Bandung — Di sebuah kelas SD di Kota Bandung, anak-anak menatap papan tulis yang retak, sementara cahaya dari jendela yang kusam hanya cukup untuk membaca sedikit buku yang terbatas. Di sinilah mereka belajar, menulis, dan bermimpinmeski setiap langkah terasa berat karena keterbatasan yang seolah menahan masa depan mereka.
Kisah ini mengemuka dalam reses Anggota DPR RI Komisi X, Habib Syarief Muhammad, di hadapan guru-guru dan kepala sekolah yang selama ini bekerja keras di tengah keterbatasan. Suara guru terdengar penuh haru, namun tegas: “Kami ingin anak-anak belajar dengan sepenuh hati, tapi fasilitasnya tidak memadai. Kadang mengajar tanpa papan tulis yang layak atau alat peraga cukup membuat kami putus asa,” ujar seorang guru dengan mata berkaca-kaca.

Bagi Habib, ini bukan sekadar keluhan. Ini adalah alarm bagi negara. Di balik label Bandung sebagai kota pendidikan, tersimpan wajah anak-anak yang harus berjuang di ruang yang sempit, dengan buku yang kurang, laboratorium yang kosong, dan sarana belajar yang jauh dari standar. “Setiap anak yang belajar dalam keterbatasan adalah kehilangan peluang. Negara harus hadir, bukan hanya di papan statistik, tapi di setiap kelas,” katanya dengan nada penuh kepedulian.
Reses ini menghadirkan kontras tajam antara janji dan kenyataan. Guru-guru menyuarakan rasa frustrasi sekaligus harapan. Kehadiran Habib Syarief Muhammad bukan hanya menjadi simbol politik, tapi momen nyata bagi mereka untuk didengar. Kepala sekolah menambahkan, “Selama ini, suara kami sering terabaikan. Hari ini, kami merasa ada yang peduli.”
Habib menekankan bahwa intervensi nyata tidak bisa menunggu. Distribusi sarana pendidikan harus sesuai kebutuhan riil, kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah harus berjalan, dan perhatian terhadap guru sebagai ujung tombak pendidikan harus diperkuat. “Pendidikan bukan sekadar anggaran atau proyek simbolis. Ini hak anak dan tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.
Di balik papan tulis yang retak dan kursi yang ringkih, tersimpan harapan bangsa. Setiap buku yang kurang dan laboratorium yang kosong adalah tantangan yang harus dihadapi, bukan dilewati. Bagi Habib, mendengar guru dan anak bukan sekadar agenda resmi. Ini adalah panggilan moral: jika anak-anak belajar dalam keterbatasan, masa depan mereka pun dipertaruhkan.
Dan di ruang itu, di antara suara-suara yang penuh haru, tersirat pesan tegas: pendidikan bukan sekadar formalitas, tetapi perjuangan nyata—untuk memberi anak-anak kesempatan setara meraih impian mereka, di kota yang mengklaim dirinya sebagai kota pendidikan.









