Menu

Mode Gelap
Di Antara Bara dan Rahim Bumi: Sukabumi Menakar Energi dalam Timbangan Maslahat Jejak Sunyi Seorang Santri Keteguhan Hati Menapaki Magister di Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung Latihan Kader Kepemimpinan OSIP PDF Al-Masthuriyah Digelar, Perkuat Kepemimpinan Berintegritas Mahasiswa Doktoral Pendidikan Islam Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung Menjadi Pelatih Program IHT Pendidikan Karakter Pancawaluya Disdik Jawa Barat Ketika Akal Menolak Berlutut: Pencerahan, Moral Otonom, dan Martabat Manusia Ketika Negara “Tak Tahu”: Polemik Guru Swasta dan Ujian Konsistensi Kemenag

Opini

Jejak Sunyi Seorang Santri Keteguhan Hati Menapaki Magister di Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung

badge-check


					Foto Istimewa Perbesar

Foto Istimewa

Perjalanan menempuh pendidikan magister bukan sekadar proses akademik yang diukur oleh indeks prestasi dan kelulusan tepat waktu. Lebih dari itu, ia adalah perjalanan batin sebuah proses pendewasaan intelektual, spiritual, dan sosial. Dari sudut pandang seorang sahabat, saya menyaksikan bagaimana seorang santri melangkah dengan kesadaran penuh dalam menapaki jenjang Magister di Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Sebagai santri, ia tidak datang ke ruang kuliah hanya membawa buku dan laptop, tetapi juga membawa adab, tradisi talaqqi, dan kesadaran bahwa ilmu adalah cahaya. Ia memahami bahwa ilmu tidak sekadar dicari, tetapi harus “dijemput” dengan kerendahan hati. Prinsip menapak dengan ikhlas menjadi fondasi langkahnya tidak tergesa-gesa, tidak tergoda hasil instan, dan tidak menjadikan gelar sebagai tujuan akhir.

Kuliah bukan sekadar soal gelar ungkapnya, melainkan tentang keteguhan hati menapaki proses panjang yang sering kali sunyi dari tepuk tangan. Sebagai sahabat yang menyaksikan dari dekat perjuangannya, saya melihat bagaimana Kamaludin, S.Kom., M.Pd., melangkah dalam dunia akademik dengan karakter khas seorang santri: sabar, tawadhu, dan teguh pada adab sebelum ilmu. Latar belakang kepesantrenannya bukan hanya identitas, tetapi fondasi etika berpikir dan bertindak dalam menempuh studi S2 pada Program Studi Manajemen Pendidikan Islam.

Ia meyakini bahwa segala bentuk usaha tak akan pernah sia-sia. Prinsip itu bukan sekadar kalimat motivatif, melainkan energi spiritual yang menggerakkan langkahnya. Dalam banyak kesempatan, saya melihat ia memilih untuk tidak tergesa-gesa. Sebagaimana adagium yang sering dikaitkan dengan Imam Al-Ghazali, “Ilmu tanpa adab adalah kesesatan, dan adab tanpa ilmu adalah kehampaan.” Ia memahami bahwa ilmu tidak ramah pada mereka yang ingin instan; ia hanya tunduk pada kesungguhan dan kesabaran.

Di tengah tuntutan akademik yang kompleks, ia memegang prinsip bahwa sesuatu yang diperoleh secara instan akan cepat hilang maknanya. Semangat ini sejalan dengan pemikiran Ibnu Khaldun tentang pentingnya proses bertahap dalam pembelajaran (tadarruj). Setiap tugas, riset, dan diskusi dijalani sebagai proses pembentukan diri, bukan sekadar kewajiban administratif.

