Cianjur — Upaya penguatan pendidikan karakter di jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) terus diperkuat melalui Program In House Training (IHT) Pendidikan Karakter Pancawaluya yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Program ini ditetapkan melalui Surat Perintah Disdik Jabar tahun 2025 dan dilaksanakan di berbagai satuan pendidikan, termasuk di wilayah Kabupaten Cianjur.
Keterlibatan sebagai pelatih dalam program tersebut mencerminkan sinergi antara pengembangan keilmuan di perguruan tinggi dengan implementasi kebijakan pendidikan di tingkat satuan pendidikan. Sebagai akademisi yang menekuni bidang Pendidikan Islam, pendekatan yang dibangun dalam IHT tidak hanya menekankan aspek manajerial dan pedagogis, tetapi juga integrasi nilai-nilai spiritual, etika, dan kearifan lokal dalam penguatan karakter peserta didik.
Salah satu narasumber yang mendapatkan amanah dalam program tersebut adalah Fardan Abdul Basith, dosen sekaligus mahasiswa studi doktoral (S3) Prodi Pendidikan Islam Konsentrasi Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, serta pemuda inovatif asal Kabupaten Cianjur. Penugasan ini merupakan bentuk apresiasi atas kapasitas akademik dan kontribusi nyata dalam pengembangan pendidikan, khususnya pada penguatan tata kelola dan budaya mutu berbasis karakter, konsistensinya dalam dunia Pendidikan sudah ia laksanakan semenjak lulus S2 dari kampus yang sama dengan terus berupaya mendorong generasi pemuda untuk sadar terhadap pentingnya Pendidikan melalui Gerakan literasi dan sadar aktif berkomunitas di Tingkat desa.
Sebagai dosen di STAI AL-Masthuriyyah Kabupaten Sukabumi, Fardan memiliki tanggung jawab tridarma perguruan tinggi yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Keterlibatannya sebagai pelatih dalam IHT Pendidikan Karakter Pancawaluya menjadi manifestasi konkret dari pengabdian akademik yang Ter Integrasi dengan kebutuhan riil satuan pendidikan. Pendekatan yang digunakan tidak hanya bersifat normatif, tetapi berbasis kajian ilmiah manajemen pendidikan dan kepemimpinan transformatif yang relevan dengan konteks SMK.
Pelaksanaan IHT di wilayah Cianjur Selatan diselenggarakan di SMKN 1 Leles dan SMKN 1 Cijati. Kegiatan ini difokuskan pada penguatan kapasitas guru dalam menginternalisasikan nilai-nilai Pancawaluya yaitu; cageur, bageur, bener, pinter, jeung singer ke dalam perencanaan pembelajaran, strategi pembinaan siswa, serta pengembangan budaya sekolah. Melalui forum diskusi reflektif dan praktik kolaboratif, para pendidik didorong untuk merekonstruksi paradigma pendidikan karakter sebagai sistem yang terintegrasi dalam manajemen sekolah.
Memasuki awal tahun 2026, rangkaian program IHT Pendidikan Karakter Pancawaluya dilanjutkan di SMKN 2 Cilaku pada tanggal 3–4 Februari 2026. Kegiatan ini menjadi momentum strategis dalam menyelaraskan kebijakan pendidikan karakter dengan agenda besar pembangunan sumber daya manusia menuju Generasi Emas 2045. Dalam sesi pelatihan, ditegaskan bahwa SMK memiliki peran krusial dalam mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten secara vokasional, tetapi juga memiliki integritas, etos kerja, dan daya adaptasi tinggi terhadap perubahan global.
Secara konseptual, program ini sejalan dengan kerangka Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 4 tentang Quality Education, yang menekankan pendidikan inklusif, bermutu, dan pembelajaran sepanjang hayat. Pendidikan karakter berbasis Pancawaluya memperkuat dimensi non-kognitif yang menjadi bagian penting dari kompetensi abad ke-21, seperti kolaborasi, integritas, tanggung jawab sosial, dan ketahanan diri. Selain itu, penguatan karakter juga berkontribusi pada SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pembentukan lulusan SMK yang tidak hanya kompeten secara vokasional, tetapi juga memiliki etos kerja dan integritas profesional.
Dalam perspektif nasional, pendekatan ini selaras dengan agenda Indonesia Development Goals (IDGs) yang menekankan pembangunan manusia unggul dan berdaya saing sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045. Investasi pada pendidikan karakter di tingkat SMK menjadi strategi jangka panjang dalam memperkuat kualitas tenaga kerja produktif dan berintegritas, khususnya di daerah.
Lebih lanjut, kajian terbaru UNESCO melalui laporan Global Education Monitoring (GEM) Report dan rekomendasi terkait Education for Sustainable Development (ESD) menegaskan bahwa pendidikan abad ke-21 harus mengintegrasikan nilai, etika, keberlanjutan, dan tanggung jawab global dalam kurikulum dan tata kelola sekolah. UNESCO juga menekankan pentingnya transformative education, yakni pendidikan yang tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi mentransformasi pola pikir dan perilaku menuju keberlanjutan sosial dan ekologis. Dalam konteks ini, Pendidikan Karakter Pancawaluya memiliki relevansi kuat sebagai model lokal yang kontekstual namun berorientasi global.
Sebagai akademisi yang sedang menempuh studi doktoral, Fardan memposisikan diri sebagai fasilitator reflektif yang menjembatani teori dan praktik. Perspektif manajemen pendidikan yang dikembangkan dalam studi doktoralnya diintegrasikan dengan pengalaman empiris di lapangan, sehingga pelatihan tidak hanya bersifat konseptual, tetapi aplikatif dan kontekstual. Hal ini memperkuat peran dosen sebagai agen perubahan sosial yang berkontribusi langsung dalam peningkatan mutu pendidikan daerah.
Keterlibatan aktif sebagai narasumber IHT juga mencerminkan komitmen generasi muda daerah dalam membangun kualitas pendidikan di Cianjur. Sinergi antara kapasitas akademik, semangat kepemudaan, dan tanggung jawab profesional sebagai dosen menjadi fondasi dalam mendorong lahirnya SDM unggul yang berkarakter.
Kepercayaan yang diberikan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat kepada mahasiswa doktoral Pendidikan Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini menjadi bukti bahwa kontribusi akademisi muda memiliki peran strategis dalam transformasi pendidikan daerah. Sinergi antara kapasitas intelektual, komitmen spiritual, dan semangat kepemudaan diharapkan mampu memperkuat ekosistem pendidikan yang berkarakter, adaptif, dan berorientasi pada keberlanjutan.
Melalui implementasi Pendidikan Karakter Pancawaluya secara sistematis dan berkelanjutan, diharapkan tercipta ekosistem SMK yang adaptif, berintegritas, dan visioner. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pembangunan pendidikan Jawa Barat dalam menyiapkan generasi unggul, berdaya saing, dan berakhlak mulia menuju Indonesia Emas 2045.












