Menu

Mode Gelap
” Ketika Piring Lebih Diutamakan dari Pikiran “ Menguji Keadilan PPPK Paruh Waktu di Bandung Raya 364 Hari di Singgasana Amanah: Bupati dan Wakil Bupati Sukabumi, Antara Visi dan Jejak Nyata BARISAN ANSOR SERBAGUNA (BANSER) KABUPATEN SUKABUMI MENDUKUNG PENUH POLRI DI BAWAH NAUNGAN PRESIDEN RI Peringatan Harlah ke-100 Nahdlatul Ulama MWCNU Kecamatan Waluran Merawat Akar, Menjemput Fajar: Ziarah Ruhani Santri Nurul Huda Menyusuri Jejak Masyayikh Sukabumi dalam Menyambut Ramadhan

News

” Ketika Piring Lebih Diutamakan dari Pikiran “

badge-check

Ketika Piring Lebih Diutamakan dari Pikiran: Saatnya Anggaran MBG Berpihak pada Guru Honorer

 

Pendidikan bukan sekadar soal perut yang kenyang, tetapi tentang pikiran yang tercerahkan. Bangsa ini hari ini seolah berdiri di persimpangan: memberi makan tubuh anak-anak kita, atau menguatkan jiwa dan akal mereka melalui guru yang sejahtera.

 

Program MBG hadir dengan niat mulia,mengisi piring siswa agar tak belajar dalam lapar. Namun pertanyaannya sederhana dan menggugat: ” apakah cukup memberi makan tanpa menguatkan yang mengajar? ”

 

Guru honorer hari ini adalah fondasi yang retak namun terus dipaksa menopang bangunan besar bernama pendidikan nasional. Mereka berdiri di depan kelas dengan gaji yang sering kali lebih kecil dari biaya hidup minimum. Mereka diminta profesional, tetapi diperlakukan seperti relawan. Mereka dituntut mencetak generasi emas, namun kesejahteraan mereka sendiri berkarat.

 

Di ruang-ruang kelas itu, ada guru yang sepulang mengajar masih harus mencari tambahan penghasilan. Ada yang mengoreksi tugas dengan lelah yang bukan hanya fisik, tetapi juga batin. Bagaimana mungkin kita berharap mutu pendidikan melesat, jika para pendidiknya terus bergulat dengan kecemasan ekonomi?

 

MBG adalah kebijakan konsumtif yang berulang setiap hari. Anggaran mengalir seperti air habis, lalu diisi lagi, habis lagi. Sementara kesejahteraan guru adalah investasi produktif. Sekali diperkuat, dampaknya menjalar bertahun-tahun. Satu guru yang sejahtera bisa mengubah ratusan, bahkan ribuan kehidupan siswa sepanjang kariernya.

 

Makanan adalah energi jangka pendek.

Guru adalah energi jangka panjang.

 

Jika negara benar-benar ingin membangun generasi unggul, maka keberanian politik harus diuji: beranikah kita mengalihkan sebagian anggaran MBG untuk memperbaiki nasib guru honorer?

 

Bukan berarti meniadakan program gizi. Tetapi keadilan anggaran harus ditimbang dengan nalar strategis. Karena pendidikan bukan hanya soal nutrisi biologis, tetapi juga nutrisi intelektual dan moral.

 

Bayangkan jika sebagian dana itu digunakan untuk:

  • Menaikkan honor guru honorer hingga layak hidup.
  • Memberi pelatihan pedagogik berkualitas.
  • Menjamin jaminan sosial dan kepastian kerja.
  • Menghapus ketimpangan struktural antara guru ASN dan non-ASN.

 

Kita sering berbicara tentang “Indonesia Emas”. Namun emas tidak lahir dari dapur saja. Ia ditempa di ruang kelas, oleh guru yang fokus, bermartabat, dan sejahtera.

 

Jika pendidikan adalah pohon masa depan bangsa, maka guru adalah akarnya. Memberi pupuk pada daun tanpa memperkuat akar adalah ilusi kebijakan. Hijau mungkin tampak sesaat, tetapi rapuh di dalam.

 

Ini bukan sekadar soal anggaran.

Ini soal keberpihakan.

Ini soal keadilan struktural.

 

Karena pada akhirnya, sejarah akan mencatat:

Apakah kita memilih mengenyangkan hari ini, atau membangun kecerdasan untuk esok hari?

 

Dan bangsa yang besar seharusnya mampu melakukan keduanya dengan prioritas yang berpihak pada mereka yang setiap hari berdiri di depan kelas, menjaga nyala ilmu agar tak padam.

 

Jika guru kuat, bangsa kokoh.

Jika guru sejahtera, masa depan terjaga.

Penulis: ceo. Wesbeul

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Menguji Keadilan PPPK Paruh Waktu di Bandung Raya

24 Februari 2026 - 10:04 WIB

364 Hari di Singgasana Amanah: Bupati dan Wakil Bupati Sukabumi, Antara Visi dan Jejak Nyata

19 Februari 2026 - 13:55 WIB

BARISAN ANSOR SERBAGUNA (BANSER) KABUPATEN SUKABUMI MENDUKUNG PENUH POLRI DI BAWAH NAUNGAN PRESIDEN RI

16 Februari 2026 - 06:31 WIB

Merawat Akar, Menjemput Fajar: Ziarah Ruhani Santri Nurul Huda Menyusuri Jejak Masyayikh Sukabumi dalam Menyambut Ramadhan

15 Februari 2026 - 09:20 WIB

Jejak Sunyi Seorang Santri Keteguhan Hati Menapaki Magister di Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung

13 Februari 2026 - 14:11 WIB

Foto Istimewa
Trending di News