Bandung — Di tengah menguatnya polarisasi dan rapuhnya literasi kebangsaan generasi muda, Anggota MPR RI Fraksi PKB, Habib Syarief Muhammad, menegaskan bahwa negara tak boleh terlambat menanamkan nilai dasar berbangsa.
Hal itu ia sampaikan dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di SMP Assalaam Bandung, 7 Februari 2026. Bagi Habib Syarief, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar materi seremonial, melainkan fondasi karakter yang harus diinternalisasi sejak usia sekolah.

“Karakter dan toleransi tidak lahir tiba-tiba. Ia dibentuk melalui pendidikan dan keteladanan,” ujarnya.
Memilih menyasar siswa SMP dinilai strategis. Pada fase inilah, nalar kritis mulai tumbuh dan identitas kebangsaan diuji oleh derasnya arus informasi digital. Jika negara abai, ruang itu akan diisi narasi yang memecah.
Diskusi berlangsung interaktif, melibatkan guru dan siswa, dengan penekanan pada praktik konkret: membangun empati, menghargai perbedaan, dan menjaga persatuan dalam keseharian.
Langkah ini sekaligus menjadi penegasan bahwa penguatan kebangsaan tak cukup berhenti pada regulasi. Ia harus hadir di ruang kelas—di saat karakter sedang dibentuk, bukan setelah krisis terjadi.
Penulis : M. Hilman Pradestia










