Menu

Mode Gelap
Ketika Akal Menolak Berlutut: Pencerahan, Moral Otonom, dan Martabat Manusia Ketika Negara “Tak Tahu”: Polemik Guru Swasta dan Ujian Konsistensi Kemenag PAC Fatayat NU Cikalongwetan Gelar Seminar Fiqih Perempuan, Ketua PP GP Ansor H. Affan Rozi Tekankan Disiplin Organisasi dan Gerak Kolektif Kader PC GP Ansor Kabupaten Sukabumi Resmi Launching Media Nuqtoh PC GP Ansor Sukabumi Lakukan Penanaman Simbolis 12.000 Pohon, Teguhkan Khidmah untuk Kelestarian Alam

Kajian

Ketika Akal Menolak Berlutut: Pencerahan, Moral Otonom, dan Martabat Manusia

badge-check


					Ketika Akal Menolak Berlutut: Pencerahan, Moral Otonom, dan Martabat Manusia Perbesar

Penulis : Moch Fahmi Amiruddin

Dari Empirisme ke Pencerahan: Rasio yang Bangkit dari Luka Sejarah

Abad ke-17 hingga ke-18 adalah masa ketika Eropa berdiri di atas puing-puing otoritas lama. Gereja kehilangan mahkota absolutnya, raja-raja mulai digugat, dan manusia—yang selama berabad-abad tunduk pada dogma metafisika—mulai bertanya: siapakah aku, dan atas dasar apa aku harus patuh?

Empirisme (John Locke, George Berkeley, David Hume) telah lebih dahulu mengguncang fondasi rasionalisme. Locke (1632–1704) membuka tabir dengan tabula rasa, menegaskan bahwa pengetahuan lahir dari pengalaman. Berkeley (1685–1753) mengguncang realitas dengan idealisme subjektif—esse est percipi. Lalu Hume (1711–1776) datang sebagai badai skeptisisme, meruntuhkan kausalitas, Tuhan metafisik, dan kepastian rasio itu sendiri.

Namun empirisme, sebagaimana revolusi yang kehilangan arah, berakhir pada jurang skeptisisme. Jika segala sesuatu hanya pengalaman, lalu di mana fondasi kebenaran universal? Di sinilah sejarah melahirkan Filsafat Pencerahan (Aufklärung)—sebuah usaha menyelamatkan rasio tanpa kembali pada dogma, dan membebaskan manusia tanpa menenggelamkannya dalam relativisme.

Pencerahan bukan kelahiran yang suci; ia adalah anak dari krisis.

Immanuel Kant (1724–1804): Sang Mujahid Rasio

Immanuel Kant berdiri di persimpangan sejarah. Ia membaca Hume dan mengaku, “Hume membangunkan saya dari tidur dogmatis.” Tetapi Kant tidak tunduk pada skeptisisme. Ia memilih jalan tengah: kritik.

Kant tidak bertanya apa itu realitas, melainkan bagaimana mungkin pengetahuan tentang realitas. Inilah revolusi kopernikan dalam filsafat: bukan pikiran yang mengelilingi objek, tetapi objek yang harus tunduk pada struktur pikiran manusia.

Dalam Critique of Pure Reason (1781, edisi kedua 1787), Kant melakukan sintesis rasio dan empirisme:

  • Dari empirisme: pengetahuan berangkat dari pengalaman.
  • Dari rasionalisme: pengalaman harus diolah oleh struktur apriori rasio.

Rasio, bagi Kant, bukan raja absolut, tetapi hakim konstitusional.

Rasio bukan Tuhan, tetapi juga bukan budak indera.

Sintesis Rasio & Empirisme: Ilmu sebagai Kerja Kolektif Manusia

Kant membagi pengetahuan menjadi:

  • A posteriori: berasal dari pengalaman
  • A priori: struktur bawaan pikiran (ruang, waktu, kausalitas)

Manusia tidak sekadar menerima dunia, tetapi mengonstruksinya secara rasional. Dunia fenomenal adalah hasil kerja antara realitas dan subjek manusia. Ini adalah filsafat yang diam-diam revolusioner: kebenaran tidak turun dari langit, tetapi lahir dari kerja sadar manusia.

Dalam nuansa Islam, ini sejajar dengan gagasan khalifah: manusia bukan objek sejarah, melainkan subjek aktif yang memikul amanah rasio dan etika.

