Bandung, 14 Desember 2025 – Ketika ruang publik kian bising oleh polarisasi dan informasi yang saling menegasikan, wacana kebangsaan menghadapi ujian serius. Di hadapan kader GP Ansor Kota Bandung, Anggota MPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Habib Syarief Muhammad, menempatkan pemuda sebagai penentu arah: apakah Empat Pilar kebangsaan akan tetap hidup, atau sekadar menjadi jargon konstitusional yang kehilangan daya.
Dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang digelar di Kantor GP Ansor Kota Bandung, Habib Syarief menegaskan bahwa tantangan kebangsaan hari ini tidak lagi bertumpu pada ancaman ideologis klasik. Ancaman itu justru hadir dalam bentuk yang lebih cair, arus informasi tanpa saring, politik identitas, hingga disinformasi yang menggerus kepercayaan sosial.

“Empat Pilar tidak cukup dibaca sebagai teks normatif. Ia harus menjadi etika sosial dan kompas moral, terutama bagi generasi muda yang hidup di ruang digital,” ujar Habib Syarief. Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, menurut dia, hanya akan bermakna jika diterjemahkan ke dalam sikap dan narasi yang membumi. (14/12/2025)
Ia melihat pemuda bukan lagi sekadar pewaris nilai kebangsaan, melainkan produsen wacana di ruang publik. Media sosial, yang kerap menjadi ladang polarisasi, justru harus direbut sebagai arena penyemaian narasi persatuan. Dalam konteks ini, Habib Syarief menilai GP Ansor memiliki posisi strategis: organisasi kepemudaan yang berakar pada nilai keagamaan, namun berpengalaman merawat toleransi dan kebinekaan.
Pilihan GP Ansor sebagai mitra sosialisasi menyiratkan pesan penting: kebangsaan dan keagamaan bukan dua kutub yang saling meniadakan. Justru, kata Habib Syarief, penguatan Empat Pilar akan kehilangan makna jika terlepas dari praktik sosial dan spiritual masyarakat.
Diskusi yang mengemuka memperlihatkan pergeseran medan perjuangan kebangsaan. Intoleransi, fragmentasi sosial, dan krisis kepercayaan publik tidak lagi hadir sebagai konflik terbuka, melainkan mengendap dalam percakapan digital dan relasi sehari-hari. Di sinilah peran pemuda diuji—apakah memilih menjadi penonton, atau mengambil peran sebagai penjaga nilai.
Menutup kegiatan, Habib Syarief menekankan bahwa masa depan Empat Pilar tidak ditentukan oleh seberapa sering ia disosialisasikan, melainkan oleh sejauh mana generasi muda bersedia menjadikannya nilai hidup. “Di tangan pemuda, Empat Pilar bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi tanggung jawab yang terus diuji oleh zaman,” katanya.
Di tengah bangsa yang sedang mencari kembali simpul-simpul kebersamaan, peran pemuda menjadi krusial. Bukan hanya untuk merawat ingatan kolektif tentang Indonesia, tetapi untuk memastikan bahwa kebangsaan tetap relevan di tengah perubahan yang tak pernah berhenti.
Penulis : Ikbal Fauzan









