Menu

Mode Gelap
“Habib Syarief: 4 Pilar Bukan Sekadar Materi, Tapi Jalan Menyelamatkan Anak Indonesia” “Saat Polarisasi Menguat, 4 Pilar Didorong Jadi Kompas Moral Bangsa” Di Antara Nafas dan Langkah: Mencari Arah Hidup dalam Cermin Kebermanfaatan DPR RI Habib Syarief : Menakar Kebijakan PPPK Paruh Waktu: Antara Efektivitas, Keadilan, dan Beban Anggaran Negara ” Ketika Piring Lebih Diutamakan dari Pikiran “ Menguji Keadilan PPPK Paruh Waktu di Bandung Raya

Artikel

Refleksi Hari Kemerdekaan Republik Indonesia: Merdeka dalam Pandangan Ama KH. Mahmud Mudrikah Hanafi

badge-check


					Refleksi Hari Kemerdekaan Republik Indonesia: Merdeka dalam Pandangan Ama KH. Mahmud Mudrikah Hanafi Perbesar

Nuqtoh.or.id, Sukabumi 06 Agustus 2025 – Setiap tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia mengenang hari sakral kemerdekaannya dari penjajahan. Namun di tengah gema upacara, sorak perayaan, dan simbol-simbol nasionalisme, ada seorang ulama sepuh yang selalu mengajak umat untuk menyelami makna kemerdekaan secara ruhani dan hakiki — Beliau adalah Almaghfurlah Ama KH. Mahmud Mudrikah Hanafi, pengasuh Pondok Pesantren Siqoyaturrahmah Selajambu, Selabintana Sukabumi.

Bagi beliau, kemerdekaan bukan hanya terbebas dari penjajahan fisik, tetapi lebih dalam dari itu: bebas dari kebodohan, hawa nafsu, dan penghambaan kepada selain Allah SWT.

“Banyak yang merdeka negaranya, tapi jiwanya masih terjajah oleh dunia,” begitu pesan beliau kepada para santri setiap menjelang 17 Agustus.

Merdeka Melalui Ilmu dan Adab

Ama KH. Mahmud selalu menekankan bahwa salah satu bentuk kemerdekaan tertinggi bagi umat adalah kemerdekaan berpikir dan memahami agama secara lurus. Maka, beliau memperjuangkan pendidikan Islam berbasis kitab kuning agar santri mampu membaca dunia dengan lensa wahyu dan warisan ulama.

Dalam setiap pengajian, beliau sering mengutip kisah para ulama klasik yang hidup dalam tekanan, tapi tetap merdeka karena ilmunya.

“Santri harus belajar seperti para mujahid. Membaca itu jihad. Menghafal itu perjuangan. Mengamalkan ilmu adalah kemerdekaan sejati,” ucapnya dalam satu pengajian Jami’ al-Jawami’.

Pesantren Sebagai Benteng Kemerdekaan

Bagi Ama KH.Mahmud, pondok pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, tapi benteng kebudayaan, spiritualitas, dan kedaulatan umat. Beliau percaya, selama pesantren hidup, maka ruh kemerdekaan Indonesia akan tetap menyala.

Di momen kemerdekaan, beliau tidak menggelar perayaan meriah, tetapi mengajak santri mengkhatamkan Qur’an, berdoa untuk para syuhada, dan merenungi peran pesantren dalam perjuangan bangsa.

“Negeri ini tidak dibebaskan dengan kekuatan senjata semata, tapi juga oleh para kiai dan santri yang berjuang dengan doa, ilmu, dan keyakinan,” ungkap beliau dalam haul perjuangan kemerdekaan yang digelar pondok.

Teladan Cinta Tanah Air yang Hening

Ama KH. Mahmud tidak pernah berteriak soal nasionalisme, tetapi membuktikannya lewat pengabdian. Mengajar setiap hari, mendidik ratusan santri, membangun pendidikan tanpa pamrih, dan menjaga nilai Islam dalam bingkai keindonesiaan — itulah bentuk cinta tanah air yang diajarkannya.

Santri-santri beliau dididik untuk menjadi insan yang bermanfaat bagi agama dan bangsa. Santri yang sejati adalah yang siap mengabdi, bukan hanya untuk pondok, tapi juga untuk umat dan negeri, demikian nasehat beliau dalam setiap acara Tafaruqon.

Warisan Kemerdekaan dalam Diam

Kini, setelah beliau wafat pada 17 Ramadhan 1444 H / 7 April 2023M, pesan-pesan tentang kemerdekaan dari Ama KH. Mahmud tidak lagi kita dengar secara langsung. Namun semangatnya terus hidup dalam tradisi pesantren, pada setiap tilawah di malam kemerdekaan, pada setiap santri yang mengaji dengan semangat membebaskan diri dari kejahilan, dan pada setiap guru yang mengajar dengan cinta dan adab.

“Jika engkau ingin menjaga kemerdekaan bangsa, maka jagalah kemerdekaan jiwamu dari kebodohan dan hawa nafsu. Ilmu dan adab adalah kunci sejatinya.”
> — Ama KH. Mahmud Mudrikah Hanafi

Renungan Hari Kemerdekaan

Ama KH. Mahmud mengajarkan kita bahwa merdeka bukan sekadar bebas secara hukum, tapi bebas secara jiwa, akal, dan akhlak. Dan pesantren adalah medan tempur senyap bagi perjuangan itu.

Semoga refleksi ini menjadi pengingat, bahwa mengenang kemerdekaan berarti melanjutkan perjuangan — dengan ilmu, dengan doa, dan dengan keteladanan.

______

Penulis : Moch Fahmi Amiruddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

“Habib Syarief: 4 Pilar Bukan Sekadar Materi, Tapi Jalan Menyelamatkan Anak Indonesia”

17 Maret 2026 - 15:55 WIB

“Saat Polarisasi Menguat, 4 Pilar Didorong Jadi Kompas Moral Bangsa”

16 Maret 2026 - 13:43 WIB

Di Antara Nafas dan Langkah: Mencari Arah Hidup dalam Cermin Kebermanfaatan

12 Maret 2026 - 22:03 WIB

DPR RI Habib Syarief : Menakar Kebijakan PPPK Paruh Waktu: Antara Efektivitas, Keadilan, dan Beban Anggaran Negara

8 Maret 2026 - 17:25 WIB

” Ketika Piring Lebih Diutamakan dari Pikiran “

1 Maret 2026 - 18:34 WIB

Trending di News