Hal yang paling menonjol dari dirinya adalah penghormatan kepada orang tua, guru, dosen, dan para senior. Ia memahami bahwa keberkahan ilmu terletak pada adab kepada mereka yang menjadi perantara pengetahuan. Prinsip ini mengingatkan pada ungkapan Imam Syafi’i: “Aku membuka lembaran kitab dengan perlahan di hadapan guruku agar tidak mengganggu beliau.” Sikap hormat itu bukan formalitas, melainkan kesadaran spiritual bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya hanya menetap di hati yang bersih dari kesombongan.

Dalam prosesnya, ia belajar untuk tidak mudah tersinggung, tidak “baperan”, serta mampu menerima kritik sebagai sarana perbaikan. Ia menyadari bahwa perjalanan akademik adalah ruang pembentukan mental sekaligus intelektual. Di sinilah relevansi pesan Ki Hajar Dewantara terasa kuat: “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Ia belajar menjadi teladan, membangun semangat di tengah proses, dan siap memberi dorongan bagi generasi berikutnya.

Sebagai seorang sahabat dan mengenal karakter Anda, Fardan Abdul Basith, yang juga tumbuh dalam kultur akademik dan nilai-nilai keislaman—saya melihat kesamaan komitmen pada kesungguhan proses dan orientasi kontribusi. Kamaludin menjalani studi bukan semata untuk capaian personal, tetapi sebagai investasi intelektual demi kemajuan pendidikan Islam di Indonesia. Ia menjaga kesehatan jasmani dan rohani, memahami bahwa tubuh yang lelah dan jiwa yang rapuh dapat menghambat visi besar. Ia belajar menyayangi dirinya sendiri, karena dari pribadi yang utuh lahir dedikasi yang berkelanjutan.

Perjalanan S2 itu akhirnya bukan hanya tentang tesis yang selesai, melainkan tentang karakter yang ditempa. Ia membuktikan bahwa kesabaran, keikhlasan, penghormatan kepada guru, serta ketekunan yang konsisten akan berbuah manis pada waktunya.

Narasi ini bukan sekadar kisah seorang santri meraih gelar magister, tetapi refleksi bahwa generasi bangsa membutuhkan keteladanan: tidak tergesa-gesa, tidak instan, beradab, ikhlas, tangguh, sehat lahir batin, dan terus berusaha selama kesempatan masih terbuka.

Dengan ketekunan dan ketelatenan dalam menuntaskan risetnya sebagai bentuk pertanggungjawabannya dalam menyandang gelar M.Pd, tentu ini kan menjadi motivasi besar bagi generasi muda yang lainnya, khususnya para santri yang sedang mondok, sejatinya dia telah membuktikan bahwa santri juga bisa bikin Tesis loh, dan satu kata tentang sebuah proses pedagogis dari santri ialah harus melek pembelajaran abad 21 yang serba digital, dalam konteks ini penelitian tesisnya yang berfokus kepada Sistem Informasi Manajemen (SIM) tentu sebuah kebaharuan dan kemajuan dalam perkembangan ilmu pengetahuan, “Empiris Studi”  yang diambil tentu relevan untuk digunakan dilembaga Pondok Pesantren di seluruh Indonesia umumnya, dan khususnya di Pondok Pesantren tempat ia teliti sebagai objek.

Sebagai lulusan Ma’had ‘aly dan telah menyandang gelar “ustadz” di Pondok Pesantren AL-Musri Pusat yang berlokasi di Kabupaten Cianjur, perlu diketahui bahwa pesantren Al-Musri Pusat tersebut merupakan Lembaga yang telah lama berkontribusi dalam membangun SDM bangsa melalui Pendidikan, serta para alumninya telah banyak berkontribusi kepada Masyarakat yang tersebar di Nusantara bahkan di luar negeri. setiap tahun di Pondok Pesantren Al-Musri tercatat tidak kurang dari 2.000 santri yang mukim.

