Menu

Mode Gelap
Peringatan Harlah ke-100 Nahdlatul Ulama MWCNU Kecamatan Waluran Merawat Akar, Menjemput Fajar: Ziarah Ruhani Santri Nurul Huda Menyusuri Jejak Masyayikh Sukabumi dalam Menyambut Ramadhan Di Antara Bara dan Rahim Bumi: Sukabumi Menakar Energi dalam Timbangan Maslahat Jejak Sunyi Seorang Santri Keteguhan Hati Menapaki Magister di Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung Latihan Kader Kepemimpinan OSIP PDF Al-Masthuriyah Digelar, Perkuat Kepemimpinan Berintegritas Mahasiswa Doktoral Pendidikan Islam Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung Menjadi Pelatih Program IHT Pendidikan Karakter Pancawaluya Disdik Jawa Barat

Daerah

Merawat Akar, Menjemput Fajar: Ziarah Ruhani Santri Nurul Huda Menyusuri Jejak Masyayikh Sukabumi dalam Menyambut Ramadhan

badge-check


					Merawat Akar, Menjemput Fajar: Ziarah Ruhani Santri Nurul Huda Menyusuri Jejak Masyayikh Sukabumi dalam Menyambut Ramadhan Perbesar

Sukabumi, Nuqtoh.or.id | 15/02/2026 — Menyongsong datangnya bulan suci Ramadhan 1447 H, keluarga besar Pondok Pesantren Nurul Huda Yaspin menggelar agenda ziarah ruhani ke sejumlah pesantren dan maqbarah para masyayikh di Sukabumi. Kegiatan ini menjadi ikhtiar kolektif untuk menata niat, membersihkan batin, serta menyambung kembali sanad keilmuan sebelum memasuki bulan penuh rahmat dan ampunan.

Namun sebelum melangkah ke pesantren-pesantren lain, rombongan terlebih dahulu menundukkan hati di pusara almaghfurlah KH. Asep Saeful Alam, pendiri Pondok Pesantren Nurul Huda. Ziarah kepada pendiri menjadi titik mula—sebuah simbol bahwa setiap gerak ke luar harus diawali dengan kembali ke akar; setiap langkah dakwah mesti berpijak pada tanah perjuangan guru sendiri.

Di hadapan maqbarah beliau, ratusan santri putra-putri bersama jajaran asatidz dan pimpinan pesantren, Drs. KH. Abdul Aziz, melantunkan tahlil dan doa dengan khidmat. Hening menyelimuti area pemakaman. Angin pagi berembus pelan, seolah ikut mengantarkan salam generasi hari ini kepada generasi perintis yang telah lebih dahulu menyemai benih ilmu.

KH. Asep Saeful Alam dikenang sebagai sosok yang membangun pesantren ini dengan kesederhanaan, ketekunan, dan visi keumatan yang kuat. Dari tanah yang dahulu sunyi, beliau menumbuhkan taman ilmu; dari keterbatasan sarana, beliau melahirkan kader-kader yang kini tersebar mengabdi di tengah masyarakat. Warisan terbesarnya bukan hanya bangunan fisik, melainkan ruh perjuangan dan keteladanan.

“Ziarah ini bukan sekadar tradisi, tetapi pengingat jati diri. Kita berdiri hari ini karena ada doa dan pengorbanan para guru. Maka sebelum kita melangkah lebih jauh, kita harus memastikan hati kita tetap terhubung dengan mereka,” ujar KH. Abdul Aziz dalam tausiyah singkatnya.

Ziarah ini menjadi bagian dari proses tazkiyatun nafs—pensucian jiwa—menjelang Ramadhan. Para santri diajak memahami bahwa menyambut bulan suci tidak cukup dengan persiapan administratif dan jadwal ibadah semata, melainkan dengan kejernihan niat dan kesadaran sejarah. Ramadhan adalah madrasah ruhani; dan madrasah itu hanya akan bermakna bagi hati yang siap ditempa.

Di pusara pendiri pesantren, para santri belajar bahwa perjuangan merawat ilmu adalah ibadah panjang yang tidak terputus oleh kematian. Sanad keilmuan tidak berhenti pada nisan; ia terus hidup melalui murid-murid yang menjaga amanah.

