Bandung, di tengah hiruk-pikuk politik nasional dan riuh perdebatan di ruang digital, Anggota MPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Habib Syarief Muhammad, memilih ruang yang sunyi namun sarat makna: Panti Yatim Saleha, Bandung. Di tempat itu, Sabtu, 13 Desember 2025, ia menyosialisasikan Empat Pilar MPR RI—bukan sebagai formalitas konstitusional, melainkan sebagai ikhtiar menanamkan nilai kebangsaan pada generasi yang kerap luput dari sorotan negara.
Bagi Habib Syarief, Empat Pilar—Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika—tidak boleh berhenti sebagai wacana elite. Nilai-nilai itu, menurut dia, justru harus hadir di ruang-ruang sosial paling dasar, termasuk panti asuhan, tempat anak-anak membangun pemahaman awal tentang diri, masyarakat, dan negara.

“Penguatan karakter dan toleransi adalah fondasi menjaga persatuan bangsa. Itu harus dimulai sejak dini, tanpa memandang latar belakang sosial,” kata Habib Syarief. Pernyataan ini sekaligus menyinggung realitas zaman: ketika ketimpangan sosial dan banjir informasi berpotensi membentuk generasi muda yang rapuh secara identitas.
Pilihan lokasi sosialisasi memunculkan pesan politik yang lebih luas. Di tengah meningkatnya polarisasi, intoleransi, dan krisis empati di ruang publik, negara ditantang untuk memastikan bahwa pendidikan kebangsaan tidak eksklusif bagi mereka yang beruntung secara ekonomi dan akses. Anak-anak panti asuhan, yang tumbuh di tengah keterbatasan, justru membutuhkan kehadiran negara dalam bentuk nilai dan perhatian.
Sosialisasi berlangsung dalam suasana hangat dan dialogis. Anak-anak panti mengikuti kegiatan dengan antusias, menyimak pemaparan sekaligus terlibat dalam percakapan sederhana tentang makna persatuan, kebersamaan, dan saling menghormati. Bagi pengelola Panti Yatim Saleha, kegiatan ini bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan suntikan motivasi dan pengakuan bahwa anak-anak panti adalah bagian utuh dari masa depan bangsa.
Dalam konteks yang lebih luas, sosialisasi Empat Pilar di ruang sosial seperti panti asuhan memperlihatkan pergeseran pendekatan: dari sekadar penyampaian norma konstitusional menuju internalisasi nilai. Tantangan kebangsaan hari ini tidak lagi hanya soal ideologi, tetapi juga soal ketahanan karakter di tengah perubahan sosial yang cepat dan sering kali tidak ramah.
Menutup kegiatan, Habib Syarief menegaskan harapannya agar nilai-nilai kebangsaan tidak berhenti di ruang acara. “Empat Pilar adalah tanggung jawab bersama. Ia hidup ketika dipraktikkan dalam sikap saling menghargai dan menjaga persatuan,” ujarnya, (13/12/2025)
Dari Panti Yatim Saleha, pesan itu mengalir: masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan di pusat kekuasaan, tetapi juga di ruang-ruang kecil tempat nilai kebangsaan pertama kali ditanamkan dan diuji oleh kehidupan.