Perjalanan Panjang seorang santri yang saat ini telah menyelesaikan studinya dengan penuh intuitif itu, kini saya dapat merasakan betul ikatan batiniahnya terhadap kemuliaan ilmu dan kepada para guru, apalagi saat perjalanannya mendapatkan gelar harus berpacu dengan kesedihan mendalam saat ayahanda tercintanya berpulang kerahmatullah. Setelah sebelumnya ia ditinggalkan ibunya, namun tekad kuatnya untuk membahagiakan kedua orang tuanya ia buktikan dengan kesolihan sosial, kesedihan ia sembunyikan dalam ketekunan dan kecakapannya dalam mengemas benang kusut antara batin dan rasionalitasnya.

Kamaludin juga menunjukan kompetensinya tenaga pendidik yang kompeten dan memiliki “mother think” di bidang Bahasa inggris, maka ia dipercai mengampunya sebagai tutor bahasa bagi para santri ditempatnya ia menepa ilmu sampai saat ini semenjak ia mengabdi di Pondok Pesantren. Realitas yang kemudian menjadi latar belakannya itulah yang memicu semangatnya untuk menjadi Insan yang haus akan ilmu pengetahuan. seperti yang telahh ia baca dalam buku “Dunia Shopy” sebagai triger awal pada saat ia berkeinginan melanjutkan studi magisternya.,

pada karakter ia saya teringat Sebagaimana sering dikatakan oleh Albert Einstein, “It’s not that I’m so smart, it’s just that I stay with problems longer.” Ketekunanlah yang membedakan mereka yang berhasil dari yang menyerah di tengah jalan.

Dan pada akhirnya, segala usaha memang tidak pernah sia-sia selama ia ditopang oleh iman, ilmu, dan akhlak. Hal tersebut menjadi deferensiasi bagi para mahasiswa tingkat strata 2 yang lainnya, namun bukan mendeskriditkan dalam sikap dan emosional, yang berbeda dari seorang santri akademisi Adalah pendekatannya menggunakan pendekatan pengetahuan, ansich dari kepentingan politis. Dan itu sebuah pendekatan yang menjadi kekuatannya dalam membangun prinsip ilmu pengetahuan.

Pada akhirnya teruslah berjalan pada rel yang telah dibuat dan jangan pernah menitipkan perjuangan pengetahuan dan ilmu kepada orang lain, apalagi kepada siapapun yang tidak bertanggung jawab terhadap keberlangsungan perkembangan ilmu pengetahuan, karena kejujuran atas ilmu Adalah bentuk sikap sadar dan insyaf untuk mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa yang saat ini kita harus jaga nafas perjuangannya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. Kamaludin

    Masyaalloh terimakasih banyak teruntuk kang Fardan Abdul Basit .. suatu kebanggaan bagi saya atas tulisan yang sangat mendalam ini .. terimakasih banyak atas bimbingannya selama studi S2 ini .. semoga keberkahan selalu menyertai kang Fardan dan keluarga aaamiiin

    Balas
semua sudah ditampilkan
Baca Lainnya

Di Antara Bara dan Rahim Bumi: Sukabumi Menakar Energi dalam Timbangan Maslahat

13 Februari 2026 - 18:13 WIB

foto : istimewa (hanya ilustrasi)

Latihan Kader Kepemimpinan OSIP PDF Al-Masthuriyah Digelar, Perkuat Kepemimpinan Berintegritas

12 Februari 2026 - 12:38 WIB

Mahasiswa Doktoral Pendidikan Islam Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung Menjadi Pelatih Program IHT Pendidikan Karakter Pancawaluya Disdik Jawa Barat

11 Februari 2026 - 08:38 WIB

Foto Istimewa Humas SMKN 2 Cilaku

Ketika Akal Menolak Berlutut: Pencerahan, Moral Otonom, dan Martabat Manusia

10 Februari 2026 - 11:40 WIB

Ketika Negara “Tak Tahu”: Polemik Guru Swasta dan Ujian Konsistensi Kemenag

9 Februari 2026 - 14:32 WIB

Trending di Artikel