Dari maqbarah pendiri, rombongan melanjutkan perjalanan ruhani ke sejumlah pesantren di Sukabumi yang selama ini dikenal sebagai penjaga tradisi salaf dan pengajaran kitab kuning.

Ziarah pertama dilakukan ke Pondok Pesantren Sunanul Huda. Di kompleks pesantren tersebut, para santri kembali meneguhkan doa dan harapan agar diberi kekuatan dalam menuntut ilmu serta istiqamah dalam menjaga adab.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Pondok Pesantren Al-Masthuriyah, Pondok Pesantren Assalafiyah 1 dan Pondok Pesantren Assalafiyah 2, Pondok Pesantren Sirojul Athfal, Pondok Pesantren Sabilul Huda, Pondok Pesantren Miftahussa’adah, Pondok Pesantren Syamsul ‘Ulum, hingga ditutup di Pondok Pesantren Siqoyaturrahmah dengan doa bersama. Semua Pesantren ini dikenal konsisten menjaga transmisi turats klasik.

Di setiap titik ziarah, lantunan tahlil dan doa menjadi benang merah yang mengikat seluruh perjalanan. Para santri diingatkan bahwa keberkahan Ramadhan akan semakin sempurna jika diisi dengan tilawah Al-Qur’an, qiyamul lail, pendalaman kitab, serta peningkatan khidmah sosial.

KH. Abdul Aziz menegaskan bahwa ziarah ini adalah pelajaran tentang kesinambungan dan tanggung jawab sejarah.

“Para masyayikh telah menyalakan api ilmu dan perjuangan. Tugas kita menjaga agar api itu tetap menyala, terutama saat memasuki Ramadhan—bulan ketika hati diuji, disiplin ditempa, dan niat diperbarui,” ujarnya.

Bagi para santri, perjalanan ini bukan hanya rangkaian kunjungan, melainkan pengalaman batin yang membekas. Mereka tidak sekadar melihat nisan-nisan, tetapi membaca sejarah panjang ketekunan; tidak sekadar menadahkan tangan, tetapi menata komitmen untuk menjadi generasi penerus yang amanah.

Ziarah ini menegaskan satu hal: pesantren hidup karena sanadnya dijaga, karena adabnya dirawat, dan karena hubungan murid dengan guru tidak terputus oleh ruang dan waktu. Menjelang Ramadhan, keluarga besar Pondok Pesantren Nurul Huda Yaspin memilih untuk kembali ke sumber cahaya—agar ketika bulan suci tiba, mereka tidak hanya siap secara ritual, tetapi juga matang secara spiritual dan historis.

Dari pusara pendiri hingga jejak para masyayikh Sukabumi, perjalanan ini menjadi pernyataan sunyi namun tegas: bahwa Ramadhan bukan sekadar momentum tahunan, melainkan kelanjutan dari estafet cahaya yang diwariskan para ulama kepada generasi penerusnya.

___________
Editor : Jihan Muhammad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. Sunan saniyansah

    Masya Allah

    Balas
semua sudah ditampilkan
Baca Lainnya

Peringatan Harlah ke-100 Nahdlatul Ulama MWCNU Kecamatan Waluran

15 Februari 2026 - 19:22 WIB

Di Antara Bara dan Rahim Bumi: Sukabumi Menakar Energi dalam Timbangan Maslahat

13 Februari 2026 - 18:13 WIB

foto : istimewa (hanya ilustrasi)

Jejak Sunyi Seorang Santri Keteguhan Hati Menapaki Magister di Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung

13 Februari 2026 - 14:11 WIB

Foto Istimewa

Latihan Kader Kepemimpinan OSIP PDF Al-Masthuriyah Digelar, Perkuat Kepemimpinan Berintegritas

12 Februari 2026 - 12:38 WIB

Mahasiswa Doktoral Pendidikan Islam Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung Menjadi Pelatih Program IHT Pendidikan Karakter Pancawaluya Disdik Jawa Barat

11 Februari 2026 - 08:38 WIB

Foto Istimewa Humas SMKN 2 Cilaku
Trending di Daerah