Bandung Barat — Pelaksanaan Program Makanan Bergizi (MBG) kembali menjadi sorotan setelah hasil monitoring dan evaluasi lapangan mengungkap adanya ketidaksesuaian penggunaan jenis susu yang didistribusikan kepada penerima manfaat. Sejumlah titik pendistribusian ditemukan masih menggunakan susu berkadar gula tinggi, yang tidak sesuai dengan standar gizi yang telah ditetapkan pemerintah.
Padahal, sejak awal pelaksanaan program, MBG menegaskan bahwa susu yang direkomendasikan adalah susu full cream, yaitu susu dengan kandungan lemak alami, protein, dan vitamin yang lebih seimbang. Jenis ini dinilai lebih efektif dalam mendukung kebutuhan energi harian serta tumbuh kembang anak, khususnya dalam rangka pencegahan stunting dan peningkatan kualitas gizi keluarga penerima manfaat.

Ketidaksesuaian Terungkap Lewat Monitoring Terstruktur
Temuan ini muncul setelah tim pengawas melakukan serangkaian inspeksi di beberapa sekolah, posyandu, dan titik distribusi MBG lainnya. Dari hasil pengecekan, ditemukan bahwa sebagian petugas lapangan tanpa disadari memilih produk susu yang lebih mudah ditemukan atau lebih murah, namun ternyata memiliki kadar gula tambahan yang tinggi dan kandungan gizi yang tidak sesuai kebutuhan program.
Tim gizi daerah menilai bahwa susu tinggi gula hanya memberikan “kalori kosong” tanpa manfaat signifikan, dan bahkan berisiko meningkatkan konsumsi gula berlebih pada anak.
“Penggunaan produk tinggi gula jelas tidak sejalan dengan tujuan program MBG. Fokus kita bukan hanya memberikan susu, tetapi memastikan susu tersebut benar-benar bernutrisi dan memberikan dampak kesehatan yang positif,” ujar Kepala Tim Pengawasan Gizi MBG.
Pemerintah Tegaskan: Hanya Susu Full Cream yang Memenuhi Standar
Menanggapi temuan tersebut, Kepala Program MBG Kabupaten Bandung Barat, Ahmad Zulfikar, menekankan bahwa pemerintah akan memperketat proses pengadaan serta memberikan instruksi ulang terkait standar produk yang wajib digunakan.
“Kami menemukan beberapa produk yang tidak memenuhi standar gizi, terutama yang mengandung gula tambahan tinggi. Karena itu, kami menegaskan kembali bahwa hanya susu full cream yang boleh digunakan. Ini bukan sekadar aturan teknis, tetapi bagian penting dari upaya meningkatkan kualitas gizi masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa susu full cream memiliki kandungan lemak alami yang membantu penyerapan vitamin A, D, E, dan K, serta memberikan energi yang lebih stabil sepanjang hari.
“Kami ingin memastikan setiap anak yang menerima program ini benar-benar mendapatkan manfaat maksimal. Jangan sampai niat baik pemerintah justru tidak tepat sasaran hanya karena pemilihan produk yang kurang sesuai,” tegasnya.
Penerima Manfaat Akui Manfaat Susu Full Cream Lebih Terasa
Sejumlah orang tua, guru, dan kader posyandu juga mengakui perbedaan nyata saat anak-anak mengonsumsi susu full cream. Mereka menyebutkan bahwa anak lebih kenyang lebih lama, lebih bertenaga, dan tidak mengalami lonjakan gula yang biasanya terjadi setelah minum susu manis.
“Anak-anak terlihat lebih aktif dan tidak mudah lapar. Beda sekali dengan susu manis yang hanya bikin mereka cepat haus,” ujar Rina, salah satu kader posyandu di Kecamatan Cihampelas.
Pengakuan ini semakin memperkuat keyakinan bahwa susu full cream adalah pilihan paling tepat untuk program MBG.
Akan Ada Perbaikan Panduan Teknis dan Sosialisasi Ulang
Sebagai tindak lanjut, pemerintah daerah bersama tim MBG berencana mengeluarkan panduan teknis terbaru untuk memastikan tidak ada lagi kekeliruan dalam pemilihan produk. Selain itu, pengawasan lapangan akan diperketat, terutama pada proses pengadaan barang oleh pihak sekolah, posyandu, atau pihak ketiga lainnya.
Sosialisasi ulang juga akan dilakukan kepada seluruh petugas dan pendamping lapangan.
“Kami tidak ingin temuan seperti ini terulang. Semua petugas harus memahami bahwa kualitas gizi adalah prioritas utama,” kata Ahmad Zulfikar.
Komitmen MBG untuk Tepat Gizi dan Tepat Sasaran
Program MBG disusun sebagai langkah strategis pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, terutama anak-anak usia sekolah dan balita. Dengan memperbaiki standar penggunaan susu menjadi lebih ketat dan berbasis data, program ini diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih optimal.
Temuan lapangan ini menjadi pengingat bahwa pengawasan mutu perlu terus diperkuat. Pemerintah menegaskan komitmennya untuk memastikan setiap produk yang dibagikan benar-benar sesuai standar gizi, tepat sasaran, dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.