Kritik Metafisika: Membongkar Tuhan-Tuhan Kekuasaan

Kant mengkritik metafisika tradisional yang berbicara tentang Tuhan, jiwa, dan dunia seakan-akan itu objek sains. Bagi Kant:

  • Tuhan tidak bisa dibuktikan secara teoretis
  • Jiwa tidak bisa dipastikan secara metafisik
  • Alam semesta tidak bisa disimpulkan secara absolut

Namun ini bukan ateisme, melainkan pembebasan iman dari manipulasi rasio spekulatif. Kant memisahkan:

  • Rasio teoretis (apa yang bisa diketahui)
  • Rasio praktis (apa yang harus dilakukan)

Di sinilah metafisika lama runtuh—bukan untuk meniadakan makna, tetapi untuk mengakhiri penindasan simbolik. Tuhan tidak lagi alat legitimasi kekuasaan, tetapi horizon etis.

Sebagaimana Islam menolak Tuhan yang dijadikan tameng tirani, Kant menolak metafisika yang membungkam kebebasan.

Moral Otonom: Etika sebagai Tindakan Pembebasan

Dalam Critique of Practical Reason (1788) dan Groundwork of the Metaphysics of Morals (1785), Kant melahirkan konsep moral otonom.

Manusia bermoral bukan karena takut neraka atau berharap surga, tetapi karena kesadaran rasional akan kewajiban.

Prinsipnya adalah Imperatif Kategoris:

Bertindaklah sedemikian rupa sehingga prinsip tindakanmu dapat dijadikan hukum universal.

Ini adalah etika tanpa tuan, tanpa imam absolut, tanpa raja moral.

Dalam nuansa Islam, ini sejajar dengan:

  • tauhid sebagai pembebasan
  • penolakan terhadap feodalisme moral
  • keadilan sebagai hukum universal, bukan privilese elite

Manusia tidak tunduk karena dipaksa, tetapi karena sadar—taat karena merdeka.

Tema Besar Pencerahan: Kebebasan, Rasionalitas, Etika Universal

  1. Kebebasan
    Kebebasan bukan anarki, melainkan ketaatan pada hukum yang disusun oleh rasio sendiri. Ini kebebasan yang bertanggung jawab, bukan kebebasan pasar yang rakus.
  2. Rasionalitas
    Rasio bukan alat dominasi, tetapi sarana emansipasi. Rasionalitas adalah cahaya yang membongkar mitos, ideologi, dan ketakutan palsu.
  3. Etika Universal
    Etika tidak boleh eksklusif. Moral tidak boleh tunduk pada kelas, ras, agama formal, atau kekuasaan. Etika harus berlaku bagi semua—sebagaimana keadilan Ilahi yang melampaui sekat identitas.

Tokoh-Tokoh Filsafat Pencerahan Lain

1. Jean-Jacques Rousseau (1712–1778)

➡️ Kebebasan dan kehendak umum (general will)
Manusia lahir merdeka, tetapi dirantai oleh sistem sosial.

2. Voltaire (1694–1778)

➡️ Kritik fanatisme agama dan absolutisme
Rasionalitas sebagai senjata melawan tirani simbolik.

3. Denis Diderot (1713–1784)

➡️ Ensiklopedia sebagai proyek emansipasi pengetahuan
Ilmu untuk rakyat, bukan elite.

4. Gotthold Ephraim Lessing (1729–1781)

➡️ Toleransi agama dan progres moral manusia
Wahyu harus dibaca secara rasional dan historis.

Penutup: Pencerahan sebagai Jalan Panjang Pembebasan

Filsafat Pencerahan bukan akhir sejarah, tetapi ikhtiar etis. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak boleh menyerahkan akalnya pada tirani, tidak boleh menyerahkan imannya pada dogma mati, dan tidak boleh menyerahkan moralnya pada elite.

Dalam bahasa majaz:
Pencerahan adalah subuh yang dingin—belum matahari penuh, tetapi cukup terang untuk membedakan kebenaran dan kebohongan.

Dan dalam ruh Islam :
Rasio yang kritis adalah bagian dari ibadah, etika universal adalah bentuk tauhid sosial, dan kebebasan adalah amanah sejarah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ketika Negara “Tak Tahu”: Polemik Guru Swasta dan Ujian Konsistensi Kemenag

9 Februari 2026 - 14:32 WIB

PAC Fatayat NU Cikalongwetan Gelar Seminar Fiqih Perempuan,

8 Februari 2026 - 06:43 WIB

Ketua PP GP Ansor H. Affan Rozi Tekankan Disiplin Organisasi dan Gerak Kolektif Kader

7 Februari 2026 - 13:38 WIB

PC GP Ansor Kabupaten Sukabumi Resmi Launching Media Nuqtoh

7 Februari 2026 - 13:32 WIB

PC GP Ansor Sukabumi Lakukan Penanaman Simbolis 12.000 Pohon, Teguhkan Khidmah untuk Kelestarian Alam

7 Februari 2026 - 13:27 WIB

Trending di Artikel