggi di kampus tersebut merupakan buah dari konsistensi dan dedikasinya dalam berorganisasi sejak usia muda.

Profil dan Rekam Jejak Organisasi Kepemimpinan Diaz telah ditempa kuat sejak berada di lingkungan pondok pesantren. Saat mengenyam pendidikan menengah atas di PDF Ulya Al-Masthuriyah, ia dikenal sangat aktif dan menjabat sebagai Wakil Ketua PK IPNU PDF Ulya Al-Masthuriyah. Tak hanya di lingkungan sekolah, ia juga dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua KASIPA (Keluarga Santri Pondok Pesantren Al-Masthuriyah) pada periode 2020-2021.
Kiprahnya di organisasi Nahdlatul Ulama terus berlanjut hingga saat ini, di mana ia tercatat sebagai pengurus aktif di Pimpinan Cabang (PC) IPNU Kabupaten Sukabumi yang membidangi Koordinator Departemen Organisasi.
Di lingkungan kampus, Diaz memiliki rekam jejak yang cemerlang, di antaranya:
- Ketua HMPS BKI UIN Sunan Kalijaga (2024).
- Koordinator Biro Kaderisasi PMII Rayon Pondok Syahadat FDK (2024-2025).
- Ketua DEMA Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga (2025).
Visi Kepemimpinan dalam keterangannya, Diaz Habibie menekankan bahwa amanah besar ini tidak terlepas dari doa dan bimbingan para kiai serta asatidz di Pondok Pesantren Al-Masthuriyah. Ia berkomitmen untuk membawa marwah pesantren ke dalam pergerakan mahasiswa.
“Saya berharap dapat menjaga nilai-nilai pesantren dalam kepemimpinan ini, serta menjadikan DEMA UIN Sunan Kalijaga sebagai ruang perjuangan yang beretika, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama,” ujar Diaz.
Terpilihnya Diaz menjadi simbol keberhasilan pendidikan pesantren dalam mencetak kader pemimpin yang mampu bersaing di level universitas nasional dengan tetap memegang teguh adab dan nilai keislaman